Balas Dendam
Cerpen: Kris Alexsandro Menjelang SMP, aku selalu dipaksa ibu dan ayah harus masuk SMP negeri yang favorit dengan ancaman tidak akan disekolahkan jika tidak masuk, Jenjang SMA...
Pagi itu, Wayan Sucita duduk di sebuah warung kopi di Buleleng, tak jauh dari simpang tiga yang selalu ramai oleh suara klakson dan teriakan tukang sayur. Di depannya, segelas kopi Bali tubruk yang aromanya seperti pagi yang terlalu jujur. Di tangannya, ponsel yang layarnya memantulkan wajahnya sendiri, sedikit kusut tapi penuh rencana. Ia bukan mau membuka media sosial, bukan pula mau membalas pesan dari teman lama yang rajin mengirim video lucu tiap subuh. Ia mau membuka mobile banking.
Dulu, kata Sucita, urusan bank itu seperti perjalanan haji kecil: harus antri, sabar, dan siap bertemu orang-orang yang sama-sama menunggu panggilan. Sekarang, jarak antara niat dan transaksi hanya sejauh sidik jari di layar. Digital banking menghapus antrian, tapi entah kenapa ia justru merasa mendapat lebih banyak waktu untuk mengantri pada hal-hal lain: mengantri di jalan Singaraja–Seririt, mengantri pesan nasi jinggo di pojok pasar, mengantri kabar dari saudara di rantau.
CIMB Niaga, misalnya, dengan OCTO Mobile-nya, membuat hidup terasa seperti bisa dipercepat. Bayar listrik? Tinggal ketik. Kirim uang ke teman di Jawa? Tinggal geser layar. Bahkan membuka tabungan berjangka atau mengatur auto-debit kini tak perlu bersalaman dengan satpam bank. Sucita pernah iseng membayar iuran subak lewat aplikasi, dan kelian subaknya sampai menelepon: “Yan, ini beneran kamu yang bayar lewat HP? Hebat juga ya, kayak anak kota.”
Namun di balik layar yang dingin, Sucita melihat sesuatu yang hangat: kepercayaan. Warga kampung mulai percaya uangnya bisa berpindah tanpa uang itu sendiri berpindah tangan. Orang tua mulai percaya pada ponsel anaknya untuk membayar tagihan. Dan dirinya sendiri mulai percaya bahwa hidup tak melulu harus ditempuh dengan langkah kaki — kadang cukup dengan sentuhan jempol.
Di warung kopi itu, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, ia sadar satu hal: teknologi seperti ini bukan sekadar mempermudah transaksi, tapi juga memindahkan ritme hidup. Seperti memindahkan kursi di bale bengong: tata letaknya berubah, tapi rumah tetaplah rumah. Bedanya, kini ia tak lagi harus pergi ke bank setiap tanggal tua. Ia hanya perlu pergi ke warung kopi, memastikan koneksi internet bagus, dan membiarkan hidupnya berjalan sambil login. [T]
Cerpen: Kris Alexsandro Menjelang SMP, aku selalu dipaksa ibu dan ayah harus masuk SMP negeri yang favorit dengan ancaman tidak akan disekolahkan jika tidak masuk, Jenjang SMA...
Sudah lama kita tidak lagi menaruh hormat kepada tempat tinggal dewa gunung. Atas nama perut, kita lepaskan batu-batu dan tanah-tanah penyangganya. Lalu kita ganti dengan semen-se...
Jayaprana adalah kisah cinta. Kisah cinta yang bernuansa elegis. Kisah cinta pedih dan tragis. Kisah cinta yang membuat air mata bercucuran dari pelupuk mata. Karena dalam kisah c...
Menjadi salah satu mahasiswa yang mengambil program studi pendidikan sejarah merupakan sebuah labelitas yang cukup berat bagi saya. Karna untuk berada dalam prodi ini mengharuskan...
Cerpen: Satria Aditya Hari sudah nampak gelap, lampu-lampu di depan rumah sudah dimatikan. Beberapa anjing nampak berkeliaran seperti saling menyapa anjing-anjing lainnya. Di s...
Cerpen: Ni Made Ari Dwijayanthi Akhirnya kau memilih tubuhku sebagai jalan kematianmu. Bersama kidung-kidung warna dan bunga yang ditempatkan musim di seluruh penjuru mata angi...
__ Nanging ne munggah ring lontar, Wong tiwas munggah ring gurit, Sampun ia mapumahan, Mangelah pyanak tetelu, Mwani pedadwanan, Luh adiri, Ne paling wayan ia...
Cerpen: Carma Citrawati Aku bersumpah! Jika aku terkena penyakit yang tak bisa disembuhkan dan aku diajak ke dukun, aku akan bunuh diri di depan ibu, daripada terkubur seperti...