Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
SUASANA rumah sederhana milik keluarga Putu Arnaya (40) di Banjar Dinas Tamblingan Desa Munduk, Buleleng, setiap hari selalu dipenuhi kesibukan. Di ruang tamu yang beralaskan tikar, suara plastik direkatkan dan aroma gurih camilan yang dibungkus memenuhi ruangan. Bersama istrinya, Ketut Partiani (39), serta kedua anaknya, Putu Ekariani (27) dan Kadek Hendriana (22), Putu Arnaya menekuni usaha rumahan yang mereka beri nama Dex Pande Cemilan.
Puluhan jenis keripik dan kacang-kacangan tersusun di ruang tamu, sebagian sudah siap dijual, sebagian lainnya menunggu untuk dikemas ulang. Dari ruangan sederhana inilah lahir usaha camilan yang kini menjadi sumber utama penghasilan keluarga.
Kisah usaha ini berawal dari pandemi Covid-19 yang melumpuhkan banyak sektor. Sebelum pandemi, Putu Arnaya bekerja sebagai makelar motor bekas. Namun, saat wabah melanda, harga motor anjlok drastis dan pembeli nyaris tidak ada.
“Untungnya stok motor saya tinggal sedikit, jadi tidak terlalu rugi. Dari sisa modal itu, saya coba usaha lain,” kata Putu Arnaya.
Awalnya, ia beralih ke pertanian dengan menanam berbagai sayuran seperti wortel, sawi, dan kol. Namun, usaha itu gagal karena harga sayur yang jatuh di pasaran.
Harapan baru muncul ketika istrinya mencoba membeli satu bal keripik singkong kiloan. Camilan itu dikemas dalam plastik kecil dan dititipkan ke sebuah warung. Tak disangka, keripik tersebut cepat habis dan mendapat pesanan ulang.
“Sejak itu saya serius menekuni usaha camilan. Awalnya pakai motor dengan keranjang, tapi lama-lama pelanggan makin banyak, jadi saya beli mobil tua bekas untuk kelancaran usaha,” katanya.
Setiap Selasa dan Kamis, Putu Arnaya bersama istrinya berkeliling mengantar camilan ke warung-warung kecil di sekitar desa. Produk mereka dijual dengan harga terjangkau, mulai Rp 9.000 per pak isi 12 bungkus.
“Kalau di warung, camilan cepat laku. Orang beli rokok atau kopi biasanya sekalian ambil keripik atau kacang,” kata Putu Arnaya.
Seorang pemilik warung, Komang Sri (30), mengaku senang menjadi langganan Dex Pande Cemilan. “Camilannya cepat habis. Menurut pembeli, harganya murah dan isinya lumayan banyak, jadi cepat laku di warung saya,” katanya.
Keripik singkong menjadi produk favorit, terutama di kalangan anak-anak sekolah yang sering membeli setelah pulang. Sementara kacang-kacangan lebih banyak dipilih orang dewasa sebagai teman minum teh atau kopi.

Dari usaha sederhana ini, keluarga Putu Arnaya kini bisa meraup omset Rp 1–2 juta per minggu, jauh lebih besar dibandingkan saat awal berjualan dengan motor yang hanya sekitar Rp 500 ribu per minggu. Permintaan biasanya meningkat tajam menjelang hari raya Galungan dan Kuningan, hingga ratusan bungkus habis terjual.
“Kalau ramai, kami bisa kewalahan membungkus. Kadang pulang jualan langsung lanjut bungkus lagi karena pesanan terlalu banyak,” kata Ketut Partiani.
Meski kedua anaknya sudah bekerja, mereka tetap menyempatkan diri membantu setiap malam. Suasana rumah kembali ramai dengan canda dan tawa ketika semua berkumpul sambil membungkus camilan.
“Kalau ada waktu luang saya pasti ikut membantu. Rasanya lebih ringan kalau dikerjakan bersama-sama,” kata Putu Ekariani.
Adiknya, Kadek Hendriana, menambahkan, “Orang tua sudah membesarkan kami. Jadi walaupun capek pulang kerja, saya dan kakak tetap ingin membantu, walau sebentar.”
Kini Dex Pande Cemilan bukan sekadar usaha kecil, tetapi juga bukti kegigihan sebuah keluarga menghadapi kesulitan ekonomi. Putu Arnaya berharap usahanya bisa terus berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.
“Yang penting kami bisa bertahan dan memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau ada rejeki lebih, ke depan kami ingin punya toko kecil sendiri,” kata Putu Arnaya.[T]
Reporter/Penulis: Putu Ayu Ariani
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...