Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
SETIAP 22 Desember, linimasa media sosial riuh. Foto-foto lawas bersama ibu, bunga mawar virtual, kutipan dari Chairil Anwar hingga Khalil Gibran, berpesta di layar ponsel. Kita menekan tombol like, menulis caption “Selamat Hari Ibu”, seakan itu saja sudah mencukupi hak seorang perempuan yang melahirkan, membesarkan, dan memuliakan kita.
Namun, adakah jeda untuk bertanya: apakah ucapan itu selaras dengan perlakuan kita sehari-hari?
Sebab memuliakan ibu bukan perkara satu hari penuh simbolisme, melainkan ritus panjang kejujuran dan aksi nyata: mengurangi beban pekerjaan domestik yang tanpa upah dan sering tanpa terima kasih; mendengarkan cerita yang berulang tanpa memotong; tidak menganggap pengorbanannya sebagai kewajaran; menghargai keputusan, suara, dan otonominya; serta merawatnya ketika renta—sebagaimana ia merawat kita ketika tak berdaya.
Hari Ibu bukan panggung seremonial. Ia adalah cermin: di mana posisi kita—di bibir ucapan, atau di inti penghayatan?
Kita sering lupa bahwa penghormatan ibu tak selesai pada sosok biologis. Ada Ibu lain, lebih tua, lebih luas, lebih sabar: Ibu Pertiwi.
Di tanah tempat kita berpijak, air mata dan peluh tak sekadar metafora. SELAMAT HARI IBU — MENGHAYATI, BUKAN SEKADAR MEMPUBLISIKASI
Setiap 22 Desember, linimasa media sosial riuh. Foto-foto lawas bersama ibu, bunga mawar virtual, kutipan dari Chairil Anwar hingga Khalil Gibran, berpesta di layar ponsel. Kita menekan tombol like, menulis caption “Selamat Hari Ibu”, seakan itu saja sudah mencukupi hak seorang perempuan yang melahirkan, membesarkan, dan memuliakan kita.
Namun, adakah jeda untuk bertanya: apakah ucapan itu selaras dengan perlakuan kita sehari-hari?
Sebab memuliakan ibu bukan perkara satu hari penuh simbolisme, melainkan ritus panjang kejujuran dan aksi nyata: mengurangi beban pekerjaan domestik yang tanpa upah dan sering tanpa terima kasih; mendengarkan cerita yang berulang tanpa memotong; tidak menganggap pengorbanannya sebagai kewajaran; menghargai keputusan, suara, dan otonominya; serta merawatnya ketika renta—sebagaimana ia merawat kita ketika tak berdaya.
Hari Ibu bukan panggung seremonial. Ia adalah cermin: di mana posisi kita—di bibir ucapan, atau di inti penghayatan?
Kita sering lupa bahwa penghormatan ibu tak selesai pada sosok biologis. Ada Ibu lain, lebih tua, lebih luas, lebih sabar: Ibu Pertiwi.
Di tanah tempat kita berpijak, air mata dan peluh tak sekadar metafora. Banjir bandang dan longsor yang terjadi di provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat
pada akhir November hingga Desember 2025 telah menyebabkan ratusan hingga hampir seribu korban tewas, puluhan ribu jiwa hilang, dan ratus ribu hingga sekitar jutaan orang mengungsi dari rumah mereka dan musibah ini seakan menjadi kabar duka yang hingga kini belum jelas tahapan tindak lanjut dari Pemerintah, seakan justru aksi demi aksi nyata dari para relawan yang lebih konkret tampak dari awam saya memperhatikan. Alam pun punya batas kesabaran terhadap kelalaian manusia dalam menjaga lingkungan, membiarkan eksploitasi tanpa etika, serta menunjukkan ketidakpedulian terhadap keseimbangan ekologis akan kembali kepada kita sebagai perih.
Menghormati Ibu Pertiwi bukan hanya menunduk dalam doa, tetapi menolak membuang sampah ke sungai; tidak menelikung ruang hijau menjadi beton; dan menuntut pemerintah maupun korporasi agar mengambil keputusan dengan perspektif jangka panjang, bukan laba sesaat.
Jika kepada ibu kandung kita diwajibkan hormat, maka kepada ibu negeri kita diwajibkan sadar.
Menghormati Ibu Pertiwi bukan hanya menunduk dalam doa, tetapi menolak membuang sampah ke sungai; tidak menelikung ruang hijau menjadi beton; dan menuntut pemerintah maupun korporasi agar mengambil keputusan dengan perspektif jangka panjang, bukan laba sesaat. Jika kepada ibu kandung kita diwajibkan hormat, maka kepada ibu negeri kita diwajibkan sadar.
Generasi digital kerap gagap antara intensi dan aksi. Kita pandai merangkai teks, mudah mengunggah foto terbaik, tetapi sering alpa memahami bahwa cinta kepada ibu adalah:
Menghormati ibu mesti lebih konkret daripada estetika postingan. Ia perlu diwujudkan dalam etika kehidupan.
Hari Ibu bukan sekadar perayaan, tetapi pengingat: bahwa perempuan yang melahirkan kita layak dihormati bukan hanya dengan kata, tapi tindakan; dan bahwa bumi tempat kita tumbuh layak dijaga bukan hanya dengan slogan, tapi kesadaran.
Karena ibu—yang di rumah atau yang bernama Indonesia—tak menuntut kita sempurna. Ia hanya menuntut kita bertanggung jawab.
“Selamat Hari Ibu. Semoga cinta kita tidak berhenti di bibir ucapan dan unggahan; tetapi terwujud dalam hormat yang membumi, peduli yang berkelanjutan, dan kesadaran bahwa Ibu di rumah dan Ibu Pertiwi sama-sama layak dimuliakan—setiap hari, bukan hanya hari ini” – Dewa Rhadea. [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...