Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
DI banyak tempat di negeri ini, kematian bukan hanya urusan keluarga. Ia adalah milik kampung, urusan RT, urusan tetangga, urusan siapa saja yang merasa mengenal, meski hanya sekilas sapa dan jumpa. Kematian, dengan segala perih dan sedihnya, dibagi. Bukan untuk dikurangi, tapi untuk dirayakan sebagai bentuk kebersamaan terakhir.
Di desa-desa, ketika kabar duka tersebar, orang-orang datang. Tanpa aba-aba, tanpa “undangan”. Mereka datang dengan tangan yang siap mengaduk kopi, meminjamkan karpet, memberi tenaga lewat kaki yang rela bolak-balik mengambil piring, atau sekadar dengan kehadiran yang tak ingin membiarkan keluarga duka duduk sendiri. Dan di tengah suasana yang remuk, ada keteguhan: bahwa duka tidak seharusnya ditanggung sendirian.
Budaya kolektif dalam duka barangkali adalah satu dari sedikit kebiasaan sosial yang masih bertahan dari serbuan individualisme. Ia bukan ritual semata, tapi semacam kesadaran sosial, bahwa kehilangan satu jiwa adalah kehilangan bersama. Bukan hanya karena kekerabatan, tetapi karena di banyak lingkungan, relasi manusia ditenun bukan oleh ikatan darah, melainkan oleh perjumpaan sehari-hari: di warung, di masjid, di jalan, di sawah, di majelis, di gardu, dll.
Tentu, bentuknya bisa berbeda-beda. Di Jawa, kita kenal istilah “layat”. Di Madura “labet”. Orang-orang kampung tidak sekadar setor muka, mereka gotong royong sampai si mati selesai dikubur. Bahkan di beberapa tempat seusai melakukan tahlil, ada tradisi melekan atau begadang sampai menjelang pagi. Semua itu dilakukan untuk meminimalisir kesedihan keluarga si mati, terutama supaya rumah sohibul musibah tak terasa sepi. Di Bali, upacara ngaben melibatkan komunitas dalam jumlah besar. Bahkan di kota, meski lebih sunyi, masih ada sebagian orang yang merasa perlu datang, meski hanya untuk menyalami dan mengucap, “turut berduka cita”.
Namun, kehidupan urban yang padat dan terburu-buru mulai menggerus budaya ini. Waktu duka di kota sering kali dibatasi: hanya beberapa jam, hanya malam ini, hanya teman dekat. Ucapan belasungkawa berpindah ke layar ponsel, diketik cepat dan dibaca lebih cepat lagi. Kadang bahkan tidak sempat diketik: cukup tanda emoji atau kiriman karangan bunga yang dipesan daring. Mungkin ini bukan bentuk kurang empati, tapi hasil dari kelelahan kolektif. Kita terlalu lelah untuk hadir, terlalu sibuk untuk menyentuh duka secara fisik. Sistem telah menggilas waktu kita tanpa ampun.
Padahal, duka bukan hanya soal kehilangan, tapi soal bagaimana manusia memeluk kehilangan itu bersama-sama. Dalam budaya kolektif, tangis menjadi ruang terbuka. Ia tidak ditahan, tidak disembunyikan, karena tahu bahwa di sebelah ada bahu lain yang ikut basah. Bahkan kadang, tangis datang dari orang yang tak punya hubungan langsung dengan almarhum, tapi punya hubungan erat dengan gagasan bahwa hidup itu rapuh dan tak bisa dihadapi sendirian.
Yang menarik, dalam budaya kolektif ini, duka menjadi pelatuk solidaritas. Dari memasak untuk para tamu yang menghadiri rumah duka, hingga mengatur kursi untuk dikeluarkan dari ruang tamu atau tenda dipasang di halaman, semua punya peran. Dan semua merasa perlu menjalankan peran itu. Tidak ada kompensasi, tidak ada pamrih. Ada keyakinan diam-diam bahwa apa yang kita lakukan hari ini, suatu saat akan kembali pada kita. Semacam gotong-royong dalam kehilangan.
Tentu saja, seperti semua tradisi, budaya ini juga menghadapi tantangannya. Ada kalanya kehadiran kolektif berubah menjadi beban. Keluarga duka merasa harus menyambut tamu, menyajikan makanan dan minuman, menjaga citra. Duka pun berubah jadi semacam hajatan. Tapi di sinilah perlu kebijaksanaan: untuk membedakan antara solidaritas dan formalitas, antara kehadiran yang tulus dan tuntutan yang tak perlu.
Pada akhirnya, budaya kolektif dalam duka adalah cermin dari nilai yang kita pegang tentang hidup bersama. Ia mengingatkan bahwa manusia, pada batas paling personalnya, membutuhkan yang lain. Bukan untuk diselamatkan, tapi untuk tidak merasa sendirian. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin memaksa orang untuk kuat dan mandiri, budaya ini adalah salah satu pengingat bahwa kadang kekuatan sejati justru lahir dari kesediaan untuk lemah bersama.
Mungkin itulah sebabnya, di kampung-kampung, suara tangis terdengar lebih jernih. Karena ia tak perlu ditahan. Karena ia tahu, ia tidak sendiri. [T]
Penulis: Kim Al Ghozali
Editor: Adnyana Ole
BACA ARTIKEL LAIN DARI KIM AL GHOZALI
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...