“Kepangku Kapang” dan Kidung yang Menemukan Kita
ADA lagu-lagu yang tidak kita temukan. Lagu-lagu itu justru yang menemukan kita—datang diam-diam, memeluk tanpa suara, menggugah yang paling dalam. Lagu-lagu yang tak lahir untuk...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 26 Juni 2025
DALAM ajaran Hindu Bali, "Bhuta Kala" dipahami sebagai kekuatan alam yang bersifat negatif yang mendatangkan gangguan atau kekacauan. Bentuknya beragam. Bisa berupa janji manis hidup penuh kesenangan dan rayuan surgawi yang menyesatkan kehidupan manusia.
"Panugrahan Ida Bhatara" merujuk pada anugerah dari Ida Bhatara (Tuhan) kepada umat manusia. Bentuknya tidak selalu material, tapi lebih banyak berupa tuntunan batin dan keteguhan pikiran yang membuat tidak mudah tergoda, bertindak jernih dan tahan banting.
Masyarakat Hindu Bali kini menghadapi banyak tantangan dan iming-iming 'kemajuan instan' yang menyesatkan dan membawa dampak buruk jangka panjang berkepanjangan bagi Hindu Bali.
Iming-iming ini bisa bersumber dari sepak terjang ceroboh masyarakat lokal, program pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang gegabah, investasi lokal-nasional dan investasi asing yang tidak peduli tatanan alam dan budaya Bali, dll.
Secara tradisional, ajaran Hindu Bali memberi tuntunan untuk tidak bekerja sama dengan "Bhuta Kala" dan sebaliknya memohon "Panugrahan Ida Bhatara".
Masyarakat Hindu Bali kini dituntut jernih melihat mana "Program Bhuta Kala" dan mana "Panugrahan Ida Bhatara".
Dalam cerita Ramayana, penculikan Sita didahului oleh tipu daya Rahwana yang menyamar menjadi seorang pendeta tua dan tipu daya Marica yang menyamar menjadi rusa emas yang membuat Sita meminta Rama menangkapnya, sehingga Rama meninggalkan Sita dan Laksmana.
Dalam tradisi sastra di Bali disebutkan Sita melambangkan "tanah air" tertipu diculik Rahwana.
Kakawin Ramayana yang diwarisi dalam tradisi Hindu Bali, jika dibandingkan dengan situasi Bali sekarang, senasib Sita tergoda rusa emas jelmaan Marica.
Tipu daya sosok pendeta tua dan rusa emas telah mengejawantah dan bergentayangan di Bali.
Menjaga tanah Bali tidak cukup dengan berbagai upakara caru dan persembahan dalam menghadapi "Program Bhuta Kala".
Program Bhuta Kala ini hanya bisa dinetralisir (somya) dengan keberanian bersikap penolakan dan berani berpihak pada 'pandangan benar' dan 'pikiran jernih' agar mata batin tidak dibutakan silau emas si rusa dan bujuk rayu manis si pendeta tua.
Jika tertipu kata-kata manis dan kilau emas, maka masyarakat Bali akan mengikuti Program Bhuta Kala, Rahwana dan Marica.
Sejarah dan masa depan Bali sedang ditulis oleh masyarakat Bali sendiri. Mengikuti "program Bhuta Kala" (si rusa emas dan pendeta palsu), atau mengikuti tuntunan "Panugrahan Ida Bhatara", keduanya sangat tergantung kesadaran kolektif masyarakat Bali dalam menjawab/menyikapi tantangan kekinian. [T]
ADA lagu-lagu yang tidak kita temukan. Lagu-lagu itu justru yang menemukan kita—datang diam-diam, memeluk tanpa suara, menggugah yang paling dalam. Lagu-lagu yang tak lahir untuk...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 26 Juni 2025 DALAM ajaran Hindu Bali, "Bhuta Kala" dipahami sebagai kekuatan alam yang bersifat negatif yang mendatangkan gangguan atau kekacauan....
ARJA adalah sebuah kesenian klasik tradisional yang menyanggga keberlangsungan dari berbagai unsur kebudayaan Bali. Tembang macepat, bahasa, dan sastra Bali adalah tiga unsur kebu...
MENEMPATI ruangan kerja yang nyaman, bersih, dan tenang adalah dambaan semua orang. Ruang kerja yang nyaman akan membuat orang betah bekerja di kantor, dari pagi hingga sore; bahk...
KARYA sastra seringkali dianggap atau diposisikan sebagai medium “tinggi” yang di dalamnya mengandung unsur-unsur estetika serta moralitas. Dalam pandangan umum serta...
GELAK tawa tidak bisa dibendung dari penonton saat film “Rita Coba Rokok” di Kedai Umah Pradja, Singaraja, ditayangkan dalam program Layar Kolektif Bali Utara yang digagas Komunit...
“Hormati kerja mereka dengan tidak membuang sampah ke saluran,Jangan giliran banjir selalu menyalahkan pemerintah”(Ridwan Kamil) Perkembangan kota-kota di Indonesia tidak selal...
DI sebuah sudut keramaian kota Denpasar, Bali, di dekat lapangan atau taman budaya, kadang tampak sosok pria memanggul ransel besar. Bukan menjajakan produk komersial, ia menawark...
PESAN moral dalam film “Kembang Eleh” karya Candra Aulia Safitri tahun 2024 itu tentang fenomena pernikahan usia dini. Film itu berjenis fiksi. Film itu diputar di Kedai Cana, Jal...
BAGAI menyaksikan pertandingan sepak bola. Rekasadana (Pergelaran) Kreatifitas Anak-anak Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Bali dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, Senin 23 Jun...