17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
(Dibacakan di Rumah Berdaya Denpasar, pada pembukaan pameran lukisan “Ekspresi Kebahagiaan, Sabtu 27 September 2025)
Suara-suara itu
Makin mengganggu
Aku tak paham lagi
Mana nyata
Mana tak nyata
Obat penenang
Tak mampu hilangkan
Kecemasanku
Siapa yang sakit
Sebenarnya?
Kau tak mengerti
Kesedihanku
Kesendirianku
Seorang anak
Rindukan ibunya
Di rumah sakit
Mengigau
Memanggilmu
Kita begitu jauh
Kelahiran hanya urusan
Karma semata
Tiba-tiba aku merasa
Seperti Karna
Membenci Kunti
Sudahlah Ibu!
Kita sudahi permainan ini
Kutelan kepahitan
Bagai obat yang kuminum
Bertahun-tahun lamanya
2014
Ada yang bilang kita adalah pecundang
Kalah oleh pertikaian yang tak sepadan
Siapakah pemenang di antara kita?
Saat hidup kian terasa menyakitkan
Obat tersimpan di saku celana lusuh
Setiap hari ingatkan kita kelu masa lalu
Terbuang, di belantara nasib yang raib
Orang-orang tertawa tak jua menolong
Pada ujung senja, kita bertemu di halaman
Wajah lelah dan tawa tak henti berderai
Melihat hari yang tampak bagai lelucon
Sandiwara. Semua menjadi begitu lucu!
Mari nyanyikan lagu-lagu kesedihan
Walau air mata tak bisa keluar lagi
Di hari ulang tahunmu, kita akan bertemu
Secangkir kopi dan obrolan penuh makna
Terbayang akan nasib kawan-kawan kita
Mereka hanya ingin sembuh dan bekerja
Kalah oleh delusi dan dikejar kecemasan
Dibunuh waktu, tak berdaya, akhirnya mati
Harapan. Hanya itu yang kini tersisa.
Kulihat senyum mengembang pagi ini
Di halaman koran, berita tak lagi sama
Pada kita yang pernah berlari telanjang
Di jalan waktu yang tenyata telah berlalu
Menjadi kenangan, pelajaran hidup abadi
2020
'Tidur jam berapa semalam? Apakah
tidurmu nyenyak, apakah bermimpi buruk
sehingga engkau terbangun tengah malam?
Lalu terjaga hingga suara ayam berkokok
tanda pagi hari menjelang?"
Tak ada yang bertanya itu, kecuali dokter
yang setia menemaniku. Orang-orang sibuk
dengan dirinya sendiri; menatap layar ponsel
pintar, tersenyum dan tertawa sendiri bagai
orang sakit jiwa. Mereka tidak menyadari.
Hidup di kamar sempit bersama ego
yang kian besar. Kenyang sendiri,
tak peduli tetangga belum makan,
menahan lapar karena upah habis
jauh sebelum waktu gajian.
Terpaksa berutang lagi dan lagi.
Kita dididik menjadi egois sejak kecil.
Televisi terus mengajarkan kemunafikan,
mimpi-mimpi besar penuhi otak kita,
menjadi halusinasi yang membuat
kita bertemu di ruang tunggu klinik ini.
Tak ada percakapan, tentu saja.
Sibuk sendiri dengan ponsel di
genggaman tangan yang lelah.
Kota kian sesak, jalanan macet,
tekanan hidup semakin berat,
sementara politisi melupakan
janji-janji saat kampanye dulu.
Di headline media online, kenyataan
terpaksa kita akui dengan rasa malu:
juara satu angka bunuh diri, pengidap
gangguan jiwa berat terbanyak.
Bagai angin, dianggap akan berlalu.
Sebab kita mudah lupa, itu selalu.
2024
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...