Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Sebanyak 370 peserta dipastikan akan mengikuti Utsawa Dharma Gita ke-32 Tahun 2025 pada 24–29 Oktober di Taman Budaya, Denpasar. Ada 9 mata lomba dalam utsawa yang digelar Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan itu.
Sembilan mata lomba adalah membaca sloka, membaca palawakya, membaca kakawin, kidung, dharmawiwada, dharmawacana berbahasa Bali, dharmawacana berbahasa Inggris, menghapal sloka dan lomba gaguritan.
"Utsawa Dharma Gita merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk melestarikan bahasa, aksara, dan sastra Bali," kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha didampingi Kepala Bidang Sejarah dan Dokumentasi Made Dana Tenaya, SE, MM di Kantor Disbud Privinsi Bali, Rabu (15/10/2025).
Selain lomba, penyelenggara juga menyiapkan pergelaran kesenian di sela-sela kompetisi. Pertunjukan ini merupakan hasil kerja sama dengan UPT Taman Budaya dan akan menampilkan berbagai seni pertunjukan daerah.
“Sambil menunggu giliran lomba, peserta dan masyarakat dapat menikmati sajian seni serta hiburan budaya Bali. Ini juga menjadi ruang ekspresi bagi seniman lokal,” kata Arya Sugiartha.
Pelestarian Bahasa dan Sastra Bali di Tengah Arus Globalisasi
Prof. Arya Sugiartha menegaskan, kegiatan ini tidak sekadar ajang lomba, tetapi juga menjadi bagian dari program pembinaan berkelanjutan dalam rangka pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali di tengah derasnya arus globalisasi.
“Pembinaan sastra Bali terus digencarkan untuk menjaga bahasa ibu agar tidak tergerus zaman,” tegasnya.
Menurutnya, berbagai aspek sastra Bali seperti Sekar Alit, Sekar Madya, dan Sekar Agung tetap dilestarikan melalui pembinaan yang dilakukan bersama Lembaga Bahasa dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali. Program ini juga merupakan implementasi dari Perda Nomor 1 Tahun 2018 dan Perda Nomor 80 Tahun 2018 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali.
Walaupun tahun ini tidak diadakan lomba tingkat nasional oleh Kementerian Agama, Pemerintah Provinsi Bali tetap menyelenggarakan Utsawa Dharma Gita tingkat provinsi sebagai bentuk komitmen pembinaan generasi muda.
“Bali kini berada di masa peralihan menuju era industri dan teknologi. Karena itu, menjaga eksistensi budaya lokal, termasuk bahasa dan sastra Bali, menjadi tantangan yang harus kita hadapi bersama,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen agar bahasa daerah tetap hidup berdampingan dengan bahasa nasional dan bahasa asing yang kini banyak digunakan di dunia pendidikan dan pariwisata.
“Bahasa daerah harus dilindungi. Bahasa Indonesia digunakan untuk pergaulan formal, bahasa asing untuk interaksi global, namun bahasa ibu jangan sampai dilupakan,” tegas Prof. Arya.
Ia menambahkan, bahasa dan sastra Bali mengandung nilai moral, kebijaksanaan, dan ajaran kehidupan yang membentuk karakter masyarakat Bali. Melalui kegiatan seperti Utsawa Dharma Gita, nilai-nilai luhur tersebut diharapkan terus diwariskan kepada generasi muda. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...