17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
UDARA Makassar terasa lembab siang itu ketika roda pesawat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin. Saya menjejakkan kaki dengan rasa yang selalu sama: rindu pada tanah Sulawesi. Kali ini bukan semata urusan akademik, melainkan perjalanan yang menautkan langkah, usia, dan rasa syukur.
Saya datang bersama istri tercinta dan sahabat dekatsaya, Prof. Dr. Suwaib Amiruddin, untuk menghadiri sidang promosi doktor di Universitas Hasanuddin. Namun di balik agenda resmi itu, kami menyiapkan diri untuk sebuah perjalanan batin yang lebih dalam.

Sebelum berangkat jauh, kami menikmati Coto Makassar Samudra yang tersohor. Kuahnya kental, aromanya kuat, dan rasa rempahnya seperti sapaan hangat dari tanah Bugis. Usai santap siang, kami menuju Parepare bersama Prof. Andi Alimuddin. Perjalanan darat ini menembus kota-kota pesisir Maros, Pangkep, Barru dengan sawah hijau dan garis pantai biru di kejauhan. Di Parepare, kopi dan Barongko menjadi teman sore kami. Barongko, kue pisang lembut yang dibungkus daun, menghadirkan nostalgia masa kecil kami, seakan mengingatkan bahwa manisnya hidup selalu datang dari kesederhanaan.
Malam menjelang, di beranda rumah Prof. Andi, kami berbincang tentang hidup, pendidikan, dan makna perjalanan. Lalu tuan rumah menatap kami sambil tersenyum, “Bagaimana kalau besok ke Toraja?” Kalimat itu seperti undangan dari alam. Saya sudah pernah ke sana, tapi ajakan kali ini terasa lain. Ada semacam panggilan batin untuk kembali.

Keesokan pagi, kami berkemas. Istri Prof. Andi membekali kami lepat ketan dan telur asin, bekal perjalanan darat yang panjang, turut serta juga putri bungsu Prof Andi, bocah kelas 5 SD, Tenri namanya. Dari Parepare kami bergerak melewati Pinrang, Sidrap, dan Enrekang. Jalan berkelok, udara makin sejuk.
Dari Parepare, mobil kami mulai menanjak perlahan meninggalkan udara pesisir yang panas menuju wilayah Pinrang. Jalanan membentang di antara hamparan sawah dan kebun kakao yang tampak hijau dan subur. Sesekali terlihat anak-anak bersepeda di pinggir jalan, menyapa ramah setiap mobil yang lewat. Pinrang terasa hidup dengan denyut pedesaan yang tenang namun bersemangat.
Kami berhenti di sebuah kios kecil di tepi jalan untuk mencicipi Dangke, makanan khas daerah ini. Seorang ibu penjual bercerita, “Dangke ini dibuat dari susu sapi segar, dicampur getah pepaya, lalu dipres tanpa bahan kimia.” Ia menawarkannya dengan sambal tomat pedas dan sedikit perasan jeruk nipis. Rasanya gurih, sederhana, tapi meninggalkan kesan otentik yang kuat, seperti wajah masyarakat Bugis yang tulus dan apa adanya.

Setelah dari Pinrang, kami mulai memasuki wilayah Enrekang, tempat di mana daratan mulai menanjak dan pemandangan berubah drastis. Bukit-bukit batu menjulang di kiri kanan jalan, menandai peralihan dari dataran ke pegunungan. Angin terasa lebih dingin, dan pepohonan tumbuh rapat meneduhi sebagian ruas jalan Trans Sulawesi.
Di sebuah pasar kecil dekat perbatasan, kami kembali berhenti untuk makan siang. Menu hari itu: Nasu Cemba, olahan daging sapi berkuah rempah dengan daun asam yang memberi sentuhan segar. “Kalau di Makassar namanya coto, tapi di sini rasanya lebih ringan,” kata seorang bapak yang duduk di meja sebelah sambil tersenyum ramah. Di warung itu, percakapan ringan antara pelancong dan warga terasa begitu alami, seperti keluarga yang baru saja bertemu kembali.
***
Perjalanan terus berlanjut ke arah Gunung Nona, ikon alam Enrekang yang menantang sekaligus memesona. Jalan berkelok naik, dan dari kejauhan tampak puncak gunung yang diselimuti kabut. Di sebuah titik pandang, kami berhenti untuk minum kopi tubruk panas yang disajikan dalam cangkir kaleng. Sambil menatap lembah luas yang membentang, saya merasakan kedamaian yang tak bisa dibeli di kota manapun, hanya suara angin, aroma kopi, dan rasa syukur dalam hati.

Kami tiba di Rantepao, Toraja Utara, menjelang malam. Kota kecil ini sejuk dan tenang, dikelilingi rumah-rumah Tongkonan beratap lengkung seperti perahu. Keesokan pagi kami menuju Londa, kompleks makam gua yang sakral. Di dinding batu tergantung peti kayu tua dan arca kayu “tau-tau” yang memandangi lembah dari ketinggian. Di sana saya merasa kecil di hadapan sejarah dan penghormatan orang Toraja kepada leluhur mereka.
Dari Londa, kami melanjutkan ke Kete Kesu, perkampungan tradisional yang masih hidup dengan adat dan kearifan lokalnya. Di depan rumah Tongkonan tergantung tanduk-tanduk kerbau, penanda kehormatan keluarga. Seorang warga bercerita bahwa setiap tanduk adalah simbol pengorbanan, tanda cinta dan penghormatan dalam upacara kematian Rambu Solo. Di Toraja, kematian bukan akhir, melainkan perjalanan menuju kehidupan abadi.
Menjelang siang kami naik ke Bukit Burake, tempat patung Yesus setinggi hampir 40 meter berdiri memandang lembah Makale. Dari puncak itu, pemandangan terbentang seperti lukisan hidup: rumah Tongkonan, kabut yang bergulung, dan suara lonceng gereja yang sayup terdengar. Di titik itu, saya terdiam lama. Ada rasa haru dan syukur, bahwa di usia yang tak muda lagi, saya masih diberi kesempatan untuk melihat keindahan yang menenangkan jiwa.
Sore menjelang ketika kami kembali ke Parepare. Di rumah keluarga Prof. Andi, kopi kembali tersaji. Percakapan ringan mengalir, diselingi tawa kecil mengenang perjalanan yang baru kami lalui. Lelah perjalanan terbayar dengan rasa syukur. Ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan jarak, tetapi dengan perasaan: bahwa hidup, sejatinya, adalah perjalanan menuju pemahaman dan ketenangan.


Perjalanan ke Toraja bukan hanya menapaki jalan berkelok di pegunungan Sulawesi Selatan, melainkan perjalanan hati untuk belajar dari kehidupan. Dari keramahan warga Bugis hingga kebijaksanaan adat Toraja, saya belajar, bahwa rasa syukur tidak datang dari pencapaian besar, melainkan dari kesederhanaan: secangkir kopi panas, kabut yang menurunkan sunyi, dan langkah yang masih bisa saya ayunkan. Alhamdulillah, hanya kepadaMu hamba bersyukur. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...