Menggugat Empati Elite kepada Rakyat
RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak...
SETIAP enam bulan sekali, Bali mendapatkan dua pengingat penting. Yang pertama adalah Hari Raya Galungan—kemenangan Dharma melawan Adharma, momentum untuk eling dan mulat sarira. Yang kedua adalah melonjaknya harga kebutuhan pokok yang naik seperti layangan putus. Yang satu menggerakkan hati, yang satu lagi menggerakkan kantong.
Fenomena harga ini sebetulnya ibarat drama seri yang tidak pernah tamat. Menjelang Galungan, daging naik, ayam naik, ikan naik, bahkan harga kelapa kadang-kadan ikut naik seperti ikut lomba panjat tebing. Ibu-ibu di pasar hanya menghela napas sambil berkata,
“Walau mahal, kita harus beli, yang penting Galungan tetap jalan,” meski isi tas belanja makin tipis seperti dompet akhir bulan.
Namun menariknya, kita semua menerima ini sebagai hal biasa. Seolah-olah naiknya harga setiap Galungan itu adalah takdir kosmis yang tidak bisa diganggu gugat. Kita lupa bahwa harga naik bukan karena “roh jahat” menjelang hari suci, tetapi karena akar persoalan pertanian Bali tidak pernah benar-benar kita rawat.
Kita ingin harga murah, tetapi tidak serius menjaga petani.
Kita ingin banten lengkap, tetapi lupa siapa yang menanam kelapanya.
Kita ingin budaya tetap kokoh, tetapi abai pada fondasi pangan yang menopangnya. Inilah ironi yang terasa getir sekaligus menggelitik.
Bali hari ini terus digerus oleh perkembangan pariwisata yang melaju seperti sepeda listrik tanpa rem. Sementara pertanian, yang menjadi akar budaya dan identitas Bali, kadang tampak berjalan pelan—bahkan sesekali terpeleset. Hubungan keduanya sering disamakan dengan Tom and Jerry, saling membutuhkan, tetapi sering bertabrakan; terlihat damai, tetapi setiap saat bisa saling jebak.
Padahal pariwisata Bali lahir dari tanah pertanian. Penjor itu tidak berdiri sendiri. Ia berdiri di atas bambu yang ditanam petani. Banten itu tidak melayang turun dari langit. Ia berasal dari kebun, sawah, dan ladang. Subak itu bukan dekorasi Instagram, melainkan sistem agraris yang diwariskan ratusan tahun. Tanpa pertanian, pariwisata Bali kehilangan ceritanya.
Tanpa petani, budaya Bali kehilangan rohnya.
Sementara itu, dunia pendidikan kita tak kalah lucu, sekaligus menyedihkan. Rekrutmen siswa SMK sekarang seperti pertarungan bebas—semua sekolah memperebutkan siswa dengan segala macam strategi: seragam gratis, fasilitas ber-AC, janji masa depan gemilang. Di tengah hiruk pikuk itu, jurusan pertanian tampil paling sederhana: pacul, lahan praktik, tanah, dan sebuah kalimat, “Inilah masa depan Bali!”
Tapi sayangnya, masa depan Bali itu sering kalah pamor dibandingkan masa depan hotel, kafe, atau pekerjaan dunia pariwisata yang terdengar lebih mentereng. Anak-anak muda lebih tergoda pada dunia kerja yang “bersih dan dingin”, daripada dunia sawah yang “panas dan berlumpur”. Padahal masa depan pangan Bali bergantung pada mereka.
Lebih ironis lagi, petani, nelayan, dan peternak yang selama ini menyuplai kebutuhan Galungan jarang memperoleh insentif nyata. Harga naik, tetapi tidak selalu berarti kesejahteraan mereka ikut naik. Galungan meriah, tapi pelaku hulunya kadang tetap hidup pas-pasan. Sungguh, ada yang tidak beres di sini. Inilah Bali kita.
Di tengah segala keanehan itu, Galungan hadir sebagai teguran halus—teguran budaya yang tidak marah, tetapi menyentil dengan lembut. Penjor yang melambai seperti sedang bertanya, “Bagaimana mau menang melawan Adharma, kalau menjaga pertanian saja belum serius?”
Galungan bukan hanya tentang sembahyang. Ia adalah panggilan untuk kembali pada akar—akar budaya, akar ekologi, akar pangan, akar kehidupan. Jika akar itu keropos, maka pariwisata pun rapuh, budaya melemah, dan Bali kehilangan jati dirinya.
Pariwisata dan pertanian tidak harus seperti Tom and Jerry selamanya. Mereka bisa berdamai, saling menguatkan. Pertanian memberi cerita, pariwisata memberi nilai tambah. Pariwisata memberi pasar, pertanian memberi produk. Desa wisata, agroeduwisata, kuliner lokal—semuanya adalah jembatan indah antara kedua sektor yang sering disalahpahami sebagai dua kutub yang bertentangan.
Namun semua itu hanya mungkin bila kita mulai dari hulunya, yakni pendidikan pertanian yang kuat. Pendidikan yang tidak dibiarkan menjadi isapan jempol, tetapi benar-benar didukung kebijakan, anggaran, dan komitmen. Pendidikan yang membuat anak muda kembali menghargai tanah, benih, air, dan pangan.
Oleh karena itu, jika setiap Galungan harga kembali naik dan membuat kita mengeluh, mungkin itu bukan sekadar kejadian pasar. Mungkin itu cara alam mencubit kita pelan-pelan sambil berbisik:
“Kalau mau harga stabil, rawatlah hulunya.
Kalau mau budaya kuat, jagalah tanahnya.
Kalau mau Galungan tetap bermakna, jangan lupakan petaninya.”
Galungan adalah kemenangan Dharma. Akan tetapi Dharma tidak akan pernah menang
jika ayam untuk upacara harus impor, kelapa untuk penjor dan sate didatangkan dari luar pulau, dan anak-anak kita tidak lagi tertarik belajar bertani. Semoga itu tidak pernah terjadi.
Semoga Bali tetap berdiri di atas akar budaya dan akar pertaniannya. Semoga kita tidak hanya kembali ke pura pada hari Galungan, tetapi juga kembali mengingat sawah, ladang, kebun, dan laut—tempat di mana kehidupan Bali sesungguhnya bermula. [T]
Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole
RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak...
DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi Devi menempatkan bumi sebagai manife...
PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut berakar pad...
SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang ditampilkan justru wajah-wajah nyata, s...
“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens), menempatkan tindakan ekologis ‘menana...
GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung, tetapi aktivitas di lingkungan sekolah justru ber...
MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur. Mereka meletakkan tas, sembari menarik nafas panjang, sambil menikm...
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru SMP Negeri 1 Singaraja pada Selasa, 21 A...
JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan dari Generasi Z memanfaatkan gawa...
KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT, telah memberi dampak positif dalam menjaga kesehatan ekosistem laut dan pesi...