Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
DISKUSI "Membaca Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi” pada acara Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 25 Juli 2025, di Museum Buleleng, Singaraja, menunjukkan bahwa fondasi utama ramuan pengobatan Bali bersumber dari berbagai sarana yang dimanfaatkan dari alam (herbal).
Dalam diskusi itu ada tiga pembicara IK Eriadi Ariana (penulis dan jurnalis), Royyan Julian (penulis), dan Dee Lestari (penulis). Pembicaraan mereka menunjukkan secara jelas bahwa para penekun dunia pengobatan Bali memiliki interaksi, interelasi, dan interdependensi dengan alam-lingkungan.
Alam menyediakan keseluruhan sistem pengetahuan pengobatan untuk manusia yang hidup di dunia, meskipun tidak dapat dipungkiri diperlukan waktu dan kesungguhan untuk mempelajarinya. Sari-sari pengalaman itulah yang kemudian ditulis dalam Usadha Buda Kecapi.

Diskusi "Membaca Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi” pada acara Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 25 Juli 2025 | Foto: tatkala.co/Eka
“Kecapi/Boda Kacapi adalah sastra tradisional Bali genre usada yang membicarakan tentang filsafat kehidupan, etika pengobatan seorang balian (penyembuh tradisional), hingga pengetahuan astronomi,” kata Eriadi.
Lantas ia membagi teks Buda Kecapi ke dalam tiga jenis sesuai koleksi Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali. Antara lain : buda kecapi cemeng, buda kecapi putih, dan buda kecapi sastra sanga.
“Buda Kecapi Cemeng menjelasan tentang teknik diagnosis dan kode etik bagi seorang penyembuh (balian). Narasi diwacanakan melalui dialog antara tokoh bernama Sang Buda Kacapi dengan Sang Kalamosada dan Kalimosadi. Teks juga membicarakan filsafat dewa-dewa di dalam tubuh manusia, simbolisme aksara, dan spiritualitas terkait pengobatan tradisional,” kata Eriadi.
Sedang Buda Kecapi Putih mengklaim diri sebagai pengetahuan pangiwa yang utama. Teks mengandung ajaran tentang filsafat hidup-mati, esensi diri yang terkait dengan Sang Hyang Siwa, esensi aksara, hingga air suci (tirta kamandalau).

Diskusi "Membaca Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi” pada acara Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 25 Juli 2025 | Foto: tatkala.co/Eka
Kemudian Buda Kecapi Sastra Sanga sebagai teks utama dari pengetahuan wariga (ilmu perbintangan), sehingga direkomendasi sebagai pegangan bagi orang yang akan memberikan petunjuk hari baik. Memuat penjelasan hari baik-buruk untuk melakukan sesuatu.
Lebih lanjut Eriadi, atau biasa dipanggil Jero Eriadi, menjelaskan tentang sisi ekologis Buda Kecapi Sastra Sanga terdapat salah satu unsur penting dalam menentukan hari baik adalah pemahaman tentang wewaran (nama-nama hari yang membangun pekan).
Selain menentukan wewaran, seorang pelajar hari baik juga wajib mengetahui esensi sasih (bulan), dina (hari), maupun dauh (waktu). Formulasi konsep-konsep tersebut melahirkan karakter dari suatu hari, sehingga dapat dimanfaatkan untuk melakoni kehidupan, misalnya untuk bercocok tanam, membuat peralatan, membangun rumah, dan sebagainya
Kemudian sebagai karya sastra, menurut Royyan Julian, Usada Budha Kecapi dirangkai dalam narasi yang sederhana. Singkatnya, ia berkisah tentang tabib gadungan bersaudara, Kali Mosadha dan Kali Moshadi yang tersandung malapraktik. Insiden itu mendorong keduanya untuk berguru kepada Budha Kecapi yang telah dikenal sebagai orang bijkasana. Di situlah Budha Kecapi menyampaikan petuah panjang-lebar tentang risalah medis.
Pengobatan ala Budha Kecapi mengombinasikan dimensi spiritual dan aspek material. Dalam alam pikir tradisional, kedua elemen tersebut memang gayung bersambut, lengkap-melengkapi, dan mustahil dipisahkan.
Itulah mengapa, kata Royyan Julian, di Usada Budha Kecapi, pengobatan herbal yang material kerap disertai mantra yang spiritual.
Bahkan, lanjutnya, pengetahuan medis Budha Kecapi konon diperoleh dengan jalan semadi. Ia menerima pencerahan dari Dewa Siwa dengan perantara ego femininnya, Dewi Durga.
“Dalam masyarakat tradisional, perempuan memang kerap memonopoli ilmu medis. Mereka memahami seluk-beluk herbal, obatan-obatan untuk janin beserta cara menggugurkannya, dan praktik melahirkan,” jelas Royyan.

Diskusi "Membaca Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi” pada acara Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 25 Juli 2025 | Foto: tatkala.co/Eka
Sampai di situ, ia juga melanjutkan penjelasannya lebih tegas, bahwa perempuan juga menjalin korespondensi mistik dengan alam—yang secara intrinsik memiliki watak feminin—sebagai pemasok kebutuhan obat-obatan.
Karena itulah perempuan acap menduduki posisi syamanistik dalam struktur masyarakat kuno. Ia berperan sebagai dokter sekaligus penghubung antara jagat sekala dan niskala.
“Masuk akal bila berkah ilmu pengobatan Budha Kecapi diperoleh melalui Batari Uma, elemen biner feminin Sang Batara Guru.”
Sementara Dee Lestari mengatakan lontar itu memiliki nilai ajaran ekologis. Bahkan, ia sudah mengimplementasikan nilai-nilai itu melalui karyanya berjudul Partikel (Bentang Pustaka, 2012).
Melalui karya novelnya itu ia menyebut secara gamblang bahwa isu lingkungan adalah partikel.
Novel itu merupakan bagian dari serial Supernova. Novel Partikel adalah buku yang keempat dan tokoh utamanya adalah Zara Amalah yang dibesarkan oleh ayahnya seorang dosen di IPB. Bapaknya Zara namanya Viras, yang terkenal laku hidupnya tidak konvensional.
Sebagai bapak, Firas tidak mengirimkan Zara ke sekolah karena dia percaya, bahwa alam adalah guru terbaik dan salah satu ujian untuk Zara, dilepas di hutan. Yang kemudian Zara harus mencari jalan pulang ke rumahnya menggunakan intuisi.
”Dan dia harus melawan rasa takutnya terhadap binatang-binatang malam, terhadap kegelapan, terhadap kesendirian sampai akhirnya Zara dinyatakan lulus oleh ayahnya,” cerita Dee Lestari tentang novelnya berjudul Partikel.
Salah satu falsafah yang kemudian Dee temukan dalam proses risetnya terhadap novel itu dalam sisi ekologisnya, bahwa manusia bagian dari alam.

Diskusi "Membaca Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi” pada acara Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 25 Juli 2025 | Foto: tatkala.co/Eka
”Kita terbiasa sekali mendengar konsep itu dan sepertinya itu adalah sebuah kebenaran. Memang benar kita semua adalah bagian dari alam. Kita punya hubungan yang sifatnya interconnectedness,” kata Dee Lestari.
Tapi, menurutnya, ada yang barangkali kurang pas dengan bagaimana kita mempersepsikan Ketika ia menemukan, bahwa, jangan-jangan bukanlah manusia bagian dari alam, tapi sebaliknya—alam adalah inti dari manusia.
Artinya, ketika sebuah sel intinya rusak musnah binasa, sudah tidak ada harapan lagi. Tapi kalau rusak baru kulitnya saja, atau permukaannya, masih ada kesempatan untuk dia sembuh dan bergenerasi.
Sehingga, manusia memiliki laku yang seimbang dengan alam. Itu untuk penyembuhan, atau, untuk tidak merusak yang dalam semakin dalam. Yang luar semakin ke dalam. [T]
Reporter: Sonhaji Abdullah
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...