Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MENYAKSIKAN pameran tunggal, dari perupa Tien Hong di Santrian Art Gallery, Sanur, seakan kita diajak bersiap-siap merasakan kejutan, kenangan atau pengalaman-pengalaman indah di masa lalu. Sebab, pameran yang menampilkan karya seni di atas kanvas itu, lebih menekankan pada imajinasi, kemampuan pikiran untuk membentuk atau menciptakan gambaran, ide juga konsep mental yang tidak selalu ada dalam kenyataan.
Pameran bertajuk “Garis, Warna dan Ruang” itu telah dibuka oleh seniman kenamaan Bali, Made Djirna didampingi Made ‘Dolar’ Astawa mewakili Santrian Art Gallery ditandai pengguntingan pita, Jumat 19 September 2025. Pameran itu, sedikitnya memajang 28 karya dengan berbagai ukuran menghisasi gallery yang masih menjadi bagian dari Griya Santrian Beach Resort & Spa, Sanur. Pameran akan berlangsung hingga 30 Oktober 2025.
Upacara pembukaan pameran ini berlangsung akrab. Perupa atau pecinta seni hadir seakan memberi semangat pada Tien Hong yang berhasil menggelar pameran tunggal pertama. Acara yang berlangsung di halaman gallery itu menjadi sebuah ajang untuk bertemu membagi pengalaman dan sekedar melepas kangen. Sebab, orang-orang yang hadir lebih banyak ngobrol, sambal menikmati minuman dan camilan. Setelah pameran dibuka, suasana semakin akrab, karena diisi dengan acara makan nasi jinggo bersama.


Karya seni itu dipajang di areal dalam gallery dan beberapa di bagian luar dengan dilengkapi lampu spot kecil yang terang. Para seniman utamanya perupa dan pecinta seni lukis, tentu tidak akan canggung menikmati setiap garis dan warna dalam setiap karya itu. Namun, bagi mereka yang tak begitu faham membaca karya seni abstrak, mungkin hanya sekedar lewat saja. Walau demikian, mereka tetap akrab setiap membicarakan karya seni itu.
Karya seni rupa di atas kanvas dengan berbagai ukuran itu, tidak merepresentasikan objek atau subjek dari dunia nyata. Karena itu, jika ingin menikmati karya seni itu lebih menekankan pada kemampuan pikiran akan menciptakan gambaran. “Gagasan mengadakan pameran solo ini berkat dorongan teman-temannya. Sebelumnya, saya sudah pernah beberapa kali mengikuti pameran berkelompok, baik di Bali maupun luar Bali,” kata Tien Hong asal Kintamani ini bahagia.
Seluruh karya lukis yang dipamerkan itu oleh Tien Hong yang alumnus Instiut Seni Indonesia (ISI) Bali tahun 2005 itu seakan menuntut para pengunjung memiliki kemampuan pikiran untuk membentuk atau menciptakan gambaran, ide, atau konsep mental yang tidak selalu ada dalam kenyataan. Pengunjung tidak akan melihat bunga, manusia, binatang, tanah longsor, kritik social, sampah atau pesan lainnya. Hal itu, karena Tien Hong menggarap dari elemen-elemen penting dalam seni rupa itu, yakni garis.


Pameran solo kali pertama ini, berkat dorongan teman-temannya, saudara dan para seniornya. Sebelumnya, ia sudah pernah beberapa kali mengikuti pameran berkelompok, baik di Bali maupun luar Bali. “Karya ini murni menyusun warna agar kelihatan harmonis dan hasilnya bisa membuat orang nyaman, tenang dan senang melihatnya. Karya ini ada yang baru, ada pula dari periode sebelumnya, yakni karya tahun 2003 dan 2004. Jadi, tidak ada maksud khusus dari tema tersebut,” sebut Tien Hong.
Kurator, I Made Susanta Dwitanaya mengatakan, pameran Garis, Warna dan Ruang ini menjadi moment special bagi Tien Hong karena menjadi pameran tunggal pertama dari sekian lama melukis. Sejak awal, lukisan Tien Hong sudah abstrak. Terutama pada masa kuliah. Maklum, pada masa kuliah, Tien Hong tertarik pada mata kuliah Nirmana, kuliah dasar dalam bidang seni dan desain yang mengajarkan mahasiswa untuk mengolah dan menyusun unsur-unsur visual dasar berdasarkan prinsip-prinsip keseimbangan dan harmoni.
Tien Hong juga sangat dekat dengan alam, pohon, binatang, manusia. Ia bahkan sering mengirim foto ketika berada di hutan, di sungai dan kegiatan lain yang berhubungan dengan alam. Itu membuktikan, ia begitu dekat dengan alam, tetapi tak melahirkan kehidupan dalam karyanya. “Tien Hong lebih banyak menyerap perasaan-perasaan dalam karyanya, lalu menterjemahkan dalam seni. Apa yang dia cari dan didapat dari alam, adalah harmonisasi dan keseimbangan di tengah rutinitas dan keseharian hidup yang terkadang membawa kejenuhan,” sebutnya.


Kembali ke alam, menjadi pilihan bagi sebagian orang untuk menemukan ruang jeda itu. Tien Hong memilih berjalan di antara rimbun pepohonan, di sela-sela lebat dedaunan, atau mendaki terjal perbukitan, atau menuruni curam lembah, ketika kejenuhan dan ritme kerja di studio melanda.
Ketika kembali ke studio, yang ia bawa adalah nuansa, ritme, dan gairah artistik tak kasatmata yang memantiknya melukis kembali. “Tetapi ia tidak datang untuk menghafal bentuk dedaunan, atau mengabadikan lengkung horizon di kanvasnya atau menyalin panorama alam ke dalam bidang kanvas. Baginya, alam adalah ruang untuk bernapas, bukan ruang untuk mencatat, layaknya seorang naturalis,” imbuhnya.
Made Djirna, saat membuka pameran itu dengan mudah membaca karya lukis dalam pameran itu. Hari ini, saat pameran tunggal “Garis, Warna dan Ruang” dibuka menjadi hari-hari yang ditunggu oleh Tien Hong. Ia dan Tien Hong memiliki pengalaman yang sejalan, yakni suka blusukan di kebun, sungai, sawah dan di tempat-tempat sepi. Namun, paling tenang ketika Tien Hong membawakan madu. Perjalanan itu sangat luar biasa.
“Itu karena Tien Hong mampu memanajeman situasi di desa dan memanfaatkan apa yang ada disekitarnya, lalu bias juga berjalan ke kota menghimpun seniman, membuat karya dan berpameran. Tien Hong itu berproses panjang, hingga mampu melahirkan karya, bahkan mewujudkan dengan pameran tunggal pertama,” katanya.
Pameran tunggal ini paling penting dalam perjalananya. Tien Hong menampilkan karya yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya, yang membuatnya menjadi luar biasa. “Perjalanannya dari desa ke kota, maka hari itu adalah hidupnya. Mudah-mudahan pemeran ini sebagai tonggak untuk lebih terhubung, terpikir dan jalan lebih mikmat dalam hidup. Pameran ini akan memberi inspirasi dan pandangan baru ke depannya,” paparnya.
Made ‘Dolar’ Astawa menyambut pameran tunggal Tien Hong dengan tema Garis, Warna, dan Ruang itu dengan senang. Sebab, pameran ini bukan sekadar memperlihatkan karya-karya abstrak yang indah dipandang, tetapi juga mengajak kita masuk ke dalam ruang batin senimannya. Itu, sebuah perjalanan dan eksplorasi artistik yang lahir dari perjumpaan intim dengan alam dan kemudian diolah menjadi seni abstrak yang berkonsep pada harmoni atas elemen dasar seni lukis atau nirmana yakni; garis, warna, dan ruang.

Sebagai galeri yang sejak lama berkomitmen menghadirkan karya-karya mutakhir para seniman atau pelaku seni rupa Bali, dipercaya bahwa karya Tien Hong menawarkan lebih dari sekadar estetika visual. “Kami menyambut Tien Hong atas dedikasi dan eksplorasi artistiknya sebagai perupa untuk mempersembahkan karya-karyanya di Santrian Art Gallery Sanur ke hadapan publik seni rupa,” ucap Dolar serius.
Tien Hong menghadirkan kesegaran, energi, dan konsepsi tentang harmoni yang relevan dengan kehidupan kita hari ini, dimana setiap orang membutuhkan ruang jeda dan ketenangan secara batiniah. “Semoga pameran ini tidak hanya menjadi perayaan seni, tetapi juga pengalaman kontemplatif bagi setiap pengunjung, serta memperkaya khazanah seni abstrak Bali,” harapnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...