Film Pendek “Fauve”, Kisah Melanggar Sebuah Aturan Alam
Cerita pendek Le Tolstoy berjudul Master and Man bergerak seputar dua tokoh yang menarik. Membuat kisah antara dua orang memerlukan kedalaman tersendiri untuk bisa dikatakan sebag...
Pagi itu, Wayan Sucita duduk di sebuah warung kopi di Buleleng, tak jauh dari simpang tiga yang selalu ramai oleh suara klakson dan teriakan tukang sayur. Di depannya, segelas kopi Bali tubruk yang aromanya seperti pagi yang terlalu jujur. Di tangannya, ponsel yang layarnya memantulkan wajahnya sendiri, sedikit kusut tapi penuh rencana. Ia bukan mau membuka media sosial, bukan pula mau membalas pesan dari teman lama yang rajin mengirim video lucu tiap subuh. Ia mau membuka mobile banking.
Dulu, kata Sucita, urusan bank itu seperti perjalanan haji kecil: harus antri, sabar, dan siap bertemu orang-orang yang sama-sama menunggu panggilan. Sekarang, jarak antara niat dan transaksi hanya sejauh sidik jari di layar. Digital banking menghapus antrian, tapi entah kenapa ia justru merasa mendapat lebih banyak waktu untuk mengantri pada hal-hal lain: mengantri di jalan Singaraja–Seririt, mengantri pesan nasi jinggo di pojok pasar, mengantri kabar dari saudara di rantau.
CIMB Niaga, misalnya, dengan OCTO Mobile-nya, membuat hidup terasa seperti bisa dipercepat. Bayar listrik? Tinggal ketik. Kirim uang ke teman di Jawa? Tinggal geser layar. Bahkan membuka tabungan berjangka atau mengatur auto-debit kini tak perlu bersalaman dengan satpam bank. Sucita pernah iseng membayar iuran subak lewat aplikasi, dan kelian subaknya sampai menelepon: “Yan, ini beneran kamu yang bayar lewat HP? Hebat juga ya, kayak anak kota.”
Namun di balik layar yang dingin, Sucita melihat sesuatu yang hangat: kepercayaan. Warga kampung mulai percaya uangnya bisa berpindah tanpa uang itu sendiri berpindah tangan. Orang tua mulai percaya pada ponsel anaknya untuk membayar tagihan. Dan dirinya sendiri mulai percaya bahwa hidup tak melulu harus ditempuh dengan langkah kaki — kadang cukup dengan sentuhan jempol.
Di warung kopi itu, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, ia sadar satu hal: teknologi seperti ini bukan sekadar mempermudah transaksi, tapi juga memindahkan ritme hidup. Seperti memindahkan kursi di bale bengong: tata letaknya berubah, tapi rumah tetaplah rumah. Bedanya, kini ia tak lagi harus pergi ke bank setiap tanggal tua. Ia hanya perlu pergi ke warung kopi, memastikan koneksi internet bagus, dan membiarkan hidupnya berjalan sambil login. [T]
Cerita pendek Le Tolstoy berjudul Master and Man bergerak seputar dua tokoh yang menarik. Membuat kisah antara dua orang memerlukan kedalaman tersendiri untuk bisa dikatakan sebag...
Nietzsche menyatakan amor fati dalam bukunya The Gay Science sebagai penyerahan diri pada hidup dengan berkata ‘ya’ atas apapun yang menimpanya, baik atau buruk. Selanjutnya...
Cerpen: Susanti Dewi Di sebuah kota, di Jalan Veteran, pohon-pohon menari di sepanjang jalan. Daun-daun jatuh berguguran dan meliuk-liuk terbang dibawa angin. Di saat-saat sepe...
Seperti yang sering saya katakan, bahwa kampung saya, orang-orangnya masih berpikiran hirarkis dan sistem feodalisme masih ada sampai sekarang. Masih ada raja-raja kecil (priyai)...
Ini pertanyaan yang begitu sering kita dengar dalam masyarakat, jawabannya ya dan tidak. Faktanya memang ada obat-obat yang jika dikonsumsi dalam waktu lama dapat merusak ginjal....
Seniman yang tergabung dalam kelompok Oerip menggelar pameran lukisan bersama di Bentara Budaya Bali (BBB). Eksibisi yang merujuk tajuk “Oeroep” atau Urup ini dibuka secara resmi...
Pengantar Tak pernah saya bayangkan cerita epos Ramayana yang begitu/diagungkan dengan pemahamn hitam putih yang sangat gamblang dan nyata bentuknya, melalui novel yang mengamb...
Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap manusia dipastikan memiliki beribu kesalahan baik terhadap orang lain maupun dirinya sendiri. Di saat ia menyadari kesalahan yang diperbuat, ia...
Ibnu Batutah bekerja sebagai hakim di bawah Sultan India yang jutek dan tiran, Muhammad Tughluq. Sultan memerintah Ibn Batutah sebagai duta besarnya untuk sidang di Mongol Cina. I...
Kamu sama denganku. Sama-sama manusia yang lahir dari kandungan ibu dan kebingungan mencari ayah. Ibu adalah bumi, tempatmu berpijak. Ayah adalah langit, tempatmu bergantung. Jika...