DISKUSI "Membaca Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi” pada acara Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 25 Juli 2025, di Museum Buleleng, Singaraja, menunjukkan bahwa fondasi utama ramuan pengobatan Bali bersumber dari berbagai sarana yang dimanfaatkan dari alam (herbal).
Dalam diskusi itu ada tiga pembicara IK Eriadi Ariana (penulis dan jurnalis), Royyan Julian (penulis), dan Dee Lestari (penulis). Pembicaraan mereka menunjukkan secara jelas bahwa para penekun dunia pengobatan Bali memiliki interaksi, interelasi, dan interdependensi dengan alam-lingkungan.
Alam menyediakan keseluruhan sistem pengetahuan pengobatan untuk manusia yang hidup di dunia, meskipun tidak dapat dipungkiri diperlukan waktu dan kesungguhan untuk mempelajarinya. Sari-sari pengalaman itulah yang kemudian ditulis dalam Usadha Buda Kecapi.
Diskusi "Membaca Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi” pada acara Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 25 Juli 2025 | Foto: tatkala.co/Eka
“Kecapi/Boda Kacapi adalah sastra tradisional Bali genre usada yang membicarakan tentang filsafat kehidupan, etika pengobatan seorang balian (penyembuh tradisional), hingga pengetahuan astronomi,” kata Eriadi.
Lantas ia membagi teks Buda Kecapi ke dalam tiga jenis sesuai koleksi Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali. Antara lain : buda kecapi cemeng, buda kecapi putih, dan buda kecapi sastra sanga.
“Buda Kecapi Cemeng menjelasan tentang teknik diagnosis dan kode etik bagi seorang penyembuh (balian). Narasi diwacanakan melalui dialog antara tokoh bernama Sang Buda Kacapi dengan Sang Kalamosada dan Kalimosadi. Teks juga membicarakan filsafat dewa-dewa di dalam tubuh manusia, simbolisme aksara, dan spiritualitas terkait pengobatan tradisional,” kata Eriadi.
Sedang Buda Kecapi Putih mengklaim diri sebagai pengetahuan pangiwa yang utama. Teks mengandung ajaran tentang filsafat hidup-mati, esensi diri yang terkait dengan Sang Hyang Siwa, esensi aksara, hingga air suci (tirta kamandalau).
Diskusi "Membaca Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi” pada acara Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 25 Juli 2025 | Foto: tatkala.co/Eka
Kemudian Buda Kecapi Sastra Sanga sebagai teks utama dari pengetahuan wariga (ilmu perbintangan), sehingga direkomendasi sebagai pegangan bagi orang yang akan memberikan petunjuk hari baik. Memuat penjelasan hari baik-buruk untuk melakukan sesuatu.
Lebih lanjut Eriadi, atau biasa dipanggil Jero Eriadi, menjelaskan tentang sisi ekologis Buda Kecapi Sastra Sanga terdapat salah satu unsur penting dalam menentukan hari baik adalah pemahaman tentang wewaran (nama-nama hari yang membangun pekan).
Selain menentukan wewaran, seorang pelajar hari baik juga wajib mengetahui esensi sasih (bulan), dina (hari), maupun dauh (waktu). Formulasi konsep-konsep tersebut melahirkan karakter dari suatu hari, sehingga dapat dimanfaatkan untuk melakoni kehidupan, misalnya untuk bercocok tanam, membuat peralatan, membangun rumah, dan sebagainya
Usada Buda Kecapi dalam Kisah Berguru
Kemudian sebagai karya sastra, menurut Royyan Julian, Usada BudhaKecapi dirangkai dalam narasi yang sederhana. Singkatnya, ia berkisah tentang tabib gadungan bersaudara, Kali Mosadha dan Kali Moshadi yang tersandung malapraktik. Insiden itu mendorong keduanya untuk berguru kepada Budha Kecapi yang telah dikenal sebagai orang bijkasana. Di situlah Budha Kecapi menyampaikan petuah panjang-lebar tentang risalah medis.
Pengobatan ala Budha Kecapi mengombinasikan dimensi spiritual dan aspek material. Dalam alam pikir tradisional, kedua elemen tersebut memang gayung bersambut, lengkap-melengkapi, dan mustahil dipisahkan.
Itulah mengapa, kata Royyan Julian, di Usada Budha Kecapi, pengobatan herbal yang material kerap disertai mantra yang spiritual.
Bahkan, lanjutnya, pengetahuan medis Budha Kecapi konon diperoleh dengan jalan semadi. Ia menerima pencerahan dari Dewa Siwa dengan perantara ego femininnya, Dewi Durga.
“Dalam masyarakat tradisional, perempuan memang kerap memonopoli ilmu medis. Mereka memahami seluk-beluk herbal, obatan-obatan untuk janin beserta cara menggugurkannya, dan praktik melahirkan,” jelas Royyan.
Diskusi "Membaca Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi” pada acara Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 25 Juli 2025 | Foto: tatkala.co/Eka
Sampai di situ, ia juga melanjutkan penjelasannya lebih tegas, bahwa perempuan juga menjalin korespondensi mistik dengan alam—yang secara intrinsik memiliki watak feminin—sebagai pemasok kebutuhan obat-obatan.
Karena itulah perempuan acap menduduki posisi syamanistik dalam struktur masyarakat kuno. Ia berperan sebagai dokter sekaligus penghubung antara jagat sekala dan niskala.
“Masuk akal bila berkah ilmu pengobatan Budha Kecapi diperoleh melalui Batari Uma, elemen biner feminin Sang Batara Guru.”
Buda Kecapi dalam Sisi Ekologi dan Praktiknya
Sementara Dee Lestari mengatakan lontar itu memiliki nilai ajaran ekologis. Bahkan, ia sudah mengimplementasikan nilai-nilai itu melalui karyanya berjudul Partikel (Bentang Pustaka, 2012).
Melalui karya novelnya itu ia menyebut secara gamblang bahwa isu lingkungan adalah partikel.
Novel itu merupakan bagian dari serial Supernova. Novel Partikel adalah buku yang keempat dan tokoh utamanya adalah Zara Amalah yang dibesarkan oleh ayahnya seorang dosen di IPB. Bapaknya Zara namanya Viras, yang terkenal laku hidupnya tidak konvensional.
Sebagai bapak, Firas tidak mengirimkan Zara ke sekolah karena dia percaya, bahwa alam adalah guru terbaik dan salah satu ujian untuk Zara, dilepas di hutan. Yang kemudian Zara harus mencari jalan pulang ke rumahnya menggunakan intuisi.
”Dan dia harus melawan rasa takutnya terhadap binatang-binatang malam, terhadap kegelapan, terhadap kesendirian sampai akhirnya Zara dinyatakan lulus oleh ayahnya,” cerita Dee Lestari tentang novelnya berjudul Partikel.
Salah satu falsafah yang kemudian Dee temukan dalam proses risetnya terhadap novel itu dalam sisi ekologisnya, bahwa manusia bagian dari alam.
Diskusi "Membaca Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi” pada acara Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 25 Juli 2025 | Foto: tatkala.co/Eka
”Kita terbiasa sekali mendengar konsep itu dan sepertinya itu adalah sebuah kebenaran. Memang benar kita semua adalah bagian dari alam. Kita punya hubungan yang sifatnya interconnectedness,” kata Dee Lestari.
Tapi, menurutnya, ada yang barangkali kurang pas dengan bagaimana kita mempersepsikan Ketika ia menemukan, bahwa, jangan-jangan bukanlah manusia bagian dari alam, tapi sebaliknya—alam adalah inti dari manusia.
Artinya, ketika sebuah sel intinya rusak musnah binasa, sudah tidak ada harapan lagi. Tapi kalau rusak baru kulitnya saja, atau permukaannya, masih ada kesempatan untuk dia sembuh dan bergenerasi.
Sehingga, manusia memiliki laku yang seimbang dengan alam. Itu untuk penyembuhan, atau, untuk tidak merusak yang dalam semakin dalam. Yang luar semakin ke dalam. [T]
Reporter: Sonhaji Abdullah Penulis: Sonhaji Abdullah Editor: Adnyana Ole
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...