Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
waktunya untuk kembali mencintai hujan
menanamnya ke sebatang pohon
seperti tersimpan dalam pantun dan gurindam
hujan adalah anime air mata
langit menangis pada kemarau
seperti ditemukan di tengah lagu anak-anak
pohon menjadi rumah singgah bagi hujan
sebelum melanjutkan perjalanan ke laut lepas
seperti api tungkus lumus bertemu air
waktunya untuk kembali mencintai hujan
2025
bulan sabit merah di langit
ad summa ad terra
hidup terkadang lebih gelap dari puisi
lebih abstrak dari lukisan. lebih absurd dari teater
berbicara dari masa lalu dunia nyata
matahari menghilang di antara kabel serat optik
bulan hitam. bulan putih
hanyut tenggelam ke ufuk maut
burung berkabung untuk seorang penyair
yang tidak lagi sanggup menulis puisi
2025
#1000 hari ULP#
kau beri warna angin pada kuda api
kuda dari masa kanak-kanakmu
kuda merah. kuda putih. kuda hitam
kau lukis dengan debu di tanah kering
kau beri uap api pada kuda api
kuda yang menggaris laut dan gunung
kuda angin. kuda air. kuda api
kau pacu dengan hening dalam kesunyianmu
kau beri aroma air pada kuda api
kuda pada sajak hari tuamu
2025
jangan ganggu puisiku. ½ lingkaran
dari lingkaran daur ulang mimpi basah
siapa yang menjagaku
lapuk sendirian menulis puisi
di penangkaran buaya muara
dan lumba-lumba airtawar
di sungai yang mengering
di kegelapan malam
aku menyandang demam seumur hidup
sepanjang tanah yang mencair
menyalakan cahaya di malam abadi
ketika hujan tidak menyentuh tanah
aku mintakan doa peluruh rindu
jamur yang tumbuh di bawah tanah
aku menemukan rahasia patina ini
tahun tanpa musim hujan
2025
aku mengusap wajahku
hujan asam. keringkan peluh wajahku
wajah. yang bukan wajahku
tapi wajahmu :
kelinci air. penderita cacar api
lapar wortel bunga
tanganku beku
kabut asap bekukan tanganku
tangan yang tak kuasa
memetik lagi, hari yang hijau
1000 bulan. bumi tanpa bulan
1001 malam. bumi tanpa malam
tanganku hanya menuliskan puisi
sebuah sajak. satu bait, satu kata
tanpa tanda baca
tergenang air mata. puisi itu terbakar
2025
.
Penulis: Sinduputra
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...