Puisi-puisi Sinduputra | Waktunya untuk Mencintai

Sinduputra
by Sinduputra — Januari 03, 2026 in Puisi

Tatkala.co

WAKTUNYA UNTUK MENCINTAI

waktunya untuk kembali mencintai hujan
menanamnya ke sebatang pohon

seperti tersimpan dalam pantun dan gurindam
hujan adalah anime air mata

langit menangis pada kemarau
seperti ditemukan di tengah lagu anak-anak

pohon menjadi rumah singgah bagi hujan
sebelum melanjutkan perjalanan ke laut lepas

seperti api tungkus lumus bertemu air
waktunya untuk kembali mencintai hujan

2025

BURUNG BERKABUNG UNTUK SEORANG PENYAIR

bulan sabit merah di langit
ad summa ad terra

hidup terkadang lebih gelap dari puisi
lebih abstrak dari lukisan. lebih absurd dari teater

berbicara dari masa lalu dunia nyata
matahari menghilang di antara kabel serat optik

bulan hitam. bulan putih
hanyut tenggelam ke ufuk maut

burung berkabung untuk seorang penyair
yang tidak lagi sanggup menulis puisi

2025

RITUS KUDA API

    #1000 hari ULP#

kau beri warna angin pada kuda api
kuda dari masa kanak-kanakmu

kuda merah. kuda putih. kuda hitam
kau lukis dengan debu di tanah kering

kau beri uap api pada kuda api
kuda yang menggaris laut dan gunung

kuda angin. kuda air. kuda api
kau pacu dengan hening dalam kesunyianmu

kau beri aroma air pada kuda api
kuda pada sajak hari tuamu

2025

TAHUN TANPA MUSIM HUJAN

jangan ganggu puisiku. ½ lingkaran
dari lingkaran daur ulang mimpi basah

siapa yang menjagaku
lapuk sendirian menulis puisi

di penangkaran buaya muara
dan lumba-lumba airtawar

di sungai yang mengering
di kegelapan malam

aku menyandang demam seumur hidup
sepanjang tanah yang mencair

menyalakan cahaya di malam abadi
ketika hujan tidak menyentuh tanah

aku mintakan doa peluruh rindu
jamur yang tumbuh di bawah tanah

aku menemukan rahasia patina ini
tahun tanpa musim hujan

2025

AKU MELUKIS WAJAH BUMI

aku mengusap wajahku
hujan asam. keringkan peluh wajahku

wajah. yang bukan wajahku
tapi wajahmu :

kelinci air. penderita cacar api
lapar wortel bunga

tanganku beku
kabut asap bekukan tanganku

tangan yang tak kuasa
memetik lagi, hari yang hijau

1000 bulan. bumi tanpa bulan
1001 malam. bumi tanpa malam

tanganku hanya menuliskan puisi
sebuah sajak. satu bait, satu kata

tanpa tanda baca
tergenang air mata. puisi itu terbakar

2025

.

Penulis: Sinduputra
Editor: Adnyana Ole

Tag: Puisi
Avatar

Sinduputra

Related Posts
Dongeng

Takut Galungan

BY Dede Putra Wiguna Juni 27, 2026

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...

Read More