Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Kita hidup di zaman serba cepat, penuh koneksi digital, namun justru miskin keintiman batin. Dunia yang tampak saling terhubung ini sebenarnya terfragmentasi: manusia terpisah dari alam, agama terpisah dari kemanusiaan, dan akal terpisah dari hati. Dalam pusaran modernitas, manusia kerap kehilangan arah, kehilangan makna, bahkan kehilangan jati dirinya. Di sinilah pentingnya merefleksikan kembali dua arus besar pemikiran—humanisme dan spiritualisme—yang sesungguhnya dapat menyembuhkan luka peradaban kita.
Humanisme di Barat lahir dari semangat pembebasan terhadap dogma abad pertengahan. Ia menempatkan manusia sebagai pusat nilai, sebagai makhluk bebas yang berpikir dan menentukan nasibnya sendiri. Namun dalam perkembangannya, humanisme yang semula membebaskan justru sering kehilangan ruh. Ketika rasio dijadikan satu-satunya ukuran, manusia menjadi “dewa kecil” yang merasa mampu mengendalikan segalanya, tapi di dalam dirinya sendiri muncul kehampaan.
Sementara itu, spiritualisme dalam banyak bentuknya cenderung melarikan diri dari realitas. Ia menekankan dimensi roh, tetapi sering memisahkan manusia dari dunia nyata—dari penderitaan, tanggung jawab sosial, dan panggilan kemanusiaan. Akibatnya, spiritualitas kehilangan makna sosialnya, sementara humanisme kehilangan kedalaman jiwanya.
Dalam pandangan Guruji Anand Krishna, kedua arus besar itu tidak perlu dipertentangkan. Beliau memadukannya dalam satu kesadaran baru yang disebut humanisme spiritual—sebuah pandangan bahwa manusia adalah cerminan ilahi yang harus mewujudkan kasih dan kesadaran di bumi. “Spiritualitas bukan tentang meninggalkan dunia,” kata Guruji, “tetapi tentang hidup sepenuhnya di dalamnya dengan kesadaran yang lebih tinggi.”
Humanisme spiritual melihat manusia sebagai jembatan antara langit dan bumi, antara roh dan materi. Ia menolak keterpisahan, menolak dikotomi antara Tuhan dan ciptaan, antara agama dan sains. Semua adalah satu tarikan napas kesadaran. Dari kesadaran inilah lahir rasa tanggung jawab untuk mencintai, melindungi, dan menghormati kehidupan dalam segala wujudnya.
Ironisnya, dalam praktik keagamaan modern, manusia sering justru menjauh dari esensi ini. Agama, yang sejatinya adalah jembatan menuju kesadaran universal, kerap menjadi tembok pemisah antar manusia. Banyak yang sibuk menegaskan kebenaran sendiri sambil menafikan yang lain. Ritual dijalankan dengan disiplin, tetapi cinta dan welas asih—inti dari semua agama—hilang dari praktik hidup sehari-hari.
Guruji melihat fenomena ini sebagai bentuk fragmentasi kehidupan: manusia beribadah kepada Tuhan tetapi memusuhi ciptaan-Nya. Ia memuliakan teks, namun mengabaikan konteks kehidupan. Spiritualitas yang sejati, kata beliau, tidak memenjarakan Tuhan dalam kitab atau dogma, tetapi menemukan-Nya dalam setiap makhluk—dalam manusia, hewan, tumbuhan, gunung, sungai, dan samudra.
Dalam visi humanisme spiritual, alam bukan objek eksploitasi, tetapi bagian dari kesadaran yang sama. Gunung, hutan, laut, dan udara bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian dari tubuh kehidupan yang harus dijaga. Menyakiti alam berarti menyakiti diri sendiri, sebab manusia bukan penguasa bumi, melainkan penjaganya, menjaga kelestariannya.
Guruji sering menekankan bahwa spiritualitas sejati adalah ekospiritualitas—kesadaran ekologis yang bersumber dari cinta universal. Ketika kita menanam pohon, menjaga sungai, atau menyayangi hewan tanpa menyembelihkan untuk disantap di meja makan, kita sebenarnya sedang berdoa dengan tindakan. Di sinilah spiritualitas tidak lagi terbatas pada ruang ibadah, melainkan hadir dalam setiap langkah dan napas kehidupan.
Dunia modern membutuhkan kebangkitan kesadaran ini. Fragmentasi hanya dapat disembuhkan dengan kesatuan batin yang melihat semua kehidupan sebagai ekspresi tunggal dari satu sumber. Dalam pandangan Guruji Anand Krishna, inilah inti dari semua ajaran suci: oneness, kesatuan dalam keberagaman. Ketika kesadaran ini tumbuh, tidak ada lagi “aku” dan “engkau”, tidak ada “umatku” dan “umatmu”—yang ada hanyalah kita, bagian dari satu kehidupan yang sama.
Spiritualisme dan humanisme tidak lagi bertentangan, melainkan berpadu dalam satu kesadaran cinta universal. Di sinilah agama kembali menemukan maknanya, bukan sebagai sistem kepercayaan yang memisahkan, tetapi sebagai jalan untuk menyadari kesucian seluruh kehidupan.
Kita dipanggil untuk menjadi manusia seutuhnya—yang berpikir dengan jernih, merasa dengan kasih, dan bertindak dengan kesadaran. Spiritualitas yang sejati bukan pelarian dari dunia, tetapi kehadiran penuh di dalam dunia. Ia bukan tentang mencari Tuhan di langit, tetapi menemukan Tuhan dalam kehidupan itu sendiri.
Jika setiap manusia hidup dengan kesadaran ini, fragmentasi dunia akan pulih dengan sendirinya. Alam akan kembali seimbang, manusia akan kembali saling menghormati, dan peradaban akan tumbuh dalam harmoni. Inilah dunia yang dibayangkan oleh Guruji: dunia yang berlandaskan pada humanisme spiritual—di mana cinta, kesadaran, dan kemanusiaan menyatu dalam satu denyut kehidupan. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...