Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
BIBIR pantai yang dulunya ditumbuhi pohon bakau kini semakin keruh. Perlahan-lahan, namun pasti pohon bakau semakin menipis. Orang-orang yang tak kukenal mulai menebas batang-batang bakau tanpa belas kasihan. Padahal, ia sendiri tak pernah menanaminya. Ia sudah menerima dari alam. Alam menyayangi bibir pantai. Pohon-pohon bakau dibabat. Kudengar ada rencana pembangunan peristirahatan para pejabat. Jika ada tamu besar, bisa menginap di sana. Segala fasilitas berstandar internasional telah dipetakan. Keamanan dan keselamatan menjadi prioritas utama.
Ikan-ikan kecil tak lagi kutemui. Menghilang entah ke mana? Warna-warninya tak lagi menghiasinya mungkin habitatnya sudah tak bagus lagi untuk hidup. Hidup perlu kenyamanan dan memberi ketenangan saat menjalankan kehidupan. Deburan ombak semakin keras terdengar. Jika dulu, deburan agak menjauh dan pelan, sekarang semakin dekat dan mendekat. Gerusan demi gerusan menelan bibir pantaiku. Jika musim hujan, sampah-sampah menghiasi bibir pantai. Sampah plastik bercampur dengan sampah organik. Entah dari mana datangnya. Katanya kiriman. Tapi, kenapa sampah yang dikirim? Apa bibir pantaiku tempat pembuangan akhir?
Kuberanikan diri menanyakan pada orang-orang yang tak kukenal. “Kenapa dibabat bakau ini? Jika terjadi abrasi seperti ini, siapa yang bertanggung jawab?”
Orang-orang itu nyengir. “Jangan tanyakan hal itu pada kami. Kami perlu mengisi perut. Ini syukur ada tempat kerja baru. Jika tidak, kami bisa mati kelaparan. Sudahlah Pak, jangan pikirkan lagi tentang tempat ini. Ikuti saja alurnya. Sebaiknya Bapak mengurusi yang lain saja.”
Aku merasa tersinggung dengan sikapnya. Aku ambil sabitnya kuhadapkan ke tubuhnya. Coba rasakan apa yang sakit jika tubuh Bapak terkena sabit ini?”
Ia tatap wajahku. Ia tak merasa takut terhadapku. Bahkan ia rasakan kelucuan akan sikapku. “Pak, zaman sekarang tak usah terlalu idealis. Yang menyuruh ini juga bukan orang sembarangan. Kami tak ada apa-apanya. Kami hanya pekerja. Tak ada manfaatnya Bapak menggertak kami. Bagi kami, perut terisi sudah merasa bersyukur.”
Kukendorkan tanganku. Ia orang-orang tak bersalah, tapi sengaja dibuatkan agar ia yang menghadapi kenyataan. Semakin hari semakin lapang bibir pantaiku yang dulunya rimbun dengan bakau. Alat-alat berat mulai berderet yang siap melakukan eksekusi kehidupan yang ada. Pasir-pasir mulai dikeruk. Tiang-tiang beton mulai dipancangkan. Para pekerja siang malam melakukan tugasnya. Kulihat beberapa orang memberikan instruksi tentang pembangunan. Aku mematung di kejauhan karena ada larangan, selain pekerja tidak boleh masuk.
Kudatangi teman-teman kecilku yang sudah memegang jabatan. Kukatakan bibir pantai tempat bermain dulu sedang berubah wajahnya. Tak ada reaksi apapun. Aku tahu, ia juga ingin menyelamatkan jabatannya. Jabatan itu gengsi yang perlu terus dijaga keamanannya. “Maaf, tidak bisa membantu. Mungkin nasib pantai kita memang sampai di situ?”
Aku kaget dengan jawabannya. Jawaban pasrah. Jawaban kekalahan. Jawaban menyelamtakan dirinya. Idealisme bisa berubah karena tempat yang memberi kenyamanan. Aku tinggalkan teman-temanku. Aku seruduk larangan tak boleh masuk. Aku datangi orang-orang yang mengaku kontraktor itu. “Pak ini daerah larangan membangun. Kenapa berani Bapak membangun seperti ini?”
Ia tertawa terbahak-bahak. Yang nyuruh bukan orang sekecil Bapak. Kami hanya kontraktor. Apa sih yang tidak bisa berubah di negeri ini? Bapak tenang saja. Tak usah merisaukan pantai Bapak ini. Toh laut dan pantai ini bukan milik Bapak?”
Aku benar-benar tersinggung dibuatnya. Kupegang kerah bajunya. Ia tak melawan. “Percuma Bapak berlaku seperti ini. Kami menerima perintah. Bapak pun jika seperti saya akan berbuat sama. Jangan-jangan bisa melebihi dari ini. Laut dan pantai ini sudah dikapling-kapling Pak. Cuma sayang Bapak tidak dapat kaplingannya karena Bapak sering melawan. Jika saja Bapak tidak suka melawan dan mau manggut-manggut saja, tentu Bapak akan bisa hidup nyaman dan dapat kaplingan juga. Lihat itu sudah mulai diratakan biar lebih luas. Sudahlah Pak, jangan memikirkan yang tidak perlu dipikirkan. Biarkan kami bekerja.”
Aku marah dengan diriku sendiri. Kenapa tidak bisa berbuat apapun demi menyelamatkan laut dan pantai yang telah banyak menghidupiku selama ini. Aku mau mengadu, kepada siapa terus mengadu? Tak ada tempat buatku. Sudahlah pasrah saja. Tapi, pasrah bukan sikapku. Aku adukan pada gelombang. Kuadukan pada deburan ombak. Kuadukan pada Dewa Baruna. Aku duduk di bibir pantai yang semakin keruh dengan beragam keinginan. “Dewa Baruna lihatlah bibir pantai ini semakin keruh. Jika bibir sudah keruh, tentu kata-kata tak sedap akan bergemuruh. Sementara selama ini, satupun tak ada yang berani melawan. Apa Dewa Laut tak merasa sakit melihat bibir-Mu dikotori?”
Gelombang tiba-tiba meninggi. Ombak bergemuruh menghantam setiap yang ada di depannya. Kemarahan kulihat di setiap buih putihnya. Ia membentur-bentur bangunan-bangunan itu. Kulihat para pekerja berlari. Ia seperti dikejar barisan gelombang. Kulihat satu dua pekerja ditelan gelombang. Berita mengenai keganasan laut menghiasi media sosial. Beragam komentar muncul. Ada yang menyayangkan pohon bakau dibabat ada juga mengatakan memang musim sekarang ini lagi tidak baik-baik saja. Aku sendiri tak berkomentar karena bibirku sudah kurasakan semakin kelu dan keruh seperti bibir pantaiku. [T]
Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...