Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
“JAZZ itu bukan sebatas aliran, tapi perlawanan dan kebebasan,” ujar seorang pria uzur sambil mengangguk pelan di Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2025.
Selama dua hari perhelatannya, Jumat–Sabtu, 1–2 Agustus 2025, festival ini tidak menawarkan nama-nama besar, tidak ada panggung megah dengan tata cahaya dramatis, tidak ada gimmick panggung yang berlebihan, yang ada hanya musik, percakapan improvisasi antar-musisi, dan penonton yang datang bukan untuk bersorak, tapi untuk mendengarkan. Di sinilah, di UVJF 2025, saya menemukan sesuatu yang mulai langka: festival jazz yang benar-benar jazz.
Jazz memang lahir bukan dari kemewahan. Ia tumbuh pada awal abad ke-20 di New Orleans, sebagai percampuran budaya Afrika, Eropa, dan budaya rakyat Amerika. Improvisasi spontan, ritme swing, serta dialog musikal yang bebas namun disiplin adalah ciri khasnya. Dari bebop yang rumit hingga fusion yang berani menggabungkan rock dan elektronik, jazz terus berevolusi. Tapi satu hal yang tetap sama adalah semangat kebebasan, eksperimen, dan komunikasi antar-musisi—itulah napas jazz yang sesungguhnya.


Para penikmat jazz dari berbagai negeri di UVJF 2025│Foto: tatkala.co/Dede
Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, banyak festival yang mengaku sebagai “festival jazz” justru kehilangan roh tersebut. Nama-nama populer yang bahkan tak bermain jazz dijadikan magnet utama. Musik jadi latar belakang, bukan pusat perhatian. Panggung dibangun besar, tata cahaya mencolok, dan di antara penonton, lebih banyak terlihat selfie dan sorakan daripada konsentrasi mendalam pada musik. Bukan berarti salah, festival memang butuh massa. Tapi pada titik tertentu, istilah ‘jazz’ seperti kehilangan makna, hanya menjadi label demi gengsi, agar terlihat acara berkelas.
Di tengah situasi seperti itu, UVJF memilih jalur berbeda. Sejak pertama kali dihelat pada 2013, festival ini memang tidak dirancang sebagai tontonan massal. Ia adalah ruang untuk mendengarkan, belajar, dan mengeksplorasi.
Tahun ini adalah kali ketiga UVJF dilaksanakan di Sthala, a Tribute Portfolio Hotel by Marriott di Mawang, Lodtunduh, Ubud. Kapasitas maksimal hanya sekitar 2.500 orang per hari, tapi angka itu jarang tercapai. Tak banyak penonton lokal, kebanyakan adalah wisatawan asing, duduk santai di kursi plastik atau lesehan di tikar, mereka benar-benar menyimak, bukan sekadar hadir.
UVJF juga tidak dikurasi untuk selera pasar. Kuratornya adalah musisi jazz dan sound engineer andal—Yuri Mahatma dan Anom Darsana—yang sejak awal menanamkan semangat bahwa festival ini adalah ruang musik jazz lintas benua. Musisi yang tampil bukan selebritas, melainkan penekun jazz: mereka yang mungkin asing di telinga awam, tapi membawa suara jujur dari negeri asalnya. Salah satunya, duo Jazz Steps dari Vietnam yang memadukan jazz modern dengan warna musik rakyat mereka.

Penampilan Galaksi Big Band di Giri Stage (2/8)│Foto: tatkala.co/Dede

Gustu Brahmanta (drum) saat berkolaborasi dengan Jazz Steps (1/8)│Foto: tatkala.co/Dede
Pilihan idealis semacam itu tentu punya konsekuensi. Perhelatan UVJF sedari edisi awal nyaris tak menguntungkan secara finansial. Festival ini bisa dikatakan ‘besar pasak daripada tiang’. Tapi dorongan untuk menciptakan ruang yang setia pada semangat jazz tak pernah surut. Mereka terus bertahan bukan hanya untuk perayaan tahunan, tapi untuk menjaga ekosistem: memberi ruang pada pegiat, mempertemukan pecinta, dan memperkenalkan jazz pada telinga-telinga baru—hingga musik ini tumbuh sebagai budaya yang hidup, dinamis, dan terus relevan.
Di era ketika hampir semua hal dipoles demi tampil megah dan viral, UVJF terasa seperti antitesis yang menyejukkan. Ia kecil tapi dalam, sederhana tapi bermakna. Jazz di sini bukan sekadar genre, tapi cara memperlakukan musik: sebagai dialog, eksplorasi, dan kejujuran yang tak bisa dikompromikan. Mungkin karena itulah UVJF terasa sangat jazz—bukan jazz yang riuh atau artifisial, tapi jazz yang tumbuh pelan-pelan, di antara keteduhan Ubud dan penonton yang mendengarkan dengan hati terbuka.

Para tim UVJF 2025 saat closing ceremony (2/8)│Foto: tatkala.co/Dede
Namun, sebagian orang turut mempertanyakan, sampai kapan idealisme tersebut bisa dipertahankan? Apakah UVJF akan terus menjadi festival dengan semangat benar-benar jazz? Ataukah pada akhirnya juga akan menyerah pada arus pasar dan menambah satu lagi festival dengan embel-embel jazz?
Perjalanan UVJF sampai pada perhelatan ke-12 ini tentu tidak mudah. Bukan soal teknis, bukan hanya soal biaya atau konsep acara. Tapi tentang bagaimana terus menjaga semangat, merawat ruang, menghidupkan musik, dan membuktikan bahwa jazz adalah musik untuk semua. Beberapa musisi jazz yang saya temui di UVJF berkata seragam: jazz akan terus bergerak, bertahan, dan berkembang, asal diberi ruang untuk tetap jujur.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...