Sajak-Sajak Kesehatan Mental Angga Wijaya

Angga Wijaya
by Angga Wijaya — September 28, 2025 in Puisi

Tatkala.co

(Dibacakan di Rumah Berdaya Denpasar, pada pembukaan pameran lukisan “Ekspresi Kebahagiaan, Sabtu 27 September 2025)

Skizofrenia

Suara-suara itu
Makin mengganggu
Aku tak paham lagi
Mana nyata
Mana tak nyata
Obat penenang
Tak mampu hilangkan
Kecemasanku

Siapa yang sakit
Sebenarnya?
Kau tak mengerti
Kesedihanku
Kesendirianku
Seorang anak
Rindukan ibunya
Di rumah sakit
Mengigau
Memanggilmu

Kita begitu jauh
Kelahiran hanya urusan
Karma semata

Tiba-tiba aku merasa
Seperti Karna
Membenci Kunti
Sudahlah Ibu!
Kita sudahi permainan ini
Kutelan kepahitan
Bagai obat yang kuminum
Bertahun-tahun lamanya

2014

Secangkir Kopi untuk Pak Nyoman

Ada yang bilang kita adalah pecundang
Kalah oleh pertikaian yang tak sepadan

Siapakah pemenang di antara kita?
Saat hidup kian terasa menyakitkan

Obat tersimpan di saku celana lusuh
Setiap hari ingatkan kita kelu masa lalu

Terbuang, di belantara nasib yang raib
Orang-orang tertawa tak jua menolong

Pada ujung senja, kita bertemu di halaman
Wajah lelah dan tawa tak henti berderai

Melihat hari yang tampak bagai lelucon
Sandiwara. Semua menjadi begitu lucu!

Mari nyanyikan lagu-lagu kesedihan
Walau air mata tak bisa keluar lagi

Di hari ulang tahunmu, kita akan bertemu
Secangkir kopi dan obrolan penuh makna

Terbayang akan nasib kawan-kawan kita
Mereka hanya ingin sembuh dan bekerja

Kalah oleh delusi dan dikejar kecemasan
Dibunuh waktu, tak berdaya, akhirnya mati

Harapan. Hanya itu yang kini tersisa.
Kulihat senyum mengembang pagi ini

Di halaman koran, berita tak lagi sama
Pada kita yang pernah berlari telanjang

Di jalan waktu yang tenyata telah berlalu
Menjadi kenangan, pelajaran hidup abadi

2020

Sakit Jiwa Kota

'Tidur jam berapa semalam? Apakah
tidurmu nyenyak, apakah bermimpi buruk
sehingga engkau terbangun tengah malam?
Lalu terjaga hingga suara ayam berkokok
tanda pagi hari menjelang?"

Tak ada yang bertanya itu, kecuali dokter
yang setia menemaniku. Orang-orang sibuk
dengan dirinya sendiri; menatap layar ponsel
pintar, tersenyum dan tertawa sendiri bagai
orang sakit jiwa. Mereka tidak menyadari.

Hidup di kamar sempit bersama ego
yang kian besar. Kenyang sendiri,
tak peduli tetangga belum makan,
menahan lapar karena upah habis
jauh sebelum waktu gajian.
Terpaksa berutang lagi dan lagi.

Kita dididik menjadi egois sejak kecil.
Televisi terus mengajarkan kemunafikan,
mimpi-mimpi besar penuhi otak kita,
menjadi halusinasi yang membuat
kita bertemu di ruang tunggu klinik ini.
Tak ada percakapan, tentu saja.
Sibuk sendiri dengan ponsel di
genggaman tangan yang lelah.

Kota kian sesak, jalanan macet,
tekanan hidup semakin berat,
sementara politisi melupakan
janji-janji saat kampanye dulu.

Di headline media online, kenyataan
terpaksa kita akui dengan rasa malu:
juara satu angka bunuh diri, pengidap
gangguan jiwa berat terbanyak.
Bagai angin, dianggap akan berlalu.
Sebab kita mudah lupa, itu selalu.

2024

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tag: Puisi
Avatar

Angga Wijaya

Related Posts