Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
UDARA Makassar terasa lembab siang itu ketika roda pesawat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin. Saya menjejakkan kaki dengan rasa yang selalu sama: rindu pada tanah Sulawesi. Kali ini bukan semata urusan akademik, melainkan perjalanan yang menautkan langkah, usia, dan rasa syukur.
Saya datang bersama istri tercinta dan sahabat dekatsaya, Prof. Dr. Suwaib Amiruddin, untuk menghadiri sidang promosi doktor di Universitas Hasanuddin. Namun di balik agenda resmi itu, kami menyiapkan diri untuk sebuah perjalanan batin yang lebih dalam.

Sebelum berangkat jauh, kami menikmati Coto Makassar Samudra yang tersohor. Kuahnya kental, aromanya kuat, dan rasa rempahnya seperti sapaan hangat dari tanah Bugis. Usai santap siang, kami menuju Parepare bersama Prof. Andi Alimuddin. Perjalanan darat ini menembus kota-kota pesisir Maros, Pangkep, Barru dengan sawah hijau dan garis pantai biru di kejauhan. Di Parepare, kopi dan Barongko menjadi teman sore kami. Barongko, kue pisang lembut yang dibungkus daun, menghadirkan nostalgia masa kecil kami, seakan mengingatkan bahwa manisnya hidup selalu datang dari kesederhanaan.
Malam menjelang, di beranda rumah Prof. Andi, kami berbincang tentang hidup, pendidikan, dan makna perjalanan. Lalu tuan rumah menatap kami sambil tersenyum, “Bagaimana kalau besok ke Toraja?” Kalimat itu seperti undangan dari alam. Saya sudah pernah ke sana, tapi ajakan kali ini terasa lain. Ada semacam panggilan batin untuk kembali.

Keesokan pagi, kami berkemas. Istri Prof. Andi membekali kami lepat ketan dan telur asin, bekal perjalanan darat yang panjang, turut serta juga putri bungsu Prof Andi, bocah kelas 5 SD, Tenri namanya. Dari Parepare kami bergerak melewati Pinrang, Sidrap, dan Enrekang. Jalan berkelok, udara makin sejuk.
Dari Parepare, mobil kami mulai menanjak perlahan meninggalkan udara pesisir yang panas menuju wilayah Pinrang. Jalanan membentang di antara hamparan sawah dan kebun kakao yang tampak hijau dan subur. Sesekali terlihat anak-anak bersepeda di pinggir jalan, menyapa ramah setiap mobil yang lewat. Pinrang terasa hidup dengan denyut pedesaan yang tenang namun bersemangat.
Kami berhenti di sebuah kios kecil di tepi jalan untuk mencicipi Dangke, makanan khas daerah ini. Seorang ibu penjual bercerita, “Dangke ini dibuat dari susu sapi segar, dicampur getah pepaya, lalu dipres tanpa bahan kimia.” Ia menawarkannya dengan sambal tomat pedas dan sedikit perasan jeruk nipis. Rasanya gurih, sederhana, tapi meninggalkan kesan otentik yang kuat, seperti wajah masyarakat Bugis yang tulus dan apa adanya.

Setelah dari Pinrang, kami mulai memasuki wilayah Enrekang, tempat di mana daratan mulai menanjak dan pemandangan berubah drastis. Bukit-bukit batu menjulang di kiri kanan jalan, menandai peralihan dari dataran ke pegunungan. Angin terasa lebih dingin, dan pepohonan tumbuh rapat meneduhi sebagian ruas jalan Trans Sulawesi.
Di sebuah pasar kecil dekat perbatasan, kami kembali berhenti untuk makan siang. Menu hari itu: Nasu Cemba, olahan daging sapi berkuah rempah dengan daun asam yang memberi sentuhan segar. “Kalau di Makassar namanya coto, tapi di sini rasanya lebih ringan,” kata seorang bapak yang duduk di meja sebelah sambil tersenyum ramah. Di warung itu, percakapan ringan antara pelancong dan warga terasa begitu alami, seperti keluarga yang baru saja bertemu kembali.
***
Perjalanan terus berlanjut ke arah Gunung Nona, ikon alam Enrekang yang menantang sekaligus memesona. Jalan berkelok naik, dan dari kejauhan tampak puncak gunung yang diselimuti kabut. Di sebuah titik pandang, kami berhenti untuk minum kopi tubruk panas yang disajikan dalam cangkir kaleng. Sambil menatap lembah luas yang membentang, saya merasakan kedamaian yang tak bisa dibeli di kota manapun, hanya suara angin, aroma kopi, dan rasa syukur dalam hati.

Kami tiba di Rantepao, Toraja Utara, menjelang malam. Kota kecil ini sejuk dan tenang, dikelilingi rumah-rumah Tongkonan beratap lengkung seperti perahu. Keesokan pagi kami menuju Londa, kompleks makam gua yang sakral. Di dinding batu tergantung peti kayu tua dan arca kayu “tau-tau” yang memandangi lembah dari ketinggian. Di sana saya merasa kecil di hadapan sejarah dan penghormatan orang Toraja kepada leluhur mereka.
Dari Londa, kami melanjutkan ke Kete Kesu, perkampungan tradisional yang masih hidup dengan adat dan kearifan lokalnya. Di depan rumah Tongkonan tergantung tanduk-tanduk kerbau, penanda kehormatan keluarga. Seorang warga bercerita bahwa setiap tanduk adalah simbol pengorbanan, tanda cinta dan penghormatan dalam upacara kematian Rambu Solo. Di Toraja, kematian bukan akhir, melainkan perjalanan menuju kehidupan abadi.
Menjelang siang kami naik ke Bukit Burake, tempat patung Yesus setinggi hampir 40 meter berdiri memandang lembah Makale. Dari puncak itu, pemandangan terbentang seperti lukisan hidup: rumah Tongkonan, kabut yang bergulung, dan suara lonceng gereja yang sayup terdengar. Di titik itu, saya terdiam lama. Ada rasa haru dan syukur, bahwa di usia yang tak muda lagi, saya masih diberi kesempatan untuk melihat keindahan yang menenangkan jiwa.
Sore menjelang ketika kami kembali ke Parepare. Di rumah keluarga Prof. Andi, kopi kembali tersaji. Percakapan ringan mengalir, diselingi tawa kecil mengenang perjalanan yang baru kami lalui. Lelah perjalanan terbayar dengan rasa syukur. Ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan jarak, tetapi dengan perasaan: bahwa hidup, sejatinya, adalah perjalanan menuju pemahaman dan ketenangan.


Perjalanan ke Toraja bukan hanya menapaki jalan berkelok di pegunungan Sulawesi Selatan, melainkan perjalanan hati untuk belajar dari kehidupan. Dari keramahan warga Bugis hingga kebijaksanaan adat Toraja, saya belajar, bahwa rasa syukur tidak datang dari pencapaian besar, melainkan dari kesederhanaan: secangkir kopi panas, kabut yang menurunkan sunyi, dan langkah yang masih bisa saya ayunkan. Alhamdulillah, hanya kepadaMu hamba bersyukur. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...