Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
SETIAP 22 Desember, linimasa media sosial riuh. Foto-foto lawas bersama ibu, bunga mawar virtual, kutipan dari Chairil Anwar hingga Khalil Gibran, berpesta di layar ponsel. Kita menekan tombol like, menulis caption “Selamat Hari Ibu”, seakan itu saja sudah mencukupi hak seorang perempuan yang melahirkan, membesarkan, dan memuliakan kita.
Namun, adakah jeda untuk bertanya: apakah ucapan itu selaras dengan perlakuan kita sehari-hari?
Sebab memuliakan ibu bukan perkara satu hari penuh simbolisme, melainkan ritus panjang kejujuran dan aksi nyata: mengurangi beban pekerjaan domestik yang tanpa upah dan sering tanpa terima kasih; mendengarkan cerita yang berulang tanpa memotong; tidak menganggap pengorbanannya sebagai kewajaran; menghargai keputusan, suara, dan otonominya; serta merawatnya ketika renta—sebagaimana ia merawat kita ketika tak berdaya.
Hari Ibu bukan panggung seremonial. Ia adalah cermin: di mana posisi kita—di bibir ucapan, atau di inti penghayatan?
Kita sering lupa bahwa penghormatan ibu tak selesai pada sosok biologis. Ada Ibu lain, lebih tua, lebih luas, lebih sabar: Ibu Pertiwi.
Di tanah tempat kita berpijak, air mata dan peluh tak sekadar metafora. SELAMAT HARI IBU — MENGHAYATI, BUKAN SEKADAR MEMPUBLISIKASI
Setiap 22 Desember, linimasa media sosial riuh. Foto-foto lawas bersama ibu, bunga mawar virtual, kutipan dari Chairil Anwar hingga Khalil Gibran, berpesta di layar ponsel. Kita menekan tombol like, menulis caption “Selamat Hari Ibu”, seakan itu saja sudah mencukupi hak seorang perempuan yang melahirkan, membesarkan, dan memuliakan kita.
Namun, adakah jeda untuk bertanya: apakah ucapan itu selaras dengan perlakuan kita sehari-hari?
Sebab memuliakan ibu bukan perkara satu hari penuh simbolisme, melainkan ritus panjang kejujuran dan aksi nyata: mengurangi beban pekerjaan domestik yang tanpa upah dan sering tanpa terima kasih; mendengarkan cerita yang berulang tanpa memotong; tidak menganggap pengorbanannya sebagai kewajaran; menghargai keputusan, suara, dan otonominya; serta merawatnya ketika renta—sebagaimana ia merawat kita ketika tak berdaya.
Hari Ibu bukan panggung seremonial. Ia adalah cermin: di mana posisi kita—di bibir ucapan, atau di inti penghayatan?
Kita sering lupa bahwa penghormatan ibu tak selesai pada sosok biologis. Ada Ibu lain, lebih tua, lebih luas, lebih sabar: Ibu Pertiwi.
Di tanah tempat kita berpijak, air mata dan peluh tak sekadar metafora. Banjir bandang dan longsor yang terjadi di provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat
pada akhir November hingga Desember 2025 telah menyebabkan ratusan hingga hampir seribu korban tewas, puluhan ribu jiwa hilang, dan ratus ribu hingga sekitar jutaan orang mengungsi dari rumah mereka dan musibah ini seakan menjadi kabar duka yang hingga kini belum jelas tahapan tindak lanjut dari Pemerintah, seakan justru aksi demi aksi nyata dari para relawan yang lebih konkret tampak dari awam saya memperhatikan. Alam pun punya batas kesabaran terhadap kelalaian manusia dalam menjaga lingkungan, membiarkan eksploitasi tanpa etika, serta menunjukkan ketidakpedulian terhadap keseimbangan ekologis akan kembali kepada kita sebagai perih.
Menghormati Ibu Pertiwi bukan hanya menunduk dalam doa, tetapi menolak membuang sampah ke sungai; tidak menelikung ruang hijau menjadi beton; dan menuntut pemerintah maupun korporasi agar mengambil keputusan dengan perspektif jangka panjang, bukan laba sesaat.
Jika kepada ibu kandung kita diwajibkan hormat, maka kepada ibu negeri kita diwajibkan sadar.
Menghormati Ibu Pertiwi bukan hanya menunduk dalam doa, tetapi menolak membuang sampah ke sungai; tidak menelikung ruang hijau menjadi beton; dan menuntut pemerintah maupun korporasi agar mengambil keputusan dengan perspektif jangka panjang, bukan laba sesaat. Jika kepada ibu kandung kita diwajibkan hormat, maka kepada ibu negeri kita diwajibkan sadar.
Generasi digital kerap gagap antara intensi dan aksi. Kita pandai merangkai teks, mudah mengunggah foto terbaik, tetapi sering alpa memahami bahwa cinta kepada ibu adalah:
Menghormati ibu mesti lebih konkret daripada estetika postingan. Ia perlu diwujudkan dalam etika kehidupan.
Hari Ibu bukan sekadar perayaan, tetapi pengingat: bahwa perempuan yang melahirkan kita layak dihormati bukan hanya dengan kata, tapi tindakan; dan bahwa bumi tempat kita tumbuh layak dijaga bukan hanya dengan slogan, tapi kesadaran.
Karena ibu—yang di rumah atau yang bernama Indonesia—tak menuntut kita sempurna. Ia hanya menuntut kita bertanggung jawab.
“Selamat Hari Ibu. Semoga cinta kita tidak berhenti di bibir ucapan dan unggahan; tetapi terwujud dalam hormat yang membumi, peduli yang berkelanjutan, dan kesadaran bahwa Ibu di rumah dan Ibu Pertiwi sama-sama layak dimuliakan—setiap hari, bukan hanya hari ini” – Dewa Rhadea. [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...