Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
DULU, dahulu kala. Pernah terbit majalah seni di Bali. Namanya SUARDI. Semboyan yang diusung yakni “Suara Dunia Seni”. Di edisi Januari 2005, redaksi menjelaskan Suardi adalah media seni sebagai penyerta kegiatan kesenian sekaligus merespon isu kesenian yang berkembang di masyarakat pecinta seni. Suardi juga diterbitkan untuk memunculkan gagasan atau penemuan-penemuan baru di bidang kerja kreatif dan disajikan kepada masyarakat luas sebagai informasi yang berfaedah. Sebuah niat baik, dan agung. Namun, tak semua niat baik dapat terwujud di lapangan. Pasar pembaca tak selalu siap mendukung keberlangsungan sebuah media cetak, apalagi media dengan segmen spesifik.
Penerbit Suardi yakni PT Suara Dunia Seni. Di edisi April 2005, pemimpin perusahan dipegang A.A. Gede Rai Sudhana, kemudian Pemimpin Redaksi oleh I Wayang Suardika, Redaktur Pelaksana: Hardiman, Redaksi Yudhis Muh. Burhanudin, dan Sekretaris Redaksi dipegang Made Dwi Kusumaningrum. Di posisi produksi ada Ketut Sulastana, Umum oleh I Nyoman Sudiarsa, dan Sirkulasi dikelola I Komang Agus Sugita, I Made Budarana, dan Komang Siwita. Namun di edisi Juni 2006 dan Oktober 2006, formasi pengelola telah berubah.
Nama yang tercantum di boks tersisa A.A. Gede Rai Sudhana (pemimpin perusahaan), I Wayang Suardika (pemimpin redaksi) dan Henny Handayani (redaksi). Harga jual tahun 2005 masih Rp. 8000 per eksemplar, langganan per tahun untuk daerah Bali Rp. 65.000, sedangkan pelanggan di luar Bali dibiayai Rp. 105.000. Sebenarnya, majalah yang bermarkas di Denpasar ini bermula sebagai free magazine. Edisi Desember 2004 hingga Maret 2005 digratiskan. Pengelola kemudian mengubah kebijakan, sejak edisi April 2005, mau tak mau, SUARDI harus pasang harga. Kemungkinan demi keberlangsungan. Iklan ada terus di edisi 2005 dan 2006, baik dari kalangan seniman, pecinta seni maupun dari galeri.
Sebagai media seni, Suardi termasuk banyak memuat tulisan dan karya dari kontributor luar. Ada tulisan I Wayan Setem, Arif Bagus Prasetyo, Hartanto, Luh Ketut Suryani, Seriyoga Parta, Wayan Kun Adnyana, I Wayan Sukra, A.A. Ngurah A. Mayun K. Tenaya, Wayan Adimawan, Hardiman, Arief Budiman, dan lainnya. Para kontributor menulis sesuai dengan minat masing-masing, dengan gaya sendiri. Karya tulis mereka menunjukkan luasnya jaringan kerja Suardi, sekaligus menunjukkan keberagaman isu yang digarap majalah ini.
Suardi bukan sekadar majalah seni, ia penanda zaman. Saat itu, Suardi bersaing merebut perhatian pembaca bersama Surat (Yayasan Seni Cemeti), Visual Arts, majalah Gong, Gracia, dan lainnya. Saat itu, ada euforia media seni. Bersilang merebut pasar wacana seni. Suardi jelas punya kekuatan sendiri dalam membentuk jaringan informasi dan wacana seni di Indonesia, terutama Bali.
Dunia seni pun ibarat pasar. Seni tak lagi soal kontemplasi sunyi. Seni didorong jadi aset, simbol status yang didamba. Peran pun berganti. Majalah seni kemudian memediasi nilai komersial. Artikel bersalin rupa menjadi perayaan. Potensi investasi mengalahkan gugatan sosial-politik. Seni yang dulu menjadi alat untuk mempertanyakan dunia, kini berisiko menjadi aksesori kehidupan.
Kemudian, kertas pun luruh. Layar smartphone mulai berpendar. Era digital tiba, membawa janji sekaligus paradoksnya sendiri. Nama-nama seniman baru muncul di ranah maya, meruntuhkan sekat geografis. Seni tak lagi terkurung di galeri fine art. Seni tak lagi butuh stempel dari ruang pamer pemerintah. Karya seni tak harus dipromosikan media cetak. Informasi mengalir deras, menjangkau siapa saja. Demokratisasi wacana seni terasa begitu dekat.
Namun, di tengah lautan informasi, kita terancam tenggelam. Klik dan keterbagian menjadi berhala baru. Kualitas, otentisitas, dan kedalaman wacana diuji oleh derasnya arus. Dulu, ada gerbang editorial yang menyaring. Kini, suara kritik profesional, opini pribadi, dan konten pemasaran berbaur tanpa batas.
Inilah paradoksnya. Tulisan tentang seni melimpah ruah, namun otoritas kritis justru merapuh. Pertanyaan lama, "Di mana saya bisa membaca tentang seni?", telah usang. Kini, sebuah pertanyaan baru menggema di benak kita: "Di antara riuh suara ini, siapa yang layak didengar, dan mengapa?" Tanggung jawab itu kini tak lagi di tangan editor, tetapi di pundak kita masing-masing. Simaklah riuh seni di seni.co.id, moreartmoreit.com, pojokseni.com, artnusantara.com, dan lainnya.
Kembali ke Suardi. Perjalanan majalah Suardi adalah sebuah mikrokosmos seni di Indonesia. Disana ada negosiasi tanpa henti antara identitas lokal dan pengaruh global, antara kebebasan berekspresi dan kontrol, antara pencarian intelektual dan realitas komersial. Suardi sudah menunjukkan kepada sejarah ihwal kerja budayanya.
Kini, lanskap media seni menghadapi tantangan baru. Pertanyaan lain kembali muncul. Mengapa Suardi tak muncul dalam versi online? Mengapa Suardi tak kembali turun gunung meramaikan seni di Bali dan Indonesia? Pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh para pengelola Suardi.
Atau malah nantinya, para generasi baru akan hadir dengan platform media seni yang lebih diskursif. Bagaimana pun juga, Bali masih membutuhkan media khusus seni. Setidaknya untuk merawat diskursus seni di Bali, agar terus bergelora. [T]
Gianyar, 2025
Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis ARIEF RAHZEN
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...