“Perlu usaha dan kerja keras untuk jadi petani seperti kakek.” Kalimat polos ini keluar dari mulut seorang anak kecil dalam film pendek Ai’r. Kalimat yang terdengar sederhana, tapi justru menyimpan kegelisahan tentang masa depan profesi petani. Sekilas terasa lucu dan jujur, tapi kalau dipikir lebih jauh, ini adalah sinyal betapa bertaninya hari ini bukan lagi mimpi, melainkan beban yang diwariskan.
Film Ai’r disutradarai oleh Dian Suryantini dalam program “Begadang” dari Minikino. Dalam tantangan ini, para peserta hanya diberi waktu 36 jam untuk membuat film pendek dari nol. Hasilnya? Sebuah karya berdurasi 3 menit 43 detik yang terasa segar, kritis, dan menyentuh. Film ini sudah diputar dalam program Layar Kolektif Bali Utara di beberapa titik, seperti Kedai Kopi deKaking, Agrowisata Sawan, dan LPK Tejakula lewat inisiatif komunitas Singaraja Menonton yang didanai oleh Dana Indonesiana, LPDP.
Film Ai’r bercerita tentang seorang anak kecil yang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh kakeknya di sawah. Ia tak bertanya langsung ke kakeknya, melainkan memilih cara yang lebih sesuai dengan zamannya—bertanya ke ChatGPT. Ini saja sudah jadi satu gebrakan menarik. Sebuah jembatan antara masa lalu (petani) dan masa kini (teknologi AI). Gagasan ini tidak hanya segar, tapi juga relevan di tengah generasi yang lebih sering mengandalkan gawai daripada berdiskusi langsung dengan orang tuanya.
Dengan satu pemeran tunggal, film ini menunjukkan betapa minim interaksi tidak lantas membuat film kehilangan daya hidup. Justru sebaliknya, akting anak kecil yang masih terbata-bata membaca dan menyampaikan dialog malah memperkuat kesan natural dan polos. Ekspresinya tajam, geraknya spontan, monolognya jujur. Semua ini berhasil membangun suasana emosional yang naik-turun, dari penasaran, bersemangat, hingga mulai ragu dan kecewa terhadap kenyataan tentang dunia pertanian.
Satu adegan dalam film AI'r
Salah satu daya tarik film ini adalah cara penyampaian yang cerdas dalam menggabungkan teknologi dengan tradisi. Interaksi anak dengan ChatGPT bukan sekadar gimmick, tapi sekaligus jadi simbol realitas baru. Generasi muda kini hidup di dua dunia, dunia nyata yang semakin keras dan dunia digital yang serba cepat dan instan. Mereka tahu lebih dulu apa itu drone atau AI, tapi belum tentu tahu bagaimana menanam padi.
Film ini berhasil menjadikan teknologi bukan sebagai “musuh”, tetapi sebagai alat refleksi. Bahkan bisa jadi teknologi membantu generasi sekarang menyadari betapa pentingnya mempertahankan nilai-nilai lama, termasuk soal bertani. Tapi, apakah hanya dengan tahu lewat AI, mereka akan tertarik jadi petani seperti kakeknya? Di sinilah pertanyaan tajam film ini muncul secara halus.
Walau durasinya pendek, Ai’r dipenuhi simbol-simbol kuat. Salah satunya ketika si anak membuang cangkul dan sabit. Aksi ini terasa sederhana, tapi punya makna dalam. Membuang alat bertani bisa dibaca sebagai bentuk penolakan. Anak itu, atau mungkin generasi kita saat ini, merasa bertani bukan lagi pilihan masa depan. Dunia mengarahkan anak-anak untuk memilih profesi “modern” dan menghindari pekerjaan fisik yang kotor dan berat seperti bertani.
Tapi bukan berarti film ini pesimis. Justru sebaliknya, ia mengajak kita berpikir ulang. Ada nilai, ada warisan, ada kebutuhan dasar yang tetap harus dipenuhi—dan semua itu masih berpijak pada tanah.
Satu kekuatan besar lainnya dari Ai’r adalah caranya menyampaikan isu lingkungan. Tidak dengan narasi berat, melainkan lewat suara dan gambar. Alunan suara dari ketukan cangkul, dentingan sabit, bahkan musik klasik yang terdengar seperti datang dari tanaman Cajanus cajan (tanaman undis) menjadi latar suara yang hidup dan bermakna. Benda-benda sekitar yang menghasilkan suara alami ini menjadi bagian penting dalam membangun suasana.
Tanaman undis sendiri bukan sekadar hiasan latar. Ia mewakili strategi pertanian tradisional, ditanam saat kemarau, untuk memberi waktu istirahat bagi tanah, dan tak perlu genangan air seperti padi. Tapi di film ini, tanaman undis ditampilkan dalam kondisi kering dan nyaris mati. Ini bukan sekadar visual, tapi peringatan. Bahwa tanah mulai kelelahan, air mulai sulit ditemukan, dan lahan pertanian sedang menghadapi tekanan besar.
Film ini mengandalkan pencahayaan alami sepanjang tayangan, membuatnya terasa seperti potret kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika ada satu adegan yang tampak terlalu cerah—di tanah lapang dengan pohon bambu—kekurangan itu justru memberi warna lain. Bisa jadi ini adalah cara sang sutradara memperluas perspektif penonton, bahwa persoalan petani bukan hanya soal sawah, tapi soal alam secara keseluruhan.
Pohon bambu yang ditampilkan pun bukan sekadar elemen estetis. Bambu dikenal sebagai tanaman konservatif yang mampu menyimpan air dan menjaga kestabilan tanah. Kehadirannya yang mulai merenggang dalam film bisa dibaca sebagai alarm, bahwa lingkungan pun sedang “menjauh” dari keseimbangannya.
Ai’r adalah film kecil dengan pesan yang besar. Ia tidak muluk-muluk, tidak ribet, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Film ini berhasil membungkus keresahan soal profesi petani, perubahan zaman, serta krisis lingkungan dalam durasi yang sangat singkat. Semua disampaikan dengan jujur, segar, dan penuh perasaan.
Dian Suryantini sebagai sutradara telah menghadirkan karya yang relevan, ringan. Tak heran jika film ini berhasil masuk 10 besar kompetisi Begadang. Lebih dari sekadar cerita anak kecil yang penasaran dengan kakeknya, Ai’r adalah pengingat lembut—bahwa jika kita terus lupa siapa yang menanam, jangan heran kalau suatu saat tak ada lagi yang bisa dipanen. [T]
Penulis: Ni Made Yuli Susilawati Editor: Adnyana Ole
Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.
Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026. Mereka larut dalam Rekasadana Tari Legong yang d...
"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."
KALIMAT yang dikaitkan dengan Sri Ramakrishna melalui jawaba...
SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak lagi berdiri di belaka...
Tuhan Beri Aku Waktu
Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku merindumu tak terbatas waktuselagi napas ini bergelayut...
“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.”
PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika permukaan. Kemegahan ko...
PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab moral dan sosialnya dalam m...
SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama, pasti anda akan mudah untuk menemukan fil...
“Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?"
KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade lalu, karya eksplorasi busana yang ia tampilkan di...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING INTERCULTURAL AWA...
BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma solar, dan tubuh-tubuh kekar dengan peluh bergulir...