Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Sekaa Angklung Brahmara Sini, Banjar Bun, Kelurahan Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur dan Sekaa Angklung Jaya Suara, Banjar Peken, Kelurahan Renon, Kecamatan Denpasar Selatan, Duta Kota Denpasar itu tampil mabarung di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47. Kedua sekaa Angklung Kebyar ini tampil memikat di Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa 8 Juli 2025.
Masing-masing sekaa menampilkan tiga garapan seni, terdiri dari 2 jenis tabuh dan satu garapan tari. Mereka tampil silih berganti. Permainan nada serta teknik dalam menyajikan gending membuat penonton terkesima, sehingga penonton pun membludak. “Kami melakukan persiapan sejak empat bulan lalu. Gamelan ini tergolong kuno, dan kami menampilkan penabuh dari lintas generasi hingga melibatkan penabuh setingkat SD dan SMP, juga dewasa,” kata Koordinator Sekaa Angklung Brahmara Sini, I Gede Eka Adnyana.
Sekaa Angklung Brahmara Sini mengawali pementasannya dengan penampilan Tabuh Keklentangan Klasik berjudul Bebatelan. “Tabuh Bebatelan ini merupakan gen gending angklung asli penglingsir Banjar Bun yang lesetari hingga kini,” ungkapnya senang.

Selanjutnya menampilkan Tari Tedung Sari yang tabuhnya digarap oleh I Nyoman Sudarna, dan kini di translate ke Gamelan Angklung. Lalu, menyajikan Tabuh Kreasi Bun yang mengisahkan tanaman yang merambat, melilit mencirikan satu ikatan. Berbeda, tetapi masih bisa saling merangkul. “Untuk tampil kali ini sekaa ini melakukan persiapan selama 4 bulan lalu. Gamelan angklung ini sudah ada sejak lama, sehingga sering dikatakan gamelan kuno, tang kini dimainkan beberapa generasi muda dan didukung oleh penabuh dewasa,” sebutnya.
Gede Eka Adnyana menambahkan, pemerintah mesti selalu memerikan ruang pentas gamelan angklung sebagai upata menjaga keberlangsungan Gamelan Angklung tradisi Bali ini. Dengan memberikan ruang kepada generasi muda, sehingga tumbuh rasa mencintai gamelan yang menggunakan tangga nada selendro dan tergolong barungan madya (ukuran sedang) ini. “Semoga saja, kedepan gamelan angklung ini bisa dikembangkan lagi untuk anak-anak muda, sehingga rasa cinta mereka tumbuh. Sebab, angklung itu bukan hanya untuk kepentingan upacara Pitra Yadanya, tetapi juga dalam bentuk kreasi aktivitas anak-anak sekarang,” harapnya.
Sementara, Sekaa Angklung Jaya Suara Banjar Peken menhawali penampilannya dengan Tabuh Klasik Keklentangan “Sekar Taji”. Seperti namanya sekar mengandung arti Bunga, mengacu pada kecantikan dan daya tarik yang mempesona, seperti keindahan bunga. Sedangkan “taji” mengandung arti Jalu, yang menunjukkan kekuatan, ketajaman dan kemampuan untuk melindungi diri atau memiliki pengaruh yang kuat. Maka Sekar Taji dalam Bahasa Bali mengandung arti “Bunga Bertaji” atau bunga yang memiliki taji.
Sekar Taji dapat merujuk pada wanita yang cantik, anggun dan memiliki kekuatan atau daya Tarik yang memukau seperti taji yang tajam dan kuat sehingga siapapun yang melihatnya akan terpesona. Sekar Taji menggambarkan sesosok wanita yang cantic dan memiliki kekuatan dan pengaruh yang besar. Tabuh Sekar Taji Angklung klasik ini masih tetap berpedoman pada uger-uger yang ada seperti Kawitan, Pengawak, Pengisep dan Pekaad. Tabuh yang dibina I Made Sumajaya, S.Sn ini sering kali ditampilkan dalam acara Pitra Yadnya (Pengabenan).

Penampilan kedua, yakni Tari Rejang Rwa Bhineda sebagai ikon Desa Adat Renon yang terinspirasi dari keagungan Sesuunan Ida Ratu Tuan Baris Cina yang identik dengan warna hitam dan putih. Tari ini dibawakan oleh 9 penari wanita.“Rwa Bhineda adalah makna yang kekal dengan konsep perbedaan yang diciptakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam mewujudkan keharmonisan dan keseimbangan alam semesta yaitu Bhur-Bwah dan Swah,” terang Koordinator Sekaa Angklung Jaya Suara, I Made Sumajaya.
Menurutnya, makna keseimbangan inilah yang menjadi dasar tercetusnya Tari Rejang Rwa Bhineda. Tari ini digarap oleh Ni Ketut Suwitri dan Ni Luh Putu Putri Utami, I Gede Suweca sebagai penata tabuh dan Ni Nyoman Nik Suasti dipercaya sebagai Penata Gerong. Penampilan ketiga, adalah Tabuh Kreasi Angklung Kebyar “Arunika” yang memiliki arti Cahaya Matahari Terbit. Kata Arunika berarti cahaya pagi yang indah. Arunika dapat didefinisikan sebagai gambaran suasana pagi disaat awal mula kebangkitan cahaya matahari dari ufuk timur.
Arunika merupakan akar dari kerangka pikiran ide dan konsep yang ditransformasikan ke dalam media gamelan Bali yaitu Angklung Kebyar dengan terstruktur kawitan, gegenderan, pengawak, bapang, dan pengecet. “Memang, jika mendengarkan tabuh ini, tampak pada kekuatan pembina mengeksplorasi media gamelan Angklung yang sangat terkenal memiliki nuansa sedih untuk menciptakan pembaharuan yang sesuai dengan gagasan,” terang Sumajaya.
Penonjolan ide dan konsep ini tampak dalam pengolahan unsur musik yang terstruktur menjadikan suatu bentuk karya yang utuh dari garapan tabuh seorang komposer bernama Edo Dewantara ini. “Kami melakukan persiapan mulai Januari 2025, hingga pentas hari ini. Kami senang dalam ajang PKB ini, diikutkan Gamelan Angling Mabarung. Kami berharap gending-gending Angklung lebih dikembangkan lagi, sehingga mampu menarik minat generasi muda melakoninya,” harap Made Sumajaya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...