Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan
Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku jalan terang, tuhandi gelap hati ini...
bendera itu masih berkibar
seperti doa yang disematkan pada bambu
tiangnya rapuh, catnya terkelupas
namun tetap menantang angin
seolah hendak berkata:
“aku adalah saksi sejarah yang tak bisa dipadamkan.”
tetapi tanah di bawahnya tetap retak,
jalan penuh lubang menyimpan genangan,
anak-anak berlari dengan kaki telanjang
mengejar sekolah yang jauh
seperti cahaya yang menipu di balik kabut.
di mata mereka, merah putih tampak gagah,
tapi di perut mereka, lapar masih bersuara.
di buku catatan mereka, angka berhenti di halaman awal.
apakah kemerdekaan hanya untuk mereka
yang sudah kenyang?
sementara yang lapar
hanya bisa melambai pada bendera
tanpa tahu arti bebas
selain bebas untuk terus menunggu janji.
Cengkareng, Agustus 2025
di televisi, parade berjalan rapi.
barisan seragam menapak dengan nada yang sama,
musik militer menghentak seperti genderang kemenangan.
di layar itu, bangsa ini tampak gagah.
tapi di rumahku, ibu mengaduk panci kosong
lebih lama dari biasanya,
seakan-akan doa bisa menumbuhkan nasi.
di meja makan kami, sendok berbaris tanpa isi.
kami menonton pesta itu dari jauh,
seperti tamu asing di pesta tetangga
yang tak pernah mengundang kami.
kemerdekaan,
kau berjanji pulang ke setiap rumah
tapi langkahmu seperti tersesat.
kau singgah ke istana,
menyelip di pidato yang berapi-api,
namun lupa singgah di dapur kami.
kau hadir di spanduk besar di jalan raya,
tapi hilang di pasar tradisional.
kau berdiri tegak di lapangan upacara,
tapi tertidur di tubuh petani
yang tak mampu membeli pupuk lagi.
mungkin merdeka adalah seekor burung
yang dilepas dari sangkar
tapi kehilangan arah pulang.
ia berputar-putar di langit kota
sementara di kampung,
anak-anak hanya bisa menunggu
suara sayapnya.
Cengkareng, Agustus 2025
mesin pabrik berdengung
seperti doa panjang tanpa jeda.
ia terus berputar, tak pernah tidur,
sementara tubuhku pelan-pelan aus
seperti baut yang dipaksa bertahan
meski ulirnya sudah terkikis.
aku percaya, aku warga negara merdeka.
kata itu tercetak di kartu identitasku,
dikumandangkan setiap kali Agustus tiba.
tapi di slip gaji yang kusimpan rapi
tertulis angka yang selalu lebih kecil
dari kebutuhan sederhana:
sewa rumah, uang sekolah,
dan sedikit mimpi yang tak pernah terbeli.
aku pulang larut,
menyapa anakku yang sudah tertidur.
kulihat wajahnya,
dan ia seakan bertanya tanpa suara:
“ayah, apa arti bebas
jika tubuhmu masih terikat jam kerja
dan hidupmu dikejar oleh angka-angka?”
aku tak sanggup menjawab.
hanya meletakkan doa di dahinya
agar suatu hari, merdeka itu turun
bukan sebagai pidato di televisi
melainkan sebagai roti di meja,
segelas susu hangat,
dan kesempatan bagi anakku
untuk bermimpi tanpa batas.
Cengkareng, Agustus 2025
agustus datang seperti pesta.
bendera dipasang di setiap sudut jalan,
anak-anak bersorak,
lomba-lomba digelar untuk tertawa sebentar.
panjat pinang, balap karung,
semua riuh, seolah-olah
kita benar-benar telah sampai
di negeri yang dijanjikan.
tetapi setelah pesta usai,
asap kembang api memudar,
langit kembali kelabu seperti biasa.
september datang dengan tagihan listrik,
oktober dengan harga sembako,
dan bulan-bulan berikutnya
dengan pertanyaan yang tak pernah selesai:
sudahkah kita merdeka?
mungkin merdeka bukan soal bendera.
bukan pula soal siapa yang berkuasa.
ia adalah pertanyaan yang selalu terbuka,
pertanyaan yang mengguncang dada:
apakah manusia sudah bebas
dari rasa takut, dari lapar, dari luka
yang diwariskan turun-temurun?
mungkin kita belum sepenuhnya bebas,
karena kita masih harus berteriak
untuk didengar.
kita masih harus menuntut
sekadar hidup yang layak.
kemerdekaan, barangkali,
adalah rumah yang belum selesai dibangun.
Cengkareng, Agustus 2025
aku tak mencari merdeka di monumen
atau di buku sejarah yang dipelajari terburu-buru.
aku mencarinya di wajah ibu
yang menanak nasi dari beras terakhir,
di tangan ayah yang kembali dari ladang
dengan tubuh letih namun tetap tersenyum.
merdeka bukan kata besar
yang dipahat di dinding museum.
ia adalah denyut kecil sehari-hari:
kemampuan tertawa tanpa cemas,
makan tanpa menghitung utang,
belajar tanpa takut dihentikan waktu.
aku ingin merdeka hadir
di sawah yang masih menunggu hujan,
di pelabuhan kecil tempat nelayan
menambatkan perahu reotnya,
di rumah sempit yang dihuni tiga keluarga
yang tetap tertawa meski sesak.
merdeka tidak usah berwajah mewah.
cukup hadir sebagai udara lega
yang bisa kami hirup setiap hari.
cukup hadir sebagai ruang
di mana manusia boleh menjadi manusia
tanpa takut dihakimi, ditindas,
atau dilupakan sejarah.
jika itu datang,
barulah aku percaya
kemerdekaan bukan lagi mimpi bangsa,
melainkan rumah
tempat setiap manusia
boleh pulang dengan tenang.
Cengkareng, Agustus 2025
Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole
Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku jalan terang, tuhandi gelap hati ini...
Yayasan Mudra Swari Saraswati dengan bangga kembali menghadirkan Ubud Artisan Market (UAM), curated market yang merayakan kreativitas, komunitas, dan kerajinan tangan lokal berkua...
Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya. Dari akta yang “dibantu”, fakta ya...
PERAYAAN Easter atau Paskah sering kali dipahami secara eksklusif sebagai peristiwa keagamaan dalam tradisi Kristen. Ia dikaitkan dengan kebangkitan Yesus Kristus setelah penyalib...
KONFLIK antara Amerika Serikat dan Iran memang sedang memanas. Bagi sebagian orang, peristiwa ini mungkin terasa jauh, macam konflik geopolitik yang hanya relevan bagi para analis...
MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai menghangat oleh derap langkah ribuan m...
MENTAL pengemis bahkan tak berhubungan dengan kemiskinan. Itulah kenapa di Indonesia, mental ini lebih banyak diderita bukan oleh orang-orang yang miskin. Dari level terbawah hing...
Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan bergegas...
SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga cabai, tiba-tiba mendadak pu...
Dua Sayap Kesadaran Dalam perjalanan panjang peradaban manusia, seringkali seni dan sains diposisikan sebagai dua kutub yang berbeda. Sains dianggap dingin, objektif, rasional....