Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
CERMIN itu retak di sisi kanan atas, seperti hatiku yang dulu. Tiap pagi aku menatap pantulanku, mencari bagian dari diriku yang bisa kusukai, tetapi yang kutemukan hanyalah mata sayu, kulit gelap, tubuh kurus, dan rambut keriting yang tumbuh tak teratur. Kata-kata dari masa lalu menggema di dalam kepalaku—"jelek", "aneh", "nggak laku", "malu-maluin".
"Aku ingin jadi seperti mereka," bisikku setiap pagi. Mereka yang kulitnya cerah, rambutnya lurus, tubuhnya ideal, dan senyumnya seperti selebgram yang selalu tampak bahagia. Aku, sebaliknya, hidup dalam bayang ketidakcukupan. Sekolah bagai panggung siksaan: tatapan sinis, ejekan diam-diam, dan komentar yang menyayat dari teman sebaya. Bahkan diamku sering dianggap aneh.
Hari itu aku menemukan selembar kertas kusut di rak buku perpustakaan sekolah. Tulisan tangan itu tertulis miring dengan tinta biru:
Mereka hanya melihatmu dari luar. Tapi kau, hanya kau yang tahu bagaimana dunia di dalammu menyala.
Aku tidak tahu siapa penulisnya. Tapi entah kenapa, kalimat itu menancap di benakku. Rasanya seperti disiram air setelah terbakar bertahun-tahun.
Sejak hari itu, aku mulai menulis. Tentang kesedihanku. Tentang tubuhku. Tentang kulitku. Tentang bagaimana aku selalu merasa asing di dunia sendiri. Ternyata, kata-kata bisa memeluk. Setiap tulisan menjadi cahaya kecil yang menyala dalam gelapku.
--**--
Dua tahun kemudian, aku berdiri di depan cermin yang sama—yang kini retaknya kian menyebar, tapi aku tak ingin menggantinya. Cermin itu saksi. Cermin itu tahu semua luka dan air mata yang pernah kutumpahkan. Tapi cermin itu juga menyaksikan prosesku tumbuh.
Kini, saat aku tersenyum, senyuman itu tidak dibuat-buat. Saat aku memakai baju sederhana, aku tidak lagi sibuk membandingkan diriku dengan siapa pun. Aku mulai menyukai warna kulitku, rambutku, bentuk tubuhku, dan cara bicaraku yang lambat tapi jujur.
Aku bukan mereka. Dan ternyata... aku tidak perlu jadi mereka.
Suatu hari, aku bertemu seorang anak kelas 7 yang duduk sendiri di taman sekolah. Rambutnya keriting seperti punyaku dulu. Kulitnya gelap. Tatapannya penuh cemas.
"Kamu cantik," kataku padanya. Ia menoleh dengan ragu. "Cantik itu bukan tentang putih atau langsing, tapi tentang berani menerima diri sendiri."
Matanya mulai berkaca-kaca. Aku mengangguk dan tersenyum.
Mungkin... mungkin aku telah menyembuhkan luka lama, bukan hanya untuk diriku, tapi untuk orang lain juga.
"Luka tidak selalu harus hilang. Kadang ia hanya perlu diterima. Karena dari sanalah cahaya bisa menyusup masuk."
Cermin yang retak itu kini bukan hanya saksi, tapi guru yang membimbingku memahami bahwa setiap rendahan, setiap retakan, adalah bagian dari diriku yang utuh. Setiap pagi aku tetap berdiri di depannya—namun kali ini bukan untuk menyiksa diri, melainkan untuk menyemangati.
Suatu siang di ruang kelas, guru Bahasa Indonesia membacakan puisi tentang keberanian. Selesai mendengarkan, hatiku bergetar. Mengapa aku harus selalu bersembunyi? Aku angkat tangan, suara di dada bergetar saat kuhamburkan:
"Aku ingin menjadi pembaca puisi hari ini."
Ruangan hening. Semua mata menatapku—beberapa dengan penasaran, yang lain dengan keheranan. Suaraku gemetar saat kubaca puisi tentang luka lama yang berubah menjadi cahaya:
“Kulitku gelap, tapi hatiku terang.
Keriting rambutku bukanlah jerat dari penjara penilaian, melainkan mahkota ukir alami yang layak dipuja.”
Usai baca, tepuk tangan mengalir. Kupandangi kawan di depanku—ia yang dulu menyipitkan mata padaku—matanya kini berkaca, dan ia tersenyum. "Kamu hebat," bisiknya.
Malam itu aku termenung di kamarku. Kubuka lembaran-lembaran puisi yang kusiapkan malam demi malam sejak temuan kertas biru di perpustakaan. Aku lihat semuanya. Aku lihat diriku waktu itu—rapuh, kesepian, penuh keraguan. Tapi juga aku lihat keberanian yang muncul, sedikit demi sedikit, hari ke hari.
Aku tuliskan biodata singkatku di halaman belakang:
Dia adalah seseorang yang pernah kebal terhadap bayang-bayang kebencian diri.
Kini dia belajar menerima, menyembuhkan, dan menyinari.
Aku menyisipkannya di ujung cerpen, seperti selembar bunga kecil di antara halaman-halaman luka.
--**--
Beberapa pekan kemudian, sekolah mengadakan perlombaan literasi. Tanpa ragu—kali ini dengan penuh percaya diri—aku mendaftar. Di hari H, di atas panggung kecil dengan mikrofon di tangan, aku berkisah bukan hanya dengan kata, tetapi dengan hatiku. Tentang perjalanan cinta pada diri sendiri. Tentang suara cermin retak dan anak keriting yang takut menatap dunia.
Di akhir sesi, seorang guru pendamping menghampiriku. "Ayu, puisi dan ceritamu luar biasa. Kami ingin kamu jadi duta literasi sekolah." Aku menahan air mata haru. Cermin retak di kamarku terasa ikut bahagia.
Hari demi hari, aku berjalan semakin tegak. Aku sadar, mencintai diri sendiri bukan sekadar mengatakan “aku hebat.” Tapi merangkul setiap bagian—gelap, terang, rapuh, dan kuat—dan berjalan maju dengan batin yang tenang.
Kini aku berdiri bukan hanya untuk diriku, tapi juga untuk orang-orang yang pernah merasa kecil, asing, tidak layak. Setiap kata “kamu cantik” yang kuucap tulus dari jiwaku, bukan hanya sekadar frasa, tetapi jembatan menuju keberanian. [T]
Penulis: Agus Yulianto
Editor:Adnyana Ole
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
MAHASISWA baru, di mana pun, mau tak mau, akan mengawali “kuliah” dengan melakukan adaptasi dan pengenalan lingkungan kampus. “Kuliah” awal itu di Indonesia biasa disebut Ospek (Or...
TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sej...
KALAU seseorang dinilai bicara panjang lebar tetapi tak ada isinya, lazimnya orang itu disebut mengumbar omong kosong. Orang macam begini dianggap lebih buruk tinimbang seorang pen...
KAMPUS adalah tempat kaderisasi bagi para pemimpin bangsa dan negara. Di suatu negara kita mengenal adanya pemerintahan, pada umumnya pemerintahan diselenggarakan dan dijalankan ol...
“DENGAN melewati tahapan hidup dari Sudra menuju Wesya, dari Wesya menuju Satria, dari Satria menuju Brahmana, seseorang mencapai Moksha,” guru saya pernah berucap demikian suatu h...
UNTUK yang ketiga kalinya, saya menginjakkan kaki di Desa Mausamang Kiralela di Kecamatan Alor Timur, NTT. Bersahabat lebih dekat dengan desa ini membuat saya kecanduan untuk pergi...
ADA banyak cara merayakan Kemerdekaan. Seperti warga sekitar sungai Tukad Unda, Klungkung. Di situ, suasana 17 Agustus 2016 berbeda dari sebelumnya. Dari jembatan Tukad Unda terben...
Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Di sanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku ……. TIAP kali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya atau mencermati teksnya, saya selalu te...
MUNGKIN banyak yang belum tahu bahwa salah satu putra Buleleng ikut berperan dalam terbentuknya Republik Indonesia. Namanya, Mr. I Gusti Ketut Pudja. Dia menjadi satu-satunya waki...