17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
CERMIN itu retak di sisi kanan atas, seperti hatiku yang dulu. Tiap pagi aku menatap pantulanku, mencari bagian dari diriku yang bisa kusukai, tetapi yang kutemukan hanyalah mata sayu, kulit gelap, tubuh kurus, dan rambut keriting yang tumbuh tak teratur. Kata-kata dari masa lalu menggema di dalam kepalaku—"jelek", "aneh", "nggak laku", "malu-maluin".
"Aku ingin jadi seperti mereka," bisikku setiap pagi. Mereka yang kulitnya cerah, rambutnya lurus, tubuhnya ideal, dan senyumnya seperti selebgram yang selalu tampak bahagia. Aku, sebaliknya, hidup dalam bayang ketidakcukupan. Sekolah bagai panggung siksaan: tatapan sinis, ejekan diam-diam, dan komentar yang menyayat dari teman sebaya. Bahkan diamku sering dianggap aneh.
Hari itu aku menemukan selembar kertas kusut di rak buku perpustakaan sekolah. Tulisan tangan itu tertulis miring dengan tinta biru:
Mereka hanya melihatmu dari luar. Tapi kau, hanya kau yang tahu bagaimana dunia di dalammu menyala.
Aku tidak tahu siapa penulisnya. Tapi entah kenapa, kalimat itu menancap di benakku. Rasanya seperti disiram air setelah terbakar bertahun-tahun.
Sejak hari itu, aku mulai menulis. Tentang kesedihanku. Tentang tubuhku. Tentang kulitku. Tentang bagaimana aku selalu merasa asing di dunia sendiri. Ternyata, kata-kata bisa memeluk. Setiap tulisan menjadi cahaya kecil yang menyala dalam gelapku.
--**--
Dua tahun kemudian, aku berdiri di depan cermin yang sama—yang kini retaknya kian menyebar, tapi aku tak ingin menggantinya. Cermin itu saksi. Cermin itu tahu semua luka dan air mata yang pernah kutumpahkan. Tapi cermin itu juga menyaksikan prosesku tumbuh.
Kini, saat aku tersenyum, senyuman itu tidak dibuat-buat. Saat aku memakai baju sederhana, aku tidak lagi sibuk membandingkan diriku dengan siapa pun. Aku mulai menyukai warna kulitku, rambutku, bentuk tubuhku, dan cara bicaraku yang lambat tapi jujur.
Aku bukan mereka. Dan ternyata... aku tidak perlu jadi mereka.
Suatu hari, aku bertemu seorang anak kelas 7 yang duduk sendiri di taman sekolah. Rambutnya keriting seperti punyaku dulu. Kulitnya gelap. Tatapannya penuh cemas.
"Kamu cantik," kataku padanya. Ia menoleh dengan ragu. "Cantik itu bukan tentang putih atau langsing, tapi tentang berani menerima diri sendiri."
Matanya mulai berkaca-kaca. Aku mengangguk dan tersenyum.
Mungkin... mungkin aku telah menyembuhkan luka lama, bukan hanya untuk diriku, tapi untuk orang lain juga.
"Luka tidak selalu harus hilang. Kadang ia hanya perlu diterima. Karena dari sanalah cahaya bisa menyusup masuk."
Cermin yang retak itu kini bukan hanya saksi, tapi guru yang membimbingku memahami bahwa setiap rendahan, setiap retakan, adalah bagian dari diriku yang utuh. Setiap pagi aku tetap berdiri di depannya—namun kali ini bukan untuk menyiksa diri, melainkan untuk menyemangati.
Suatu siang di ruang kelas, guru Bahasa Indonesia membacakan puisi tentang keberanian. Selesai mendengarkan, hatiku bergetar. Mengapa aku harus selalu bersembunyi? Aku angkat tangan, suara di dada bergetar saat kuhamburkan:
"Aku ingin menjadi pembaca puisi hari ini."
Ruangan hening. Semua mata menatapku—beberapa dengan penasaran, yang lain dengan keheranan. Suaraku gemetar saat kubaca puisi tentang luka lama yang berubah menjadi cahaya:
“Kulitku gelap, tapi hatiku terang.
Keriting rambutku bukanlah jerat dari penjara penilaian, melainkan mahkota ukir alami yang layak dipuja.”
Usai baca, tepuk tangan mengalir. Kupandangi kawan di depanku—ia yang dulu menyipitkan mata padaku—matanya kini berkaca, dan ia tersenyum. "Kamu hebat," bisiknya.
Malam itu aku termenung di kamarku. Kubuka lembaran-lembaran puisi yang kusiapkan malam demi malam sejak temuan kertas biru di perpustakaan. Aku lihat semuanya. Aku lihat diriku waktu itu—rapuh, kesepian, penuh keraguan. Tapi juga aku lihat keberanian yang muncul, sedikit demi sedikit, hari ke hari.
Aku tuliskan biodata singkatku di halaman belakang:
Dia adalah seseorang yang pernah kebal terhadap bayang-bayang kebencian diri.
Kini dia belajar menerima, menyembuhkan, dan menyinari.
Aku menyisipkannya di ujung cerpen, seperti selembar bunga kecil di antara halaman-halaman luka.
--**--
Beberapa pekan kemudian, sekolah mengadakan perlombaan literasi. Tanpa ragu—kali ini dengan penuh percaya diri—aku mendaftar. Di hari H, di atas panggung kecil dengan mikrofon di tangan, aku berkisah bukan hanya dengan kata, tetapi dengan hatiku. Tentang perjalanan cinta pada diri sendiri. Tentang suara cermin retak dan anak keriting yang takut menatap dunia.
Di akhir sesi, seorang guru pendamping menghampiriku. "Ayu, puisi dan ceritamu luar biasa. Kami ingin kamu jadi duta literasi sekolah." Aku menahan air mata haru. Cermin retak di kamarku terasa ikut bahagia.
Hari demi hari, aku berjalan semakin tegak. Aku sadar, mencintai diri sendiri bukan sekadar mengatakan “aku hebat.” Tapi merangkul setiap bagian—gelap, terang, rapuh, dan kuat—dan berjalan maju dengan batin yang tenang.
Kini aku berdiri bukan hanya untuk diriku, tapi juga untuk orang-orang yang pernah merasa kecil, asing, tidak layak. Setiap kata “kamu cantik” yang kuucap tulus dari jiwaku, bukan hanya sekadar frasa, tetapi jembatan menuju keberanian. [T]
Penulis: Agus Yulianto
Editor:Adnyana Ole
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...