Daun-daun gugur juga. Angin menerbangkan kenangan, tertinggal pada ingatan masa lalu, berlalu pada album tua— lusuh dan berdebu.
Suara lantang masih terdengar, diikuti tepuk tangan orang-orang sejalan. Meski salah, juga tanpa arah. Topeng pada wajah, tak dilepaskan. Kepalsuan terus kita rayakan.
Kamera menyorot pada durjana, seperti cerita lama. Tak ada yang berbeda di sini. Kisah berulang dan kita bersulang di meja sama. Membayar kekalahan dengan menelan kenyataan pahit; dunia tak memihak pada mereka yang terusir dari rumah dan kota.
Duduk di beranda, aku mengisap sigaret dengan pelan. Menulis puisi tentang kenyataan penuh dengan delusi-ilusi.
Nama lama aku gunakan lagi. Kembali jadi polos, sederhana—seperti harapan ibu dan ayah kandungku. Adopsi setengah hati hanya menorehkan luka. Ingin aku lupakan.
Pura di ujung barat pulau saksi semua. Ibu duduk merenung dengan doa-doa, bibirnya bergetar. Depresi ia rasakan sendirian. Ayah lelaki peragu yang hanya bisa melantunkan lagu-lagu.
Perempuan kerap kali kalah dalam sejarah. Disalahkan, tak dihargai; rahim ibarat mesin pencetak anak.
Ibu teramat kuat, antarkan tujuh anak hingga sekolah menengah atas— menyuruh mereka merantau ke kota, berjuang atas nasib diri sendiri.
Waktu abadi di selasar kenangan. Aku merindukan ibu yang telah berpulang. Wajahnya kutemui pada setiap perempuan tegar. Berjuang dengan melupakan diri, demi keluarga. Hingga tua.
2025
RUANG ABIMANYU
Seperti apa rupa matahari, aku tak pernah tahu. Di rumah sakit jiwa, waktu berjalan begitu lama. Ruangan menakutkan; sepuluh pasien dengan tingkah beragam. Kami disatukan oleh nasib.
Saat makan bersama, kami merasa menu di sana enak sekali. Penyakit ini membuat kami sangat lapar, hingga tak sabar menunggu terali dibuka oleh penjaga. Kami berhamburan keluar bangsal.
Setiap pagi, petugas membawakan kami kopi kintamani. Kami minum tergesa, hingga akhirnya gelas tak lagi penuh.
Jika ada kerabat yang membawa oleh-oleh, orang-orang meminta tanpa malu. Seperti ada kesepakatan bersama; sama rata sama rasa.
Pulang dari sana, rasa senang menyelimuti, walau ada keraguan; akankah semua sama, jika teringat perilaku kami saat sakit dulu.
Itu tiga belas tahun lalu. Tiba-tiba aku merindukan rumah sakit jiwa. Di situ aku amat bebas. Aku ingin berkunjung ke sana, mengingat lagi perjalanan itu.
2022-2025
SAJAK KIRI UNTUK SAHABAT
Mungkin kalian belum bangun, tidur dini hari, setelah lelah bekerja seharian; atau susah tidur karena banyak pikiran; scrolling medsos mencari quotes penguat hati—tetap saja masih terjaga.
Bisa jadi kalian butuh obat penenang; tapi malu untuk datang ke psikiater. Aktivis, seringkali anxiety; melihat orang di depan gang, dikira mengintai.
Ia pengemudi ojol yang tak pandai membaca google maps. Hendak mengantar makanan bagi perempuan yang baru pulang— nasib kita sama; kaum proletar yang gemetar ditelepon penagih pinjol. Utang tak terbayar.
Aku duduk di depan warung di Canggu —desa yang menjadi kota, ramai perantau sulit mencari kos karena dianggap pengacau.
Mentari makin tinggi—dan aku merasa sendiri. Buku-buku tentang revolusi di dalam tas tak aku baca. Aku sedang ingin menghayati hidup yang jarang ditulis para penulis cengeng.
Hidup di media sosial dan jarang keluar rumah. Katak bersuara keras dalam kolam internet— di luar kamar, mereka dikenal amat pendiam.
Tak ada revolusi hari ini, selain narsisisme. Ideologi telah lama mati bersama waktu. Kita semua borjuis dalam bentuk berbeda. Sajak ini kutulis di ponsel pintar, kuunggah di media sosial—buatan kapitalis.
Aku ingin ngopi dengan sederhana, bukan di bulan Juni yang telah lewat, sajak abadi dari penyair tua itu.
Kabari aku jika kalian telah bangun aku bosan terus sendirian!
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...