Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
MASUK ke areal TAT Art Space di Denpasar, Sabtu, 19 Juli 2025 sore, saya mendapati pandangan berbeda, areal outdoor maupun indoor dipenuhi rangkaian fragmen karya-karya instalasi. Satu instalasi berbahan rotan dikonstruksi membentuk figur abstrak digantung di sisi timur, benang dan beberapa peralatan lainya seperti gunting di bawahnya, karya itu berdampingan dengan seperangkat bass dan soundsystem pun berdampingan dengan patung Rangda dengan bentukan karikatural.
Sebuah plastik digelar di lantai di sisi baratnya, hanya plastik. Ketika pandangan diarahkan ke sisi selatan di ruang pameran—yang biasanya dipergunakan memajang karya, kini dipenuhi instalasi kain berwarna-warni, kober-kober ritual Bali, dan beberapa gambelan Bali seperti kendang, tawa-tawa. Sebuah jalinan rotan mewujud pohon juga dipajang di tengah-tengah kolam; sedangkan topeng-topeng Bali digantung pada sisi-sisinya; dan tepat di barat instalasi pohon yang hampir dipenuhi topeng-topeng itu, suara kracak-krecek seketika begitu mencuri perhatian.
Sebidang halaman taman yang kira-kira berukuran 3 x 5 meter itu dipenuhi botol plastik bekas minuman, dikonstruksi sebagai dinding dan diserakkan di bawah yang menghasilkan suara ketika orang-orang masuk ke dalamnya. Setelah mengarahkan langkah kaki menuju pintu masuk terdapat foto yang ditempel pada daun pintu dan terdapat beberapa instalasi juga pada bagian dalamnya.
Ringkasnya, di TAT Art Space pada hari itu terdapat pemandangan yang tidak biasa—sebagaimana pameran-pameran seni rupa pada umumnya. Tulisan kuratorial ditempel pada kaca di ruangan yang dipenuhi instalasi kain, AVIDYA tercetak dengan cukup besar dibarengi tulisan “Mempertunjukan Seni Rupa”. Pikiran saya lantas terbayang dengan istilah awidya dalam Jawa Kuna yang akar katanya diserap dari bahasa Sansekerta yang berarti kegelapan; ketidaktahuan. Lantas, apa yang ingin dihadirkan dari ketidaktahuan ini?

Pertunjukan "Avidya Mempertunjukan Seni Rupa" | Foto: Dok. AVIDYA TAT Artspace 2025
I Gede Jaya Putra menjelaskan bahwa apa yang dihadirkan pada hari itu adalah bentuk interpretasi dari terminologi “mempertunjukan seni rupa” alih-alih menyatakan “pertunjukan seni rupa” atau istilah lainnya disebut performance art. Hal itu berdasarkan kompleksitas yang akan ditunjukkan pada tiap-tiap karya.
Apa yang dihadirkan adalah bentuk interpretasi dari mereka yang memang memiliki basis pendidikan seni murni dipadukan dengan berbagai macam latar belakang pendidikan seperti musik, tari, desain, dan lainnya. Pada dasarnya, secara sederhana bahwa karya yang dihadirkan di sana pada hari itu adalah karya yang belum final sebab akan direspon oleh mereka yang dibagi menjadi beberapa kelompok atau grup.
Grup 1 digawangi oleh Budayana, Ediw, Tuki Grey dengan karya instalasi figur abstrak berbahan rotan, sound system, bass, dan patung Rangda berbahan temporer. Grup 2 diisi oleh Novi, Suma, Ghany, Nara, Kuntari dan Dalil dengan gelaran plastik, fashion, pembacaan puisi, manekin. Grup 3 dibarengi oleh Yubin, Shfpay, Kiti, Safira, Vanya, Dianita, Sumitra, Yan Camille, Ryuuji dengan karya berwujud pohon dengan topeng-topeng di tengah kolam.
Sedangkan Grup 4 digawangi oleh Dekde, Aghung Wijaya, Yedija, Jyothi dengan instalasi foto dan botol-botol bekas pada taman art space. Dan Grup 5 ada Adi Surya sendiri dengan karya kain-kain, objek ritual, dan gamelan di dalam ruangan art space.

Pertunjukan "Avidya Mempertunjukan Seni Rupa" | Foto: Dok. AVIDYA TAT Artspace 2025
Rompies sebagai kurator dalam tulisannya menyatakan bahwa ada pertanyaan mendasar yang dapat diajukan mengenai Avidya (ketidaktahuan), misalkan dapatkah karya seni rupa dimainkan seperti partiture? Dalam ranah seni rupa kontemporer, pertemuan antara rupa dan tubuh bukan hal baru, namun dalam Avidya ini ada pendekatan yang lebih radikal, bahwa karya seni rupa berupa lukisan, fotografi, patung, instalasi, maupun objek visual lainnya dapat diperankan oleh pelaku pertunjukan dan bukan merupakan sekadar ditampilkan sebagai objek pasif dalam ruang galeri.
[1] Event yang digelar menitik beratkan pada karya seni rupa secara visual, meskipun terdapat elemen-elemen di luar seni rupa, hal tersebut menjadi bagian integral yang responsiv terhadap karya seni rupa itu sendiri, dengan kata lain, seni rupa sebagai konsep dasar bentukan event.
[2] Ekspektasi yang saya bayangkan adalah sebuah pertunjukan seni yang kompleks, sebab ada pernyataan bahwa karya yang ditampilkan belum selesai dan dinyatakan selesai setelah direspon oleh performer. Hal ini mengingatkan saya pada suatu term seni rupa, yaitu Happening Art.
[3] Audiens di luar grup yang telah dibagi dan terisi oleh perupa dan perespon tidak dapat turut serta merespon karya, dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa sudah ditetapkan pagar imajiner bahwa audiens yang hadir sebagai penonton atau penikmat dalam sifat yang passif.
[4] Karya yang terikat ruang dan waktu, tentu dengan karya seni rupa yang interaktif (terbatas) oleh performer dengan unsur musik dari alat musik seperti piano, bass, permainan sound, pertunjukan tari, pertunjukan puisi, sehingga apabila jika tidak hadir saat pembukaan maka akan kehilangan momentum kecuali terdapat dokumentasi berupa video atau foto yang dapat dibaca berupa arsip yang dapat diakses. Lebih dari itu, karya model seperti ini ketika dibawa atau dipertunjukan pada tempat lain tidak akan sama dari sisi respon, akan tetapi secara konseptual masih tetap.

Pertunjukan "Avidya Mempertunjukan Seni Rupa" | Foto: Dok. AVIDYA TAT Artspace 2025
[5] Setelah selesai pertunjukan oleh masing-masing grup melakukan serupa konfirmasi, tetapi saya melihatnya menjadi sebuah klarifikasi. Bagaimanapun juga, audiens yang hadir tidak semua memiliki pemahaman atau pengalaman estetik yang sama, ada banyak pertanyaan memang ketika karya-karya yang dihadirkan menyajikan kompleksitas estetik dalam berbagai pilihan wacana dalam satu tema.
Hemat saya, proses presentasi ringkas seusai mempertunjukan karya tidak perlu dilakukan sebab akan membatasi tafsir pemaknaan dari audiens. Hal ini saya dasarkan pada pemikiran tentang fine art oleh Walter Benjamin bahwa tipikal karya fine art bersifat interpretasi terbuka atas realitas karya.
[6] Sebab sifat karya seni yang eksperimental perlu sekiranya karya-karya ini dihadirkan dalam satu waktu secara bersamaan sehingga konsepsi ruang dan waktu mempertunjukan seni tidak paralel melainkan random sehingga menciptakan konsepsi ruang dan waktu yang kompleks.
Meski pasca pembukaan dibuat rangkaian diskusi terhadap karya yang dipertunjukan terkait bagaimana mendefinisikan peristiwa kesenian ini, saya lebih cenderung membaca peristiwa ini sebagai sebuah happening art, sebuah seni yang bentuknya berkembang dari performance art. Karakteristiknya dikonstruksi atas sisi teatrikal, terjadi improvisasi dan interaktif. Sering kali mengaburkan batas antara seni dan hidup dengan menolak bentuk seni yang dalam tanda kutip, tradisional serta menekankan sisi pengalaman dari peristiwa tersebut.
Allan Kaprow dalam tulisannya “How to make an Happening” menyatakan 11 aturan, yaitu: [1] melupakan semua bentuk standar dari seni, [2] mengarahkan dengan jelas tentang seni yang dibaurkan atas happening dengan membaurkannya dengan kehidupan, [3] yang disajikan dalam Happening Art bersumber dari apa yang dialami atau dilihat dari realitas.

Pertunjukan "Avidya Mempertunjukan Seni Rupa" | Foto: Dok. AVIDYA TAT Artspace 2025
[4] membuka seluasnya ruang eksplorasi dalam konteks ruang waktu karya dihadirkan, [5] hancurkan konsep realitas waktu yang terstruktur pada satu waktu saja, [6] susun semua event di dalam Happening Art di dalam bentuk praktik yang sama dalam satu waktu sehingga sebuah event menjadi kompleks, [7] memainkan peran sesuai aturan riil tidak menduplikasi melainkan menubuhkan peran, misalkan sebagai penebang pohon yang berperanlah sebagai penebang pohon yang benar.
[8] bekerja atau menampilkan seni dengan kekuatan yang ada disekitar, apabila audiens membawa vibes kuat jadi mereka harus dilibatkan, dan lainnya, [9] untuk sebuah pertunjukan peristiwa seni, latihan itu tidak diperlukan sebab akan membuatnya kehilangan daya naturalnya dan membawa peristiwa seni menjadi terkesan dibuat-buat dengan kuat.
[10] mempertunjukan Happening Art hanya sekali pada satu tempat, mengulangnya hanya akan membuat pertunjukan menjadi kehilangan daya dobrak wacana, [11] jangan sekali-kali berfikir bahwa audiens hanyalah penonton saja sebab pertunjukan seni rupa bukan tontonan atau hiburan.
Saya setuju dan cukup menikmati apa yang dihadirkan pada “Avidya Mempertunjukan Seni Rupa” di TAT Art Space. Apa yang saya sampaikan di sini adalah catatan-catatan dalam benak ketika menjadi bagian dari sebuah pertunjukan yang menyajikan kompleksitas respon dalam konteks seni visual. Apa pun yang telah disajikan telah lewat, kini adalah menyusun masa depan dalam bentukan yang lebih kompleks dan lebih dalam, baik itu dari sisi wacana, riset, dan perwujudan serta mempertimbangan sisi interaktif dan respon dari para performer maupun audiens.
Atas nama kopi yang akan segera habis, tulisan yang dikembangkan dari catatan-catatan ringkas saya waktu itu, saya sudahi dan bersiap menunggu “Mempertunjukan Seni Rupa” yang akan datang, semoga terjadi.[T]
Dari Pohmanis ke Tegal Temu Space, Tegaltamu Batubulan, 9 Agustus 2025
Penulis: Dewa Purwita Sukahet
Editor: Jaswanto
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...