Sudah Jelas, Penyebab Stroke Adalah Nasib
Gadis itu berurai air mata, di ruang unit gawat darurat (UGD) yang riuh dan aroma obat yang bergulung. Meski terus berusaha menjawab pertanyaan dokter dengan tegar, kata-katanya y...
Pagi itu, Wayan Sucita duduk di sebuah warung kopi di Buleleng, tak jauh dari simpang tiga yang selalu ramai oleh suara klakson dan teriakan tukang sayur. Di depannya, segelas kopi Bali tubruk yang aromanya seperti pagi yang terlalu jujur. Di tangannya, ponsel yang layarnya memantulkan wajahnya sendiri, sedikit kusut tapi penuh rencana. Ia bukan mau membuka media sosial, bukan pula mau membalas pesan dari teman lama yang rajin mengirim video lucu tiap subuh. Ia mau membuka mobile banking.
Dulu, kata Sucita, urusan bank itu seperti perjalanan haji kecil: harus antri, sabar, dan siap bertemu orang-orang yang sama-sama menunggu panggilan. Sekarang, jarak antara niat dan transaksi hanya sejauh sidik jari di layar. Digital banking menghapus antrian, tapi entah kenapa ia justru merasa mendapat lebih banyak waktu untuk mengantri pada hal-hal lain: mengantri di jalan Singaraja–Seririt, mengantri pesan nasi jinggo di pojok pasar, mengantri kabar dari saudara di rantau.
CIMB Niaga, misalnya, dengan OCTO Mobile-nya, membuat hidup terasa seperti bisa dipercepat. Bayar listrik? Tinggal ketik. Kirim uang ke teman di Jawa? Tinggal geser layar. Bahkan membuka tabungan berjangka atau mengatur auto-debit kini tak perlu bersalaman dengan satpam bank. Sucita pernah iseng membayar iuran subak lewat aplikasi, dan kelian subaknya sampai menelepon: “Yan, ini beneran kamu yang bayar lewat HP? Hebat juga ya, kayak anak kota.”
Namun di balik layar yang dingin, Sucita melihat sesuatu yang hangat: kepercayaan. Warga kampung mulai percaya uangnya bisa berpindah tanpa uang itu sendiri berpindah tangan. Orang tua mulai percaya pada ponsel anaknya untuk membayar tagihan. Dan dirinya sendiri mulai percaya bahwa hidup tak melulu harus ditempuh dengan langkah kaki — kadang cukup dengan sentuhan jempol.
Di warung kopi itu, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, ia sadar satu hal: teknologi seperti ini bukan sekadar mempermudah transaksi, tapi juga memindahkan ritme hidup. Seperti memindahkan kursi di bale bengong: tata letaknya berubah, tapi rumah tetaplah rumah. Bedanya, kini ia tak lagi harus pergi ke bank setiap tanggal tua. Ia hanya perlu pergi ke warung kopi, memastikan koneksi internet bagus, dan membiarkan hidupnya berjalan sambil login. [T]
Gadis itu berurai air mata, di ruang unit gawat darurat (UGD) yang riuh dan aroma obat yang bergulung. Meski terus berusaha menjawab pertanyaan dokter dengan tegar, kata-katanya y...
Suatu hari, akhir Maret 2019, seorang teman wartawan sehabis memberikan materi jurnalistik di RRI Singaraja bertandang ke markas tatkala.co. Ia mengajak seorang teman yang tampak...
Tahun 1938, Sutan Takdir Alisyahbana (STA) mengunjungi Kintamani untuk pertamakalinya ditemani sastrawan Panji Tisna. Rupanya mereka mengunjungi Toya Bungkah (kadang ditulis Toyab...
Teduhnya Gang Rajawali yang tersisip di jalan besar Teuku Umar melatarbelakangi beragam celotehan, kerutan dahi, dan tangan-tangan terampil yang terlibat dalam lokakarya CHARCOAL...
Sebagai seorang pendidik, apakah kita memahami pedagogi sebagai konsep yang netral, obyektif, dan universal? Selain itu, apakah kita memahami pedagogi sebagai konsep yang krit...
Cerpen Agus Darmita Wirawan Lelaki itu tampak dalam kecemasan. Pagi itu ia duduk di beranda ditemani secangkir kopi kental manis dengan imbangan sebatang sigaret putih dengan t...
Jika sastra mampu meluruskan politik yang bengkok, maka suara kita dalam pemilu akan menghalangi orang jahat berkuasa, So, let’s vote millenials ! - (Marx_Tjes-sejarawan amatir Un...
PEMILIHAN Umum tinggal menghitung hari. Sebagai warga negara yang baik, nenek saya, Dadong Norit, selalu berpartisipasi. Namun sepertinya tahun ini, Dadong berencana tidak berpart...
Ketika usai tamat wisuda, kita akan dihadapkan pada suatu situasi untuk bekerja atau menjadi pengusaha. Bagi mereka yang notabene keluarga pengusaha, ya melanjutkan usaha keluarga...
Ke mana, ke mana, ke mana, ku harus mencari ke mana… Begitulah lirik lagu dengan judul “Alamat Palsu” yang dinyanyikan oleh penyanyi dangdut Ayu Ting Ting yang debut tahun 201...