Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari ekspektasi ideal publik. Seba sudah bermuatan seb...
SETIAP enam bulan sekali, Bali mendapatkan dua pengingat penting. Yang pertama adalah Hari Raya Galungan—kemenangan Dharma melawan Adharma, momentum untuk eling dan mulat sarira. Yang kedua adalah melonjaknya harga kebutuhan pokok yang naik seperti layangan putus. Yang satu menggerakkan hati, yang satu lagi menggerakkan kantong.
Fenomena harga ini sebetulnya ibarat drama seri yang tidak pernah tamat. Menjelang Galungan, daging naik, ayam naik, ikan naik, bahkan harga kelapa kadang-kadan ikut naik seperti ikut lomba panjat tebing. Ibu-ibu di pasar hanya menghela napas sambil berkata,
“Walau mahal, kita harus beli, yang penting Galungan tetap jalan,” meski isi tas belanja makin tipis seperti dompet akhir bulan.
Namun menariknya, kita semua menerima ini sebagai hal biasa. Seolah-olah naiknya harga setiap Galungan itu adalah takdir kosmis yang tidak bisa diganggu gugat. Kita lupa bahwa harga naik bukan karena “roh jahat” menjelang hari suci, tetapi karena akar persoalan pertanian Bali tidak pernah benar-benar kita rawat.
Kita ingin harga murah, tetapi tidak serius menjaga petani.
Kita ingin banten lengkap, tetapi lupa siapa yang menanam kelapanya.
Kita ingin budaya tetap kokoh, tetapi abai pada fondasi pangan yang menopangnya. Inilah ironi yang terasa getir sekaligus menggelitik.
Bali hari ini terus digerus oleh perkembangan pariwisata yang melaju seperti sepeda listrik tanpa rem. Sementara pertanian, yang menjadi akar budaya dan identitas Bali, kadang tampak berjalan pelan—bahkan sesekali terpeleset. Hubungan keduanya sering disamakan dengan Tom and Jerry, saling membutuhkan, tetapi sering bertabrakan; terlihat damai, tetapi setiap saat bisa saling jebak.
Padahal pariwisata Bali lahir dari tanah pertanian. Penjor itu tidak berdiri sendiri. Ia berdiri di atas bambu yang ditanam petani. Banten itu tidak melayang turun dari langit. Ia berasal dari kebun, sawah, dan ladang. Subak itu bukan dekorasi Instagram, melainkan sistem agraris yang diwariskan ratusan tahun. Tanpa pertanian, pariwisata Bali kehilangan ceritanya.
Tanpa petani, budaya Bali kehilangan rohnya.
Sementara itu, dunia pendidikan kita tak kalah lucu, sekaligus menyedihkan. Rekrutmen siswa SMK sekarang seperti pertarungan bebas—semua sekolah memperebutkan siswa dengan segala macam strategi: seragam gratis, fasilitas ber-AC, janji masa depan gemilang. Di tengah hiruk pikuk itu, jurusan pertanian tampil paling sederhana: pacul, lahan praktik, tanah, dan sebuah kalimat, “Inilah masa depan Bali!”
Tapi sayangnya, masa depan Bali itu sering kalah pamor dibandingkan masa depan hotel, kafe, atau pekerjaan dunia pariwisata yang terdengar lebih mentereng. Anak-anak muda lebih tergoda pada dunia kerja yang “bersih dan dingin”, daripada dunia sawah yang “panas dan berlumpur”. Padahal masa depan pangan Bali bergantung pada mereka.
Lebih ironis lagi, petani, nelayan, dan peternak yang selama ini menyuplai kebutuhan Galungan jarang memperoleh insentif nyata. Harga naik, tetapi tidak selalu berarti kesejahteraan mereka ikut naik. Galungan meriah, tapi pelaku hulunya kadang tetap hidup pas-pasan. Sungguh, ada yang tidak beres di sini. Inilah Bali kita.
Di tengah segala keanehan itu, Galungan hadir sebagai teguran halus—teguran budaya yang tidak marah, tetapi menyentil dengan lembut. Penjor yang melambai seperti sedang bertanya, “Bagaimana mau menang melawan Adharma, kalau menjaga pertanian saja belum serius?”
Galungan bukan hanya tentang sembahyang. Ia adalah panggilan untuk kembali pada akar—akar budaya, akar ekologi, akar pangan, akar kehidupan. Jika akar itu keropos, maka pariwisata pun rapuh, budaya melemah, dan Bali kehilangan jati dirinya.
Pariwisata dan pertanian tidak harus seperti Tom and Jerry selamanya. Mereka bisa berdamai, saling menguatkan. Pertanian memberi cerita, pariwisata memberi nilai tambah. Pariwisata memberi pasar, pertanian memberi produk. Desa wisata, agroeduwisata, kuliner lokal—semuanya adalah jembatan indah antara kedua sektor yang sering disalahpahami sebagai dua kutub yang bertentangan.
Namun semua itu hanya mungkin bila kita mulai dari hulunya, yakni pendidikan pertanian yang kuat. Pendidikan yang tidak dibiarkan menjadi isapan jempol, tetapi benar-benar didukung kebijakan, anggaran, dan komitmen. Pendidikan yang membuat anak muda kembali menghargai tanah, benih, air, dan pangan.
Oleh karena itu, jika setiap Galungan harga kembali naik dan membuat kita mengeluh, mungkin itu bukan sekadar kejadian pasar. Mungkin itu cara alam mencubit kita pelan-pelan sambil berbisik:
“Kalau mau harga stabil, rawatlah hulunya.
Kalau mau budaya kuat, jagalah tanahnya.
Kalau mau Galungan tetap bermakna, jangan lupakan petaninya.”
Galungan adalah kemenangan Dharma. Akan tetapi Dharma tidak akan pernah menang
jika ayam untuk upacara harus impor, kelapa untuk penjor dan sate didatangkan dari luar pulau, dan anak-anak kita tidak lagi tertarik belajar bertani. Semoga itu tidak pernah terjadi.
Semoga Bali tetap berdiri di atas akar budaya dan akar pertaniannya. Semoga kita tidak hanya kembali ke pura pada hari Galungan, tetapi juga kembali mengingat sawah, ladang, kebun, dan laut—tempat di mana kehidupan Bali sesungguhnya bermula. [T]
Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole
TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari ekspektasi ideal publik. Seba sudah bermuatan seb...
DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak perempuannya yang masih mengenakan busana Tari Puspanja...
LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi salah satu upaya konkret dalam menjaga keb...
DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan Indonesia, melalui release beritanya, Kemen...
SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan. Belakangan, sorotan terhadap anggaran bes...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi sangat menyedikan, semua ga...
DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan hampaD...
BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini sedang berhadapan dengan mas...
KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin merasakan keindahan alam Bali yang...
SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi 1998 seiring...