Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
Di TikTok, status PPPK dan PNS sudah seperti kasta sosial baru. Padahal di duni nyata, keringat mereka itu sama, Cuma labelnya aja yang sedikit berbeda.
Karena saya orangnya suka scroll layar ponsel, jadi belakangan ini, lini masa TikTok atau bahasa gaulnya fyp-ku ramai sekali dengan perdebatan sosial isu PPPK yang katanya akan dialihkan menjadi PNS. Sekilas menyimak komentarnya sangat panas, lebih panas dari wajan gorengan ayam geprek di kantin sekolah jam istirahat kedua. Satu pihak merasa PNS harusnya tetap eksklusif, pihak lain merasa PPPK juga layak mendapat pengakuan setara.
Kolom komentar? Penuh bak arena pertandingan sepak bola piala dunia. Ada yang bilang, “PPPK itu Cuma tenaga kontrak yang kebetulan diseragamkan.” Ada pula yang menulis, “Kalau mau PNS ya dari dulu belajar yang rajin, jangan numpang ASN-an.” Membaca komentar netizen membuat saya sambil tepuk jidat. Kadang Cuma bisa berkata dalam hati, amsyooong. Orang-orang ini tahu apa tidak sih perjuangan di balik seragam PPPK itu seperti apa?
Saya tidak tahu bagaimana kisah orang lain, tapi saya tahu pasti satu hal baik: tidak semua PPPK itu datang dari jalan pintas atau hasil dari “selundupan atau siluman”. Saya sendiri sampai di titik ini bukan karena titipan, tapi karena perjalanan panjang yang, kalau difilm-kan, mungkin sudah masuk kategori “drama Indosiar”.
Saya mulai kuliah tahun 2016, di Universitas Pendidikan Ganesha jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi. Harusnya lulus tahun 2020. Tapi, ya, pandemi COVID-19 travelling dan semua rencana bubar jalan. Padahal, saya termasuk mahasiswa tercepat di angkatan saya dalam menyusun proposal. Bahakan, di semester lima, saya sempat ikut program pertukaran mahasiswa se-Asia Tenggara. Dari seluruh fakultas olahraga, hanya saya satu-satunya yang ikut program ini. Dan belajar di Thailand selama sebulan. Saat teman-teman sibuk PPL di semester tujuh, saya justru sudah selesai karena lebih dulu melakukannya.
Tapi, ketika pandemi datang, semua kerja keras seolah mentok di dinding. Sekolah tutup, kegiatan daring, dan saya yang bercita-cita jadi guru tiba-tiba banget kehilangan panggung. Akhirnya saya terpaksa banting setir, kerja apa saja yang penting halal. Dunia finance pernah saya cicipi, perbankan juga sempat saya lakoni, dan membantu teman berjualan bubur kacang ijo pernah saya trabas.
Sampai akhirnya, tahun 2023, kabar baik datang: pembukaan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Saya daftar, ikut seleksi, dan Alhamdulillah lolos. Tapi perjuangan di situ baru mulai
Ketika itu saya habis resign dari kerja di perbankan dan mendaftar di sekolah swasta. Bersamaan dengan itu saya kuliah PPG di Universitas Negeri Surabaya tapi masih ngajar di sekolah swasta di Rembang, Jawa Tengah. Bayangkan, setiap Jumat sore saya pulang ke Tuban, Jawa Timur, ini kota kelahiran dan tempat tinggal saya, dan Sabtu-Minggu ke Rembang untuk ngajar, lalu Minggu sore balik ke Surabaya. Begitu terus selama satu tahun penuh, dari September 2023 sampai September 2024.
Liburnya kapan? Hanya ketika tanggal merah nasional. Kalau tidak, ya rutinitas itu terus berulang. Bahkan hujan panas saya terjang, terkadang sesekali saya menangis di perjalanan sambil menyetir motor, dan berdoa dalam hati semoga kelak perjuanganku ini membuahkan hasil. Saya bahkan sempat berpikir, kalau tubuh ini bisa protes, mungkin dia teriak, “Mas aku butuh rebahan, plis!”.
Setelah lulus PPG, saya diterima di sekolah swasta di Surabaya. Tapi karena sekolah di Rembang itu sistemnya boarding, saya masih tetap ngajar di sana tiap Minggu. Jadi Senin sampai Sabtu saya ngajar di Surabaya, Minggu ngajar di Rembang. Rumah saya di Tuban. Total tiga kota saya lakoni setiap minggu selama kurang lebih dua tahun. Dan akhirnya, Oktober 2025, saya resmi jadi ASN PPPK. Rasanya campur aduk antara lega, haru, dan rasa ingin tidur tiga hari tiga malam tanpa gangguan. Tapi ketika saya buka TikTok, eh, muncul lagi debat soal PPPK dan PNS. Ada yang menulis “PPPK itu ASN rasa kontrak”, ada yang nyinyir “ASN abal-abal”. Di situ saya cuma bisa geleng kepala dan bergumam pelan, “Amsyooong, orang kok suka sekali merendahkan yang tidak mereka pahami.”
Padahal, di balik status PPPK itu, ada banyak kisah perjuangan. Ada yang bertahun-tahun jadi guru honorer dengan gaji tak sampai seperempat UMR. Ada yang rela meninggalkan keluarga demi mengajar di pelosok. Dan ada juga seperti saya yang tidak punya hari libur demi menempuh PPG sambil mengajar.
Saya tidak menuntut disamakan dengan PNS. Tapi rasanya sedih melihat sesama ASN saling sindir, saling menjatuhkan, seolah sedang lomba siapa yang lebih layak disebut “abdi negara sejati.” Padahal, bukankah tujuan akhirnya sama? Sama-sama mengabdi untuk negeri, sama-sama mendidik anak bangsa.
Bagi saya, PPPK bukan status rendah. Ia adalah symbol perjuangan. Sebuah tanda bahwa tidak semua orang yang tidak jadi PNS itu kalah. Kami hanya menempuh jalur berbeda, tapi tetap dengan niat dan dedikasi yang sama.
Jadi, buat yang masih sibuk berdebat di kolom komentar TikTok, mungkin ada baiknya jeda sebentar. Hirup udara, matikan ponsel, dan pikirkan: di balik seragam PPPK itu, ada keringat, waktu, dan pengorbanan yang tidak sempat viral.
Karena pada akhirnya, ASN sejati tidak diukur dari status, tapi dari seberapa tulus ia bekerja. Dan kalau keikhlasan masih harus disetarakan lewat golongan, ya sudah…
Amsyoong saja logika kita. [T]
Penulis: Mochamad Rifa’i
Editor: Adnyana Ole
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...