Amor Fati: Menghadap Takdir dengan Kesederhanaan

Ayu Winastri
by Ayu Winastri — Oktober 05, 2019 in Ulasan

Tatkala.co

Nietzsche menyatakan amor fati dalam bukunya The Gay Science sebagai penyerahan diri pada hidup dengan berkata ‘ya’ atas apapun yang menimpanya, baik atau buruk.  Selanjutnya, Nietzsche dalam Ecce Homo menulis rahasia kebahagiaan adalah amor fati. Dengan tidak menyesali masa lalu atau takut pada masa depan, bukan dengan pasrah dan menyerah namun alih-alih mencintainya dengan seluruh.

Wayan “Jengki” Sunarta barangkali telah menemukan Amor-Fati-nya sendiri dalam puisi. Seperti tercuplik dalam puisinya “AmorFati”.


Aku mencintai takdirku

Meski ladang-ladang kuyu

Dan bunga-bunga layu

Di taman penuh debu 


Merunut proses kreatif Wayan ‘Jengki’ Sunarta, kepiawaiannya mengolah puisi tentu tidak dicapai dengan serta merta. Jalan puisi sejajar dengan pengalaman hidup si penyair, tempat manusia berdialog dengan diri, dan kerap kali mempertanyakan eksistensi dirinya. Jengki, dalam hal ini, sadar betul dengan proses yang dialaminya. Ia seolah hadir dengan kepolosan, kesederhanaan, dan kerendahatian. Ia menerima takdirnya sebagai seorang Jengki, seorang penyair, dan seorang manusia biasa.

Kesederhanaan itu dengan benderang ia nyatakan dalam puisi pertama di buku Amor Fati.


Kutulis Puisi dengan Bahasa Sederhana


Kutulis puisi dengan bahasa sederhana

Bagai kebeningan telaga

Agar mampu merasuki jiwamu

Di mana kau mampu bersekutu dengan bayanganmu


Kutulis puisi dengan bahasa sederhana

Agar bunga-bunga mekar pada tapak tanganku

Dan embun rela mengakhiri takdirnya

Demi matahari dan lebah madu


Kutulis puisi dengan bahasa sederhana

Agar jiwa kita saling meraba

Dan dengan girang kau akan berseru

: aku berada dalam pelukanmu


Kutulis puisi dengan bahasa sederhana

Mungkin kau makin tidak memahamiku

Maka dengan mesra kubiskkan kepadamu

:tidak apa-apa, sayangku


Puisi “Kutulis Puisi dengan Bahasa Sederhana” menyatakan kepada pembacanya bahwa puisi di dalam buku ini berkata-kata sederhana, berisikan sebuah ajakan serupa tuan rumah pada tamunya untuk menyantap hidangan, mari, memaknai diri. Sekaligus kerendahatian Jengki memaknai dirinya sebagai penyair bahwa ia ingin pembacanya membaca karyanya agar takdir kepenyairannya terpenuhi, dan jika mungkin pembaca bisa menjadi Jengki. Dan jika sekiranya puisi-puisinya sulit dipahami, maka biarlah begitu adanya.

Dalam “Aku Datang” Jengki menyatakan kepasrahannya sebagai manusia yang fana, menyatakan kelelahannya pada kelahiran berulang-ulang, berujung pada penerimaan pada keniscayaan kematian, namun tetap apa dan bagaimana, tentulah misteri bagi manusia.


Aku datang, aku datang

Ke dalam pelukanmu

O, samudera rahasia

Kuburan terakhirku


Tak jauh berbeda dengan Merayakan Usia 


(selamat merayakan usia, gumamku)

Semoga puisi sederhaana ini sampai padamu

Sebelum rokokku benar-benar padam

Menjadi puntung rokok mengabu)


Entah puisi ini adalah persembahan bagi kawannya yang berulang tahum atau ini adalah percakapan dalam diri, yang selagi sempat sebelum terlambat mengucapkan dan bersulang, sebab hidup itu sementara.

Jengki banyak memberikan puisi persembahan pada sekelilingnya, tak membatasi pada kawan tetapi juga pada alam dan untuk dirinya sendiri, serta puisi bernuansa gugatan sosial. “Obituari Sungaidan “Obituari Laut” menyiratkan kepedihan akan kehilangan mata sungai dan laut yang tercemar. Dalam “Berulangkali Ia Meyakinkan Aku”, kita dapat membayangkan penolakan pada janji-janji pembangunan yang mengorbankan alam, dan keprihatinan pada kaum petani, dan ragam fenomena sosial lainnya.


Berulangkali Ia Meyakinkan Aku

Demi rakyat makmur

Pantai dan teluk akan dikubur

Dengan pasir dan kapur

Namun aku terlanjur percaya

Anak-anak kepiting dan hutan bakau

Lebih penting dibela

Ketimbang silau cahaya pariwisata


Jangan lupa, Jengki adalah seorang pecinta. Pada “Sepasang Bayang”, Ia menulis sosok ratu-ratu pewayangan seperti Panchali, Saraswati, atau Dedes. Dan puisi kerinduan “Puisi Untukmu” dengan kata-kata yang cair, sebuah pernyataan dan kerinduan yang hangat, seperti pucuk-pucuk cengkeh  dan perayaan cinta kasih sesederhana kaum tani yang tetap bertahan dalam suka dan duka.


Kita rayakan hari-hari cerah

Kaum tani dan buruh

Kita kutuk tahun-tahun kelabu

Hembusan angin barat gemuruh

Menghancurkan ladang tembakau

Tapi tak usah resah, cintaku


Dalam “Yanwa Tanarsu” – sebuah anagram namanya sendiri, Jengki memecah dirinya menjadi dua pribadi, dibatasi sebilah cermin, menjadikan peristiwa teatrikal yang menarik antara Tanarsu dan Sunarta. Tanarsu yang meyakinkan dirinya yang lain di seberang, dan Sunarta yang gamang (barangkali melongo saja kehilangan kuasa diri) mendengarkan wasiat tentang takdir yang akan dijalaninya.


Kau ada dalam diri-Ku

Kita saling melengkapi

Serupa madu pada sari bunga

Seperti bintang dalam galaksi

Lalu,mengapa kau

Berjalan tidak tentu arah


Apapun itu, Jengki telah memaparkan dengan kerendahan hatinya. Dialog diri yang personal tak malu-malu ia sampaikan kepada pembaca, dengan jujur melalui puisi.  Kumpulan puisi Amor Fati oleh Wayan ‘Jengki’ Sunarta adalah sebuah kumpulan puisi yang berisi puisi-puisi yang ia kumpulkan dari tahun 2010-2019. Terangkum dalam tiga sub judul disesuaikan dengan tema: “Sepasang Bayang”, “Waktu Merapuh”, dan “Bayang yang Hilang”.

Dari keberagaman karya-karya Wayan ‘Jengki’ Sunarta, Amor Fati sangat layak dibaca oleh siapa saja dari kalangan apa saja. Puisi yang berhasil tak selalu berteka-teki, namun dapat juga bertumpu pada kedalaman maknawi dan daya renungnya. Kesederhanaan dalam kata takkan abai pada dua hal tersebut selama ada kejujuran si penulis hingga dapat diresapi oleh pembacanya.  Sebab dalam hidup, pada akhirnya yang tersisa adalah kejujuran. [T]

Avatar

Ayu Winastri

Related Posts