Puisi-puisi Karst Mawardi | Aktual, Residu, Multiple Exposure
AKTUAL preseden dan prediksijadi 2 sisi koin logammereka lemparkan itubukan buat ditangkap peristiwa jadi gentingtatkala koin mendaratmemaksa kita berpikirmelulu soal modali...
Manusia dapat dikatakan sebagai binatang yang berdiri tegak, yang bisa menciptakan budaya, yang bisa dinikmati oleh manusia, binatang, maupun tumbuh-tumbuhan.
Dalam ajaran Hindu, dikatakan bahwa manusia dilengkapi dianugrahi sabda (suara yang pendapat), bayu (tenaga yang jadi kekuatan) dan idep (pemahaman yang jadi kesadaran).
Pohon yang dulu dikatakan tidak bersuara atau tidak bisa berpendapat, dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tehnologi yang diciptakan manusia, kini kita bisa mendengar suara, pendapat pohon, melalui mesin maupun gambar.
Binatang yang dulu dikatakan tidak punya idep (pemahaman dan kesadaran ) dengan pengetahuan dan teknologi manusia, kini beberapa diantaranya telah pemiliki pemahaman dan kesadaran, secara naluri maupun karena dilatih, misalnya anjing, kucing, burung beo, lumba-lumba, gajah, macan, kera dan lain-lain.
Semua mahluk memiliki naluri untuk hidup, berkembang, aman dan nyaman.
Di musim panas, pohon-pohon yang besar dan tinggi merontokkan daun-daunnya agar air yang diisap akar bisa menghidupi batang dan ranting-ranting. Binatang-binatang akan menjauh saat merasakan gunung akan meletus.
Manusia Modern yang akrab dengan pengetahuan dan tehnologi kini, justru tanpa sadar telah membunuh nalurinya.
Misalnya HP, perangkat tehnologi modern kini sangat dekat (hampir melekat) dengan manusia (dari bayi sampai orang tua), yang sesungguhnya bisa sangat membantu manusia untuk mendapatkan pemahaman tentang sesuatu, sehingga memudahkan untuk mencapai kesadaran, ternyata menjadi pembunuh utama naluri manusia sebagai mahluk hidup.
Percobaan bisa kita lakukan binatang (anjing) dan manusia, saat seekor anjing kita putarkan film, lagu, gambar-gambar yang disukainya, dia akan bertahan beberapa lama, tapi setelah itu ia tetap akan minta makan karena merasa lapar. Berbeda dengan manusia, ia bisa lama memanfaatkan HP tanpa merasa kelaparan, sehingga makin lama-naluri perutnyalah yang akan aktif memberi peringatan sebagai sakit perut.
"
Kelebihan manusia yang mempunyai "idep", pemahaman dan kesadaran dibandingkan dengan mahluk lain, akan menjatuhkan manusai pada jurang yang sangat dalam jika abai dan terbiasa mengabaikan nalurinya.
Naluri mahluk hidup, selain untuk bertahan hidup adalah juga untuk selalu belajar dari tempat, ruang, waktu, kondisi dan situasi hidupnya.
Manusia bisa belajar dirinya sendiri, lingkungan, manusia, binatang, pohon, alam, buku, media sosial dan lain-lain. Pengetahuan yang didapatkannya tentang sesuatu biasanya mampu membuatnya mengalahkan enam musuh-musuh dalam dirinya (sadtipu) berupa; keinginan hawa nafsu (kama), tamak (lobha), sifat marah (kroda), bingung (moha), iri hati (matsarya) dan mabuk (mada). Keenam musuh itu juga ada pada semua mahluk hidup yang membuatnya mengalami kegelapan/tidak berpengetahuan.
Dari eman musuh dalam diri manusia yang ada saat ini, yang paling hebat dan sangat berpotensi menghancurkan manusia dan kemanusiannya adalah "mada" (mabuk menghindari diri dari kenyataan dengan minuman, irupan, makanan, pekerjaan dan lain-lain). Kalau kondisi mabuk ini bersifat sementara akan tidak terlalu mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengalahkan musuhnya yang lain, tetapi jika sudah menjadi kebiasaan pasti juga akan membuatnya tak mampu mengalahkan musuh-musuh dirinya yang lain. Misalnya seorang peminum, walaupun ia bukan tipe pemarah, tapi saat tertentu, ia bisa jadi pemarah.
Keberadaan HP sebagai salah satu teknologi yang dekat dengan manusia, kini sangat potensian dipakai sebagai sarana untuk " mabuk" (melarikan diri dari kenyataan) yang tak terdeteksi. Mabuk yang disebabkan oleh HP ini bisa berimplikasi jauh dan luas, karena menyangkut seluruh aspek kehidupan dengan segala kualitas dan kuantitasnya.
Hati-hati dan waspadalah, mabuk HP yang awalnya terbatas pada kegiatan untuk menghindari diri dari kejenuhan kenyataan, jika bersifat laten dan tanpa kontrol tanpa disadari akan menjelma jadi tujuh "kemabukan'" (Sapta Timira) yang diciptakan oleh pikiran yang bebas, tanpa batas dan bersifat non material.
Tujuh Kemabukan yang disebabkan oleh kegelapan, sehingga " merasa paling" bukan yang sesungguhnya yang diproduksi oleh pikiran bukan karena pengetahuan, pemahaman dan kesadaran ; (1) Surupa atau Rupa, "merasa paling" rupawan, (2) Dhana atau Kekayaan/Harta "merasa paling" Kaya, (3)Guna atau Kecerdasan(Ilmu Pengetahuan) "merasa paling" cerdas, (4) Kulina atau Garis keturunan (Kasta) "merasa paling berkasta tinggi", (5) Yowana atau Masa Muda (Usia Muda) "merasa masih muda" , (6)Sura atau kemabukan (Lupa daratan/ambisi) "merasa paling hebat", (7) Kasuran atau Keberanian "merasa paling berani'.
Perasaan-perasaan ini dengan mudah bisa didapat, disebarkan, dan ditularkan melalui HP, tanpa perlu upaya untuk mencari tahu, mengetahui, memahami kemudian untuk menyadarinya. Untuk pengetahuan yang bersifat umum, mungkin kita bisa menjeneralisirnya, misalnya seorang remaja laki yang akil balik, ditandai dengan suaranya, yang perempuan ditandai dengan menstruasi, tetapi mahluk hidup tidak semudah itu untuk disimpulkan selalu ada pengecualian, spesifikasi, yang bersifat khusus. Ilmu pengetahuan mengajarkan manusia untuk melakukan observasi, peneliti dengan seksama, mencari perbandingan-perbandingan sebelum bisa menyimpulkan sementara.
Kini, HP telah banyak menggerus naluri seseorang manusia untuk belajar mengenali sesuatu dengan indria-indrianya, sehingga dengan mudah menyimpulkan. Maka jangan heran jika kita, banyak anak-anak kita, generasi muda Indonesia yang kehilangan naluri untuk hidup, untuk menjalani kehidupan, jangankan untuk bis menjaga, merawat, dan memelihara orang lain, orang tua, anak, binatang maupun pohon.
HP telah banyak mengambil kemanusiaan kita, menjadi tanpa naluri, yang pada akhirnya akan menjadi tanpa nurani, melampaui naluri keganasan para binatang untuk mempertahan hidup dan menjalankan kehidupan. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole
AKTUAL preseden dan prediksijadi 2 sisi koin logammereka lemparkan itubukan buat ditangkap peristiwa jadi gentingtatkala koin mendaratmemaksa kita berpikirmelulu soal modali...
PERINGATAN 70 tahun kelahiran seniman teater Bali, Kadek Suardana (7 Februari 1956), digelar melalui acara “Tribute to Kadek Suardana” pada Sabtu malam, 7 Februari 2026, di Kalang...
Tumpek Uye merupakan salah satu hari suci dalam kalender Bali yang diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Uye. Hari suci ini memiliki makna yang...
TATIK, perempuan berumur limapuluhan dengan rambut yang selalu digelung dan wajah yang tampaknya sulit tersenyum. Ia jarang bicara, tapi sekali bicara, kalimatnya seperti keluar d...
PALET PELUKIS saat kubalik:kerak-lapis cat serupa pelangiberjalin-lekuk seperti jaring kuangkat:terkelupas mudah seperti kulit para ibuyang keriput usai mencuci baju debu...
ADA masa ketika tubuh memaksa kita memperlambat langkah. Bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai pengingat bahwa tidak semua kerja intelektual bisa dilakukan dengan kecepatan yan...
MENCERMATI perkembangan pariwisata suatu negara tidak cukup hanya melihat dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun mobilitas pergerakan wisatawan domestik. Tak cukup dar...
“Wow, warnanya cantik! Mereka pintar, dan bagus sekali,” kata seorang wanita ketika menyaksikan Wimbakara (Lomba) Mewarnai dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII di Lantai Bawah Gedun...
Dari Panggung ke Ingatan: Tribute Sanggar Putih untuk Kadek Suardana Dunia teater Bali dinilai tak pernah benar-benar bisa melepaskan bayang-bayang almarhum Kadek Suardana. Sos...
Dinas Kebudayaan Provinsi Bali melalui Penyuluh Bahasa Bali di Kabupaten Bangli melakukan konservasi dan identifikasi terhadap lontar milik Jro Mangku I Ketut Kuatis di Desa Belan...