Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Kulihat tubuh uwakku, Salit Penur, di tungku perapian. Mataku tak lepas dari tubuhnya dalam jilatan api. Membakar kain yang membungkus tubuhnya, rambut, daging, dan tubuhnya.
Rasaku, kadang menjadi api, yang membakar, menjadi kayu-kayu yang terbakar, menjadi tubuh yang terbakar, menjadi asap, yang kadang hitam, kelabu, dan putih. Kadang tak terlihat terhirup orang-orang, pohon-pohon, dan lenyap dalam ruang dan waktu.
Saat mata kanak-kanakku melihat kematian, aku menjadi jasad yang dijilat api perapian. Rasaku berontak.
"Panas, panas.. ," igauku dalam mimpi tidurku di malam yang panjang.
"Ha ha ha… !" Tawa uwakku, masih tersimpan dalam denyar telingaku, memberi rasa riang.
Elusan tangan lembutnya yang mengucak- ngucak kepalaku, masih menyamankan. Sentuhan rasa sayang yang memekarkan keberanian, semangat, melahirkan bahagia, yang terkatakan.
Kulihat kematian ibu, dalam satu embusan nafas, yang merontokkan seluruh keangkuhanku.
"Ternyata kita hanya bergantung pada satu hembusan nafas," batinku lemas, tak berdaya.
Terbayang keangkuhan-keangkuhanku selama ini. Merasa pintar, berpengetahuan, kritis dengan pertanyaan-bertanyaan tak terjawab, lihai menjawab dan tangkas berargumentasi..
Jiwaku jatuh, tersungkur.
Malam setelah upacara pengabenan ibu, kurasakan kekosongan, aku menangis.
Tapi hatiku menyejek, tertawa sinis pada air mata yang merembes ke luar.
"Kau menangisi siapa? Mengasihani siapa? Ibumu? Untuk apa?" Hatiku malah mentertawakan dan mengejek tangisanku.
"Kau menangisi dirimu sendiri karena sudah tak punya ibu, yang bisa kau peluk, kau cium, kau ajak bercerita, kau egois…," kata batinku , menghentikan tangisku.
Aku tersenyum, mengutuki keegoisanku sendiri.
Kulihat, kudengar dan kurasakan kematian-kematian, guru, saudara, teman, sahabat, orang-orang, binatang- binatang, pohon-pohon.
Pada kematian binatang dan pohon-pohon aku berontak.
"Binatang dan pohon juga punya satu nyawa seperti kita, kenapa harus membunuh," kataku dalam hati saat teman-teman dengan mudah membunuh semut atau nyamuk yang inggap di dekatnya. Tapi hanya dalam hati.
Kupahami, sehembus nafas yang pergi dengan cara dan jalannya sendiri-sendiri. Oleh orang lain, mahluk lain, atau dirinya sendiri.
"Guru kami bisa melihat jalan kematiannya sendiri. Setelah merasakan sakit dalam tubuhnya yang berkepanjangan, beliau memilih pergi, kembali ke alam brahman. Beliau melihat jalan nafasnya yang pergi dari jiwa, menuju ubun-ubun dengan mata membelalak, " cerita salah seorang muridnya.
Aku hanya mendengar, mencoba memahami. Ingatanku kembali pada pertemuan dengan almarhum penglingsir puri Ubud, yang bercerita tentang ajaran ayahnya.
"Kematian itu adalah perginya atma, nafas sejati dari tubuh. Kepergian nafas dari mulut akan dirasakan agak sakit oleh tubuh, kepergian dari hidung lebih tidak sakit dan kepergian nafas dari ubun-ubun paling tidak sakit. Itu adalah kematian yang paling tenang," cerita penglingsir itu.
Aku berterima kasih pada penglingsir Ubud yang telah mengajarkan tentang nafas yang menjadi dasar pengetahuanku untuk memahami cara-cara dan jenis-jenis kematian manusia.
"Kematian karena kecelakaan, atau bunuh diri, mungkin nafasnya keluar lewat darah dari tubuh yang terluka, sehingga oleh leluhur Bali, dibuatkan upacara 'pengulapan', pemanggilan roh, yang tercecer di jauh dari jasadnya," pikirku.
Pernah kulihat kematianku, jazadku dimandikan di mrajan (tempat suci keluarga Hindu Bali) rumahku, sejenak aku merasa aneh.
"Mrajan adalah tempat suci, kematian atau jasad dianggap kotor dan mengetori," logikaku tak bisa terima.
Sungguh aku tak mengerti dan habis mengerti sehingga aku merasa layak untuk menanyakannya pada penguasa mrajan.
Kubuat persembahan sebisanya, buah dan bunga, sembari kutanya maknanya, dan apa yang bisa kulakukan.
Tak ada jawaban, hanya yang kulihat samar-samar dalam cahaya matahari seekor ikan berwarna putih dalam samudra.
Namaku dipersembahkan oleh seorang perempuan tua pertapa di Pantai Parang Tritis.
Lempengan mengkilat bertulis namaku naik turun dalam ombak lautan. Kulihat sebuah batu bertuliskan namaku dan sebuah upacara pengabenan atau pembakaran mayat, yang dipersiapkan pada hari otonanku (wetonku).
Sungguh aku tak tahu dan tak mengerti.
Aku hanya bisa berdoa, berterima kasih dan minta maaf pada penguasa pantai.
Pantai Selatan membawaku ke Pantai Utara Bali, sebuah tempat yang disebut Kuburan Jayaprana, di Teluk Terima Buleleng.
Tempat berbukit, dipenuhi batu-batu besar yang ditumbuhi pohon-pohon besar, seperti sebuah alam yang berbeda.
Ada bayang-bayang pasangan-pasangan para pendeta brahmana.
"Mereka seperti berkemah, menginap, bertapa di atas batu-batu besar, " simpulku.
Di atas, tempat orang-orang bersembahyang aku agak kaget, ternyata yang disebut kuburan Jayaprana adalah sebuah lingga yang ditutupi kain dan isi patung laku perempuan.
"Lingga adalah sarana pemujaan pada Dewa Siwa, para pendeta yang menginap itu sedang memuja Siwa. Kenapa disebut kuburan Jayaprana?" Berbagai tanya dalam kepalaku.
Kulihat kematian seorang suci yang membakar sendiri badan kasarnya, menitipkan energi-energi murninya pada lingga, pada batu-batu, genta tongkat, ketu, rambut, jejak tangan dan kaki serta pada keturunan-keturunannya.
Kulihat kematian, seseorang yang tak mati, tak mati- mati. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...