Puisi-puisi Chatrine F. Ndrotndrot | Aku yang Bukan Mereka

Chatrine F. Ndrotndrot
by Chatrine F. Ndrotndrot — Agustus 30, 2025 in Puisi

Tatkala.co

AKU YANG BUKAN MEREKA

Aku tak pernah benar-benar berada
di posisi perempuan-perempuan itu
yang dipatahkan dalam diam
yang disingkirkan tanpa alasan
yang tubuhnya dijadikan cerita
tanpa hak untuk bersuara

Namun, entah mengapa
aku mudah sekali menempatkan diriku
pada posisi mereka
Seolah luka itu tertulis juga di bawah lapisan kulitku
di balik senyum yang tak selalu kuat

Mereka
yang hidup dalam posisi yang sangat disayangkan
dibiarkan dalam posisi yang tak adil
dipaksa bertahan di posisi yang tak diinginkan

Aku bukan mereka
tapi kadang dunia memperlakukan kita sama
sebagai tubuh yang bisa dipilih atau bahan diabaikan
sebagai suara yang boleh dibungkam kapan saja

Maka jika aku menangis
bukan karena aku lemah
tapi karena aku tahu
rasa sakit mereka nyata
dan aku tak bisa pura-pura tak merasakan

SAHABAT DI PELUKAN ALAM

Aku merasa menyatu
dengan bisikan air yang jatuh lembut
menyapu lembut di diding batu
seakan setiap tetesnya adalah nada
yang memanggil namaku

Mereka sahabatku
udara yang menari di sela dedaunan
lumut yang membentang bagai
permadani surga
berudu mungil yang bermain riang
di dinginnya bebatuan air
Aku jatuh cinta pada setiap denyut
kehidupan ini
pada kilau basah yang memantulkan cahaya
pada daun yang basah oleh rahmat
langit
dan pada hening yang terasa begitu hidup
Di sini, aku tak lagi sendiri
Alam memelukku
dan aku memeluknya kembali

DUKA DI LEMBARAN KERTAS BISU 1

Di hadapan kertas yang tak bersuara
kupeluk luka yang enggan terbagi
Tinta menetes pelan
seperti air mata yang takut disaksikan langit

Setiap huruf berdiri gemetar
menyimpan jeritan yang tak pernah selesai
Ada nama yang kutulis
namun selalu kubiarkan kabur
takut ia kembali dalam ingatan

Kertas ini bisu
tapi ia lebih jujur dari mulut manusia
ia tahu
betapa hancur suaraku
betapa sepi berdian di dada yang penuh sesak

Andai kertas bisa menangis
barangkali ia sudah hanyut bersama air mata
tenggelam bersama rahasia yang tak pernah kusampaikan

Maka biarlah ia tetap diam
sebagai saksi yang setia
atas duka yang kucatat dalam sunyi
di lembar kertas
yang tak berani membalas

TULIS SAJA 2

Tulis saja
lirik tembang dukamu
di lembar kertas bisu
Biar ia yang menanggung
ratapmu, rahasiamu
segala jerit yang tak berani kau teriakkan kepada langit

Robek!
Robek nuranimu dengan penamu
biarkan ia berdarah huruf
menangis tinta
sampai luka berhenti menggigil

Bagi dukamu
dengan untaian kata
karena diam terlalu sempit
terlalu kejam
untuk menahan semua bebanmu

Ingatlah
kata adalah senjata terakhirmu
Ia bisa menusuk sepi
menghantam gelap
menyalakan api
di dada yang hampir padam

Dan meski dunia membisu
kau tetap punya kata
kata yang tak bisa dibungkam
kata yang selalu hidup bersamamu

LUKA YANG DISEMBUNYIKAN

Kau lihat betapa lihainya mereka
menyulam luka di balik senyum
menatap bau busuk yang kian membusuk
Seakan duka adalah pameran biasa
di ruang yang tak lagi asing

Ada tubuh yang tak pernah disemayamkan
ada tanah yang menanggung beban tanpa nama
Semua kisah itu
kebenaran yang dikebiri
hanya berani berbisik di telinga malam

Namun kelak
bila cerita itu sampai pada anakmu
mungkin ia akan memikul maut terlalu dini
terkubur sebelum sempat merasakan
panjangnya usia
karena kebenaran di sini
lebih berbahaya daripada dusta yang meraja

ADAKAH KAU LAYAK DIMAKAMKAN

Saat waktu itu tiba
aku baru akan tahu
hidup yang kau jalani adalah lorong sempit
antara napas dan kutukan kematian

Setiap langkah terasa dipaksa
hingga ujungnya kau mati
dibiarkan membusuk
seperti bangkai yang diperebutkan
burung pemangsa langit kelam

Seantero dunia tak pernah tahu siapa dirimu?
Di mana tubuhmu rebah?
Atau adakah kau layak dimakamkan?
Tulang-belulangmu barangkali
hanya menjadi butir debu
atau tanah yang tak sempat disebut subur

Pertanyaan menggantung di udara
mengepul seperti asap di lorong gelap.
Siapa kau?
di mana akhirmu?
Mengapa misteri tubuhmu
tak bisa dikenali
Bahkan forensik pun menyerah
di hadapan kegilaan ini

KAU SUDAH BERTUAN

Ada cahaya di matamu
tapi bukan untukku
Ada senyum di bibirmu
namun bukan namaku yang kau sebut

Aku berdiri di tepi jarak
menatapmu bagai bulan
yang indah
tapi terikat pada langit yang bukan milikku

Kau sudah bertuan
dan aku belajar menundukkan hati
menyembunyikan rindu
dalam lipatan doa paling sunyi

Maka biarkan aku mencintaimu
dengan cara yang tidak menggangu
seperti angin yang hanya lewat
menyentuh sebentar, lalu reda
tanpa pernah meminta balas

.

Penulis: Chatrine F. Ndrotndrot
Editor: Adnyana Ole

Tag: Puisi
Avatar

Chatrine F. Ndrotndrot

Related Posts