Kulihat tubuh uwakku, Salit Penur, di tungku perapian. Mataku tak lepas dari tubuhnya dalam jilatan api. Membakar kain yang membungkus tubuhnya, rambut, daging, dan tubuhnya.
Rasaku, kadang menjadi api, yang membakar, menjadi kayu-kayu yang terbakar, menjadi tubuh yang terbakar, menjadi asap, yang kadang hitam, kelabu, dan putih. Kadang tak terlihat terhirup orang-orang, pohon-pohon, dan lenyap dalam ruang dan waktu.
Saat mata kanak-kanakku melihat kematian, aku menjadi jasad yang dijilat api perapian. Rasaku berontak.
"Panas, panas.. ," igauku dalam mimpi tidurku di malam yang panjang.
"Ha ha ha… !" Tawa uwakku, masih tersimpan dalam denyar telingaku, memberi rasa riang.
Elusan tangan lembutnya yang mengucak- ngucak kepalaku, masih menyamankan. Sentuhan rasa sayang yang memekarkan keberanian, semangat, melahirkan bahagia, yang terkatakan.
Kulihat kematian ibu, dalam satu embusan nafas, yang merontokkan seluruh keangkuhanku.
"Ternyata kita hanya bergantung pada satu hembusan nafas," batinku lemas, tak berdaya.
Terbayang keangkuhan-keangkuhanku selama ini. Merasa pintar, berpengetahuan, kritis dengan pertanyaan-bertanyaan tak terjawab, lihai menjawab dan tangkas berargumentasi..
Jiwaku jatuh, tersungkur.
Malam setelah upacara pengabenan ibu, kurasakan kekosongan, aku menangis.
Tapi hatiku menyejek, tertawa sinis pada air mata yang merembes ke luar.
"Kau menangisi siapa? Mengasihani siapa? Ibumu? Untuk apa?" Hatiku malah mentertawakan dan mengejek tangisanku.
"Kau menangisi dirimu sendiri karena sudah tak punya ibu, yang bisa kau peluk, kau cium, kau ajak bercerita, kau egois…," kata batinku , menghentikan tangisku.
Pada kematian binatang dan pohon-pohon aku berontak.
"Binatang dan pohon juga punya satu nyawa seperti kita, kenapa harus membunuh," kataku dalam hati saat teman-teman dengan mudah membunuh semut atau nyamuk yang inggap di dekatnya. Tapi hanya dalam hati.
Kupahami, sehembus nafas yang pergi dengan cara dan jalannya sendiri-sendiri. Oleh orang lain, mahluk lain, atau dirinya sendiri.
"Guru kami bisa melihat jalan kematiannya sendiri. Setelah merasakan sakit dalam tubuhnya yang berkepanjangan, beliau memilih pergi, kembali ke alam brahman. Beliau melihat jalan nafasnya yang pergi dari jiwa, menuju ubun-ubun dengan mata membelalak, " cerita salah seorang muridnya.
Aku hanya mendengar, mencoba memahami. Ingatanku kembali pada pertemuan dengan almarhum penglingsir puri Ubud, yang bercerita tentang ajaran ayahnya.
"Kematian itu adalah perginya atma, nafas sejati dari tubuh. Kepergian nafas dari mulut akan dirasakan agak sakit oleh tubuh, kepergian dari hidung lebih tidak sakit dan kepergian nafas dari ubun-ubun paling tidak sakit. Itu adalah kematian yang paling tenang," cerita penglingsir itu.
Aku berterima kasih pada penglingsir Ubud yang telah mengajarkan tentang nafas yang menjadi dasar pengetahuanku untuk memahami cara-cara dan jenis-jenis kematian manusia.
"Kematian karena kecelakaan, atau bunuh diri, mungkin nafasnya keluar lewat darah dari tubuh yang terluka, sehingga oleh leluhur Bali, dibuatkan upacara 'pengulapan', pemanggilan roh, yang tercecer di jauh dari jasadnya," pikirku.
Pernah kulihat kematianku, jazadku dimandikan di mrajan (tempat suci keluarga Hindu Bali) rumahku, sejenak aku merasa aneh.
"Mrajan adalah tempat suci, kematian atau jasad dianggap kotor dan mengetori," logikaku tak bisa terima.
Sungguh aku tak mengerti dan habis mengerti sehingga aku merasa layak untuk menanyakannya pada penguasa mrajan.
Kubuat persembahan sebisanya, buah dan bunga, sembari kutanya maknanya, dan apa yang bisa kulakukan.
Tak ada jawaban, hanya yang kulihat samar-samar dalam cahaya matahari seekor ikan berwarna putih dalam samudra.
Namaku dipersembahkan oleh seorang perempuan tua pertapa di Pantai Parang Tritis.
Lempengan mengkilat bertulis namaku naik turun dalam ombak lautan. Kulihat sebuah batu bertuliskan namaku dan sebuah upacara pengabenan atau pembakaran mayat, yang dipersiapkan pada hari otonanku (wetonku).
Sungguh aku tak tahu dan tak mengerti. Aku hanya bisa berdoa, berterima kasih dan minta maaf pada penguasa pantai.
Pantai Selatan membawaku ke Pantai Utara Bali, sebuah tempat yang disebut Kuburan Jayaprana, di Teluk Terima Buleleng.
Tempat berbukit, dipenuhi batu-batu besar yang ditumbuhi pohon-pohon besar, seperti sebuah alam yang berbeda.
Ada bayang-bayang pasangan-pasangan para pendeta brahmana.
"Mereka seperti berkemah, menginap, bertapa di atas batu-batu besar, " simpulku.
Di atas, tempat orang-orang bersembahyang aku agak kaget, ternyata yang disebut kuburan Jayaprana adalah sebuah lingga yang ditutupi kain dan isi patung laku perempuan.
"Lingga adalah sarana pemujaan pada Dewa Siwa, para pendeta yang menginap itu sedang memuja Siwa. Kenapa disebut kuburan Jayaprana?" Berbagai tanya dalam kepalaku.
Kulihat kematian seorang suci yang membakar sendiri badan kasarnya, menitipkan energi-energi murninya pada lingga, pada batu-batu, genta tongkat, ketu, rambut, jejak tangan dan kaki serta pada keturunan-keturunannya.
Kulihat kematian, seseorang yang tak mati, tak mati- mati. [T]
Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026. Mereka larut dalam Rekasadana Tari Legong yang d...
"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."
KALIMAT yang dikaitkan dengan Sri Ramakrishna melalui jawaba...
SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak lagi berdiri di belaka...
Tuhan Beri Aku Waktu
Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku merindumu tak terbatas waktuselagi napas ini bergelayut...
“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.”
PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika permukaan. Kemegahan ko...
PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab moral dan sosialnya dalam m...
SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama, pasti anda akan mudah untuk menemukan fil...
“Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?"
KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade lalu, karya eksplorasi busana yang ia tampilkan di...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING INTERCULTURAL AWA...
BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma solar, dan tubuh-tubuh kekar dengan peluh bergulir...