PERINGATAN 70 tahun kelahiran seniman teater Bali, Kadek Suardana (7 Februari 1956), digelar melalui acara “Tribute to Kadek Suardana” pada Sabtu malam, 7 Februari 2026, di Kalangan Ayodhya, Art Centre Denpasar. Acara ini menjadi momen penting karena sejak kepergian Kadek Suardana Oktober 2013, belum pernah diselenggarakan agenda khusus yang secara kolektif memberi penghormatan atas kiprah dan warisan keseniannya.
Legasi Kadek Suardana dalam berkesenian bisa dirumuskan dengan kutipan “sing melah sing masolah” atau “tak pentas kalau belum pantas”; atau “sebelum baik tak akan tampil di publik”. Rumusan ini merefleksikan betapa Kadek menghargai proses dan kerja keras penuh integritas dalam laku berkesenian, langkah yang mesti dijalani untuk menjadi seniman.
Tribute tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh seniman dan budayawan Bali lintas bidang, termasuk pelukis, sastrawan, akademisi, dan pegiat seni pertunjukan. Sejumlah tokoh yang hadir antara lain mantan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, dosen agama Dr. I Ketut Donder, Agus Maha Usada Ketua NCPI (Nawa Cita Pariwisata Indonesia) Bali, Gde Yudane, Agung Rai ARMA, aktivis Putu Suasta, pelukis Made Budhiana, serta Rektor ISI Bali Prof. Kun Adnyana. Ada juga lawyer (pengacara) yang dulu waktu muda menjadi bagian dari Sanggar Putih Kadek Suardana.
Membahas buku persembahan untuk Kadek Suardana: Prof. IDG Palguna, Fajar Arcana, Joni Suhartawan, dan moderator Prof. Darma Putra (kanan)
Acara berlangsung hangat dan reflektif, diisi dengan berbagai pentas seni seperti pembacaan puisi, monolog, dan teater, serta kolaborasi tari, puisi, dan seni rupa. Selain itu, ditampilkan pula enggang-enggung nukilan puisi Gambuh Masutasoma yang memperlihatkan dialog antara tradisi dan ekspresi seni kontemporer, sebuah wilayah kreatif yang lekat dengan perjalanan artistik Kadek Suardana.
Salah satu agenda utama dalam tribute ini adalah peluncuran dan diskusi buku Srenggi: Ibadah Seni Kadek Suardana yang memotret sosok Kadek Suardana dan dunia kreatifnya. Diskusi buku menghadirkan editor Fajar Arcana, penulis Joni Suhartawan, serta Prof. I Dewa Gede Palguna, dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana, dan dipandu oleh Prof. I Nyoman Darma Putra, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.
Enggang Enggung Nukilan Puisi Gambuh Masutasoma, Sanggar Bumi Bajra (Foto-foto Putu Suasta)
Sebagai moderator, Darma Putra menjelaskan bahwa buku Srenggi mengupas perjalanan Kadek Suardana dan kreativitasnya dalam dunia seni teater Bali selama hampir empat dekade, sejak 1980-an hingga 2010-an. Kiprah tersebut terutama melalui Sanggar Putih yang didirikannya dan kemudian berlanjut melalui Yayasan Arti atau Arti Foundation. Proses berkesenian dan karya-karya yang dihasilkan dibahas secara mendalam oleh para penulis buku, antara lain Ketut Yuliarsa, Dr. Agung Mas Ruscitadewi, Prof. Wayan Dibia, Joni Suhartawan, Gde Yudane, dan Gde Aryantha Soethama. Dua puisi juga dimuat masing-masing karya Warih Wisatsana berjudul “Simpang Jalan” dan puisi berbahasa Bali Mas Ruscitadewi “Bli Kadek, Galahe Masolah” (Bli Kadek, Saatnya Pentas).
Menurut Darma Putra, walau buku sudah dengan ringkas padat dan baik menyajikan sosok Kadek Suardana dan karya-karyanya, namun tentu masih banyak aspek kehidupan, proses kreatif, dan legasi Kadek Suardana yang perlu dibahas. Menyinggung hal tersebut, Ketut Yuliarsa (Ketua Panitia Trubute) dan Fajar Arcana (editor buku) akan melihat kemungkinan untuk menerbitkan edisi berikutnya dengan menambah sumbangan tulisan dari para penulis.
Tulisan-ulasan tentang Kadek Suardana, menurut Darma Putra, tidak akan menjadi potret tentang Kadek semata tetapi menjadi ilanskap perkembangan teater di Bali dari sosok Kadek Suardana dan karyanya.
Jejak brosur Lomba Drama Modern yang dilaksanakan senat mahasiswa Fakultas Sastra Unud
Darma Putra juga mengingat kembali relasi personal dan historisnya dengan Sanggar Putih. Ia merupakan Ketua Panitia Lomba Drama Modern Fakultas Sastra Universitas Udayana tahun 1983. Dalam ajang tersebut, Sanggar Putih berhasil meraih juara II, sedangkan juara I diraih oleh Sanggar Nyuh Gading.
Dalam kiprah selanjutnya, Sanggar Putih tampil sebagai salah satu kelompok teater terdepan di Bali, dengan Kadek Suardana hadir dalam berbagai pementasan penting, baik di Bali maupun di luar Bali. Karya-karya monumentalnya yang memadukan tradisi dan modern adalah Gambuh Macbet dan Sri Tanjung. Karya ini merangsang pelaksanaan festival Gambuh di Bali, semuanya inisiatif dan hasil kreativitas Kadek Suardana dan tim-nya di Sanggar Putih/ Arti Foundation.
Selain aktif di dunia teater, Kadek Suardana juga terlibat dalam produksi film. Ia tercatat menyusun musik untuk film “Api Cinta Antonio Blanco” pada 1999–2000 dan ikut bermain dalam film “Noesa Penida: Pelangi Cinta Pandansari” pada 1988, yang menunjukkan kelenturan pencapaian artistiknya lintas medium.
Menutup diskusi buku, Darma Putra merumuskan konsep berkesenian Kadek Suardana dalam ungkapan bahasa Bali “Sing melah, sing masolah”, yang bermakna jika belum baik, tidak akan dipentaskan di ruang publik; atau “kalau belum pantas jangan dulu pentas”.
Prinsip inilah yang menjelaskan mengapa setiap pentas Kadek Suardana selalu tampil kuat dan memikat, karena proses persiapan dan latihan dijalani dengan total sungguh-sungguh, dan karya hanya dihadirkan ke hadapan publik ketika telah mencapai kualitas yang diyakini matang atau ‘pantas’. Seperti apa ‘pantas’ itu, mungkin bisa ditangkap sepintas dari sajak Mas Ruscitadewi:
Yang kiri adalah bait pembuka, yang kanan bait penutup. Bait pertama melukiskan kesungguhan awal belajar masolah, bait terakhir melukiskan siap tampil, pantas pentas, karena semuanya sudah menjadi, seperti irama seruling sudah indah memukau; laksana cahaya yang sudah berapi-api.
Jika diringkaskan, kiranya sajak ini menegaskan bahwa pentas hanya bisa dilakukan kalau segalanya sudah pantas, seperti teladan dari para pragina (penari, seniman) Bali dahulu. Yang jadi hanya yang nadi; atau yang nadi hanya yang jadi. Taksu tak pernah kesusu.
Tribute ini tidak hanya menjadi peringatan hari kelahiran, tetapi juga penegasan kembali posisi Kadek Suardana sebagai figur penting dalam sejarah teater Bali modern, seorang seniman dengan integritas dan komitmen artistik yang meninggalkan jejak panjang dalam dunia kesenian dan kebudayaan Bali.
Kesedihan kerabat dan pengagumnya atas kepergian Kadek Suardana yang begitu cepat diobati dengan legasinya yang terus hidup dalam bentuk spirit berkesenian yang cemerlang. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...