Sebagai seorang pendidik, apakah kita memahami pedagogi sebagai konsep yang netral, obyektif, dan universal?
Selain itu, apakah kita memahami
pedagogi sebagai konsep yang kritis, berpihak, dan kontektual? Kemudian,
pemahaman pedagogi mana yang kita gunakan sebagai seorang pendidik?
Bisa juga kita sama sekali tidak pernah
memahami kedua-duanya sebagai seorang pendidik. Kita hanya paham caranya anak
didik meraih nilai angka tertinggi
setiap tes yang mereka hadapi. Jika hanya ini modal kita sebagai seorang pendidik,
tidak mengherankan jutaan anak-anak disebut sebagai komoditas pasar.
Komoditas pasar Pendidikan yang
membelenggu keuangan para orang tua tanpa mengetahui dengan jelas arah proses
pendidikan anak-anak mereka. Mereka bahkan mungkin hanya tahu bahwa jika
anak-anak bisa meraih semua gelar pendidikan, mereka sudah bisa mengantarkan
anak-anaknya meraih pekerjaan tertinggi dengan gajih yang sangat tinggi. Apakah
sederhana itu? Apakah justru jika salah memahami Pendidikan, kita akan
menjerumuskan bahkan menghancurkan masa depan anak-anak kita?
Bagaimana kita tidak menyesatkan dalam
menjalankan pendidikan? Jika sebagai seorang pendidik, tumpukan bahan materi
Pendidikan dipahami sebagai bahan konsep yang netral, obyektif, dan universal. Akhirnya,
kita hanya terpacu menyelesaikan tumpukan materi pendidikan dan menjejalinya
kepada anak-anak didik dengan rasa ketakutan materi tidak akan terselesaikan.
Konsep pondasi dasar dan daya kritis
anak pun semakin terlupakan. Mereka pun sebagai anak didik yang tidak mampu melahap
tuntutan dari tumpukan bahan materi Pendidikan hanya dikurung dalam permakluman
dan kompromi KKM. Dasar personalitas anak-anak pun terlupakan. Kita hanya
terjebak pada formalitas pendidikan, yakni sibuk mengurusi ritual adminitrasi
sabagai bentuk penyelamatan diri dari teguran pimpinan yang memegang kebijakan.
Siapa sebenarnya yang salah dengan semua
ini? Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan keadaan ini. Aku terlalu kecil
untuk memikirkan permasalahan ini dan tidak akan ada yang mendengarnya. Begitu
juga dengan perubahan kurikulum, berakali pun ada perubahan kurikulum yang
berubah adalah hanya perubahan adminitrasinya saja. Ritual formalitas
Pendidikan pun semakin meningkat dan semakin rumit.
Di sisi yang lain, bagaimana dengan
seorang pendidik? Entahlah, mungkin tetap saja nyaman dengan pola setatus quo
sampai berkarat. Perkembangan imajinasi, kreativitas, daya kritis, dan
personalitas anak pun ikut berkarat.
“Ahh, yang terpenting aku sudah memiliki
sertifikat profesi dan sudah mendapat tunjangan profesi. Terpenting lagi, aku
sudah memenuhi semua adminitrasi yang sudah ditentukan. Posisiku tetap akan
aman walau ada pendidik muda yang kratif!” Mungkinkah pikiranku itu benar?
Mungkin saja semua itu benar adanya,
tetapi kita hanya pura-pura tidak tahu saja. Toh kita melakukanya sudah biasa
dan sudah menjadi kebenaran Bersama. Oooh, pikiranku terlalu ngelantur kemana
seperti melihat jaman kegelapan di Yunani. Mari kita kembali kepimikiran yang
sederhana.
Bagaimana memahami sebuah materi dengan konsep
yang kritis, berpihak, dan kontektual? Aku teringat kepada seorang teman,
namanya Ngakan Putu Angga Nantha Wijaya. Ia ingin menjelaskan tentang bintang
kepada anak-anak PAUD. Ia pun membuat sebuah cerita tentang bintang agar
imajinasi anak-anak tetap hidup di masa keemas an anak itu sendiri.
Begini cerita yang dibuat Ngakan Putu
Angga Nantha Wijaya yang diberi judul “Sebuah
Cerita tentang Bintang”.
Pada suatu hari hiduplah seorang gadis kecil
bernama Starla. Dia tinggal hanya dengan ayahnya. Mungkin karena namanya,
dia sangat suka dengan bintang. Setiap malam, sebelum tidur ia selalu duduk di
serambi dan menatap bintang yang jauh. Ketika ia melihat bintang jatuh ia
selalu berharap suatu hari ia bisa berkunjung ke bintang-bintang.
Suatu malam ada suara ketukan di pintu kamarnya. Ketika
ia bangun dan membuka pintu ia melihat seorang peri bintang.
“Hei, Starla,
permintaanmu telah terkabulkan! Kemarilah kita akan terbang menuju bintang,
jadi kamu bisa bertemu dengan mereka.”
Peri memegang tangan Starla dan tiba-tiba mereka sudah
tinggi, sangat tinggi di langit. Bintang pertama yang ia lihat adalah matahari.
“Ini adalah bibiku
namanya Matahari.” Peri berkata. “Kita tidak bisa mendekatinya karena dia
sangat panas.”
“Namun, bukankah itu matahari?” Starla bertanya.
“Ya
benar, tapi ia juga sebuah bintang. Dia bintang yang sangat dekat dengan bumi
dan orang–orang menamainya matahari. Bintang yang lain letaknya lebih jauh dari
bumi. Ayo, aku akan memperkenalkan kamu pada keponakanku.”
Sekarang mereka melihat sebuah bintang berwarna biru yang
sangat cantik. “Halo nama saya Starla, kenapa kamu berwarna biru? Aku bahkan
tidak tahu kalau ada bintang berwarna biru.”
“Kamu
tidak bisa melihatku dari bumi. Aku adalah bintang yang masih sangat muda
sehingga aku berwarna biru. Ketika aku sudah tumbuh menjadi lebih dewasa aku
akan menjadi seperti bintang lainnya.”
“Oh,
aku mengerti,“ kata Starla. “Terimakasih atas penjelasannya,
da..da…!”
Bintang
selanjutnya yang ditunjukkan peri adalah bintang berwarna merah. “Ini adalah
nenek saya yang sudah sangat tua.”
“Tapi kenapa ia sangat merah?”
Bintang
merah kemudian menjawab pertanyaan Starla, “Aku berwarna merah karena aku sudah
sangat tua, aku tidak kuat lagi untuk bersinar terang dan tak lama lagi aku
akan jatuh.”
Starla
menangis, “Oh tidak, tolong jangan jatuh!”
Kemudian
nenek bintang menjawab, “Itu tidak masalah anak manis, kita semua dilahirkan
dan kita akan mati suatu saat nanti. Ketika aku terjatuh orang-orang di bumi
bisa melihatku dan mengajukan sebuah permintaan. Itu semua membuat aku sangat
senang.” Starla akhirnya mengerti.
Di
bumi ayah Starla sedang menatap langit saat nenek bintang merah terjatuh.
“Lihat betapa indahnya, sebuah bintang jatuh,” dia berkata. “Aku mohon agar
besok, ibuku, neneknya Starla akan datang dan membawakannya hadiah yang bagus.”
Dan
kamu tahu? Setelah Starla bangun dari mimpinya yang luar biasa, neneknya datang
berkunjung dan membawakannya buku yang paling bagus tentang…, tentu saja tentang
BINTANG.
Bagaimana jika materi tentang bintang
kita lihat sebagai konsep yang netral, obyektif, dan universal pada anak-anak
usia PAUD? tentu bisa jadi kita hanya memberikan pengalaman yang kering.
Kita hanya memberikan, “Bintang
adalah….” Kemudian apa yang terjadi pada anak-anak seusia itu? Anak-anak hanya
menghapal materi itu saja. Masa keemasan pembentukan daya imajinasi, kreatifitas,
kritis, dan personalitas anak akan terlewatkan begitu saja.
Beda halnya jika kita memahami tahap
perkembangan umur anak secara psikologi pendidikan. Tentu kita akan dengan
tepat menerapkan pedagogi dalam belajar bersama dengan anak-anak. Pengalaman
Starla pun akan menjelajahi setiap imajianasi anak-anak. Tanpa disadari,
anak-anak sudah belajar tentang rasa empati dan rasa sayang maupun hal lainnya
yang akan membentuk karakter mereka.
“Sebuah
Cerita tentang Bintang” tidak hanya hanya
mengajarkan tentang bintang dengan pengertian yang baku, tetapi menjelajah dan hidup
di dalam dunia anak-anak. Begitulah Ngakan
Putu Angga Nantha Wijaya menghidupkan bagian kecil topik “Bintang” dengan
cerita tentang bintang.
Bagaimana dengan kita sebagai seorang
pendidik? Apakah kita sudah memahami perkembangan pedagogi dan psikologi
Pendidikan?
“Eheem, aku hanya tersesat dan terpaksa
menjadi seorang pendidik. Hari ini tidak merenungkan jalanku, tapi merenungka
jalan menambahkan pendapatanku,” pikiran tersesat.
Bagaimana dengan kamu? [T]