Wayan Jengki Sunarta# Teluk Benoa, Malam Mabuk di Ubud
TELUK BENOA -kepada investor serakah- jika suatu saat aku mati aku tak perlu kuburan bakar mayatku dan tebar abuku di laut tempat aku bisa bercanda dengan ikan-ikan...
LAGU "Kebaya Merah" yang dinyanyikan oleh Iwan Fals, rilis pada tahun 1991 dalam album kedua SWAMI, kelompok supergrup yang berdiri pada 1989, beranggotakan Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel Yakin, Nanoe, Innisisri, Jockie Suryoprayogo, Totok Tewel, dan disponsori oleh pengusaha Setiawan Djodi. Sebagian besar kelompok ini sebenarnya adalah anggota kelompok musik Sirkus Barock yang didirikan di Yogyakarta pada tahun 1970-an dan dimotori oleh Sawung Jabo, mereka adalah Naniel Yakin, Nanoe, dan Innisisri (Wikipedia).
"Kebaya Merah" dalam lagu ini menjadi simbol dari kondisi bangsa Indonesia, yang mungkin terlihat baik-baik saja (beludru), namun menyimpan duka dan pertanyaan mendalam tentang apa yang sedang terjadi. Gambaran tentang Ibu Pertiwi tanah air tercinta yang kaya sumber daya alam segalanya ada, namun masih banyak menyimpan duka, anak-anak Ibu Pertiwi belum dapat menikmati sepenuhnya seperti tersirat dalam lirik , “wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru, Ada apakah, Ibu?”
Lirik lagu ini mengandung pertanyaan kepiluan seorang ibu simbolisasi Ibu Pertiwi, seperti "Ada apakah, Ibu?", yang mencerminkan rasa penasaran dan keprihatinan terhadap situasi yang terjadi di Indonesia. Sederhananya dapat kita pahami pertanyaan “ada apakah Ibu?” misalnya “kue hasil ikhtiar Ibu Pertiwi”, tidak rata terbagi untuk putra putri Ibu Pertiwi, yang tinggal di berbagai sudut tanah air, ini yang membuat sedih duka yang sangat terasa.
Meskipun putra putri Ibu Pertiwi masih ada yang perduli dengan kesedihan dukanya, seperti terdeskripsi dalam lirik, “Ceritalah seperti dulu, duka suka yang terasa percaya pada anakmu tak terpikir ′tuk tinggalkan dirimu, Ibuku, darahku, tanah airku Tak rela kulihat kau seperti itu, Ada apakah, Ibu? Wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru Ada apakah?”
Keprihatian penulis lirik lagu ini, kemungkinan pada sakit yang tak kunjung sembuh, sakit yang diderita negeri dan anak negeri ini. Penyakit serakah mengambil sesuatu yang bukan haknya, mengeksploitasi hutan, gunung, lautan, tambang,lembah, danau, sungai, padang rumput milik Ibu Pertiwi, yang tidak dikembalikan sepenuhnya kepada pemiliknya yaitu, putra-putri Ibu Pertiwi.
Ibu Pertiwi cukup mengenakan pakaian seadanya, karena yang menjadi bebannya adalah masih banyak putra-putri Ibu Pertiwi yang belum dapat terpenuhi kebutuhan sandang, papan, pangannya yang berkualitas, kesehatan, pendidikan serta kenyamanan bekerja, seperti tersirat dalam lirik, “Kebaya merah kau kenakan, Anggun walau nampak kusam, Kerudung putih terurai, Ujung yang koyak tak kurangi cintaku”. Ibu pertiwi rela untuk tidak bermewah-mewah meskipun kursinya beralas beludru.
Ibuku, darahku, tanah airku, Tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah? Wajahmu seperti menyimpan duka, Padahal kursimu dilapisi beludru, Ada apakah? Dari bait tersebut penulis lagu ini secara lahir bathin sangat tidak rela dan terima Ibu Pertiwi terus menerus dilukai hati, lahir dan batinnya padahal negeri ini sangat kaya, tapi Ibu Pertiwi terus berduka melihat polah tingkah putra-putrinya yang tidak pernah berterimakasih pada yang melahirkannya di tanah yang penuh berkah seperti untaian mutu manikam.
Ibarat Zambrud di Katulistiwa yang membentang dari ujung Sabang sampai sudut terluar Merauke. Sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi suatu kalimat ungkapan untuk menggambarkan keadaan Bumi Pertiwi yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah.
***
Dongeng tentang negeri `Gemah Ripah Loh Jinawi' menggambarkan betapa tentram dan makmur serta suburnya tanah Ibu Pertiwi, seperti sering didongengkan kakek nenek moyang kita. Semua hasil alam melimpah-ruah seakan tidak mungkin tanah air kita menjadi tanah miskin yang kekurangan.
Namun rakyat masih tidak merdeka dan berdaulat dalam beberapa bidang, seperti pekerjaan, penghasilan, kebutahan pokok, kesehatan masih barang mahal. Ini ketidakrelaan penulis lagu “Kebaya Merah” dikatakannya dengan tegas dalam lirik, ”Ibuku, darahku, tanah airku Tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah?”
Apalagi kemarin melihat sebuah postingan para anggota parlemen berjoget jingkrak ria mendengar gaji penghasilannya akan dinaikkan, tidak rela, Ibu dilukai kembali oleh suatu keputusan yang kurang memihak pada putra-putri Ibu Pertiwi yang memiliki tingkat pengabdian luar biasa untuk menjaga Ibu Pertiwi agar dapat tersenyum, yaitu para guru di pelosok, penjaga perbatasan, para penyuluh lapangan, nelayan, petani, dan lain-lain.
Menurut Bung Karno, tidak ada kemerdekaan tanpa keadilan sosial. Gagasan Ratu Adil yang disemboyankan oleh Bung Karno itu untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil makmur gemah ripah loh jinawi.
Gagasan Ratu Adil disemboyankan oleh Bung Karno di tahun 1920-an saat Indonesia masih di bawah penjajahan Belanda. Bung Karno mengutip istilah yang disampaikan oleh Raja Kediri Jayabaya mengenai kehidupan masyarakat yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja untuk membangkitkan semangat rakyat dalam memperoleh kemerdekaan. Sebuah gagasan masyarakat yang tidak dibelenggu oleh kemiskinan.
Namun kekayaan alam yang berlimpah belumlah membuat Ibu Pertiwi tersenyum, semoga segera dapat berdaulat dalam bidang pangan, gas minyak, dan juga pekerjaan bangsanya, di usia yang sudah cukup tua ini. Ibuku, darahku, tanah airku, tak rela kulihat kau seperti itu Ada apakah? Wajahmu seperti menyimpan duka padahal kursimu dilapisi beludru. Semoga kita dapat segera membawa dan membuat Ibu Pertiwi tersenyum. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole
TELUK BENOA -kepada investor serakah- jika suatu saat aku mati aku tak perlu kuburan bakar mayatku dan tebar abuku di laut tempat aku bisa bercanda dengan ikan-ikan...
SAMPAI saat ini, sampai saat menulis esai ini, saya masih membuat cerita pendek atau cerita panjang yang dimulai dengan judul. Mungkin belum berubah, karena agak berlebihan jika sa...
APA yang kalian pikirkan setelah mendengar kata perempuan? Lemah? Cengeng? Orang yang membuat lelaki selalu merasa susah? Penakut? Manja? Atau kalian punya pikiran lain tentang per...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) tentu berkesan bagi semua mahasiswa yang mengikutinya. Bagi mahasiswa dari kampus pendidikan Hindu, seperti Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN), tentu juga...
BAPAK Nyoman Serengen (almarhum), seorang guru meditasi dan pendiri Perguruan Tenaga Dalam Bambu Kuning, suatu hari bertutur bahwa YOGA dan UGA berakar dari akar kata yang sama. Ke...
PADA 18 Agustus 2016, saya berkesempatan mengikuti seminar yang diadakan oleh Mutiara Harapan Islamic School, Tangerang. Seminar ini terasa istimewa bagi saya karena bertepatan den...
BELAKANGAN ada sebuah fenomena baru muncul di Buleleng. Yaitu, munculnya berbagai festival di berbagai tempat. Seperti wabah, seperti virus menular, festival terus muncul sambung-m...
KETIKA dramawan Putu Satria Kusuma dengan penuh semangat melakukan transformasi atau alihwahana novel “Sukreni Gadis Bali” ke dalam bentuk drama gong, saya termasuk orang yang sang...
HALO MAHASISA! Sudahkah wisuda tahun ini? Kalau belum, dengan segala rasa iba dan duka yang teramat sangat dari lubuk hati yang paling dalam, saya sarankan tak usah melanjutkan mem...
PERAWAKANNYA tinggi besar dan tentu saja tampak luar ia 100% bule. Namun siapa sangka ketika mulai bercakap tata bahasa alus singgih-nya jauh lebih baik dari saya sendiri yang lahi...