“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
DI banyak tempat di negeri ini, kematian bukan hanya urusan keluarga. Ia adalah milik kampung, urusan RT, urusan tetangga, urusan siapa saja yang merasa mengenal, meski hanya sekilas sapa dan jumpa. Kematian, dengan segala perih dan sedihnya, dibagi. Bukan untuk dikurangi, tapi untuk dirayakan sebagai bentuk kebersamaan terakhir.
Di desa-desa, ketika kabar duka tersebar, orang-orang datang. Tanpa aba-aba, tanpa “undangan”. Mereka datang dengan tangan yang siap mengaduk kopi, meminjamkan karpet, memberi tenaga lewat kaki yang rela bolak-balik mengambil piring, atau sekadar dengan kehadiran yang tak ingin membiarkan keluarga duka duduk sendiri. Dan di tengah suasana yang remuk, ada keteguhan: bahwa duka tidak seharusnya ditanggung sendirian.
Budaya kolektif dalam duka barangkali adalah satu dari sedikit kebiasaan sosial yang masih bertahan dari serbuan individualisme. Ia bukan ritual semata, tapi semacam kesadaran sosial, bahwa kehilangan satu jiwa adalah kehilangan bersama. Bukan hanya karena kekerabatan, tetapi karena di banyak lingkungan, relasi manusia ditenun bukan oleh ikatan darah, melainkan oleh perjumpaan sehari-hari: di warung, di masjid, di jalan, di sawah, di majelis, di gardu, dll.
Tentu, bentuknya bisa berbeda-beda. Di Jawa, kita kenal istilah “layat”. Di Madura “labet”. Orang-orang kampung tidak sekadar setor muka, mereka gotong royong sampai si mati selesai dikubur. Bahkan di beberapa tempat seusai melakukan tahlil, ada tradisi melekan atau begadang sampai menjelang pagi. Semua itu dilakukan untuk meminimalisir kesedihan keluarga si mati, terutama supaya rumah sohibul musibah tak terasa sepi. Di Bali, upacara ngaben melibatkan komunitas dalam jumlah besar. Bahkan di kota, meski lebih sunyi, masih ada sebagian orang yang merasa perlu datang, meski hanya untuk menyalami dan mengucap, “turut berduka cita”.
Namun, kehidupan urban yang padat dan terburu-buru mulai menggerus budaya ini. Waktu duka di kota sering kali dibatasi: hanya beberapa jam, hanya malam ini, hanya teman dekat. Ucapan belasungkawa berpindah ke layar ponsel, diketik cepat dan dibaca lebih cepat lagi. Kadang bahkan tidak sempat diketik: cukup tanda emoji atau kiriman karangan bunga yang dipesan daring. Mungkin ini bukan bentuk kurang empati, tapi hasil dari kelelahan kolektif. Kita terlalu lelah untuk hadir, terlalu sibuk untuk menyentuh duka secara fisik. Sistem telah menggilas waktu kita tanpa ampun.
Padahal, duka bukan hanya soal kehilangan, tapi soal bagaimana manusia memeluk kehilangan itu bersama-sama. Dalam budaya kolektif, tangis menjadi ruang terbuka. Ia tidak ditahan, tidak disembunyikan, karena tahu bahwa di sebelah ada bahu lain yang ikut basah. Bahkan kadang, tangis datang dari orang yang tak punya hubungan langsung dengan almarhum, tapi punya hubungan erat dengan gagasan bahwa hidup itu rapuh dan tak bisa dihadapi sendirian.
Yang menarik, dalam budaya kolektif ini, duka menjadi pelatuk solidaritas. Dari memasak untuk para tamu yang menghadiri rumah duka, hingga mengatur kursi untuk dikeluarkan dari ruang tamu atau tenda dipasang di halaman, semua punya peran. Dan semua merasa perlu menjalankan peran itu. Tidak ada kompensasi, tidak ada pamrih. Ada keyakinan diam-diam bahwa apa yang kita lakukan hari ini, suatu saat akan kembali pada kita. Semacam gotong-royong dalam kehilangan.
Tentu saja, seperti semua tradisi, budaya ini juga menghadapi tantangannya. Ada kalanya kehadiran kolektif berubah menjadi beban. Keluarga duka merasa harus menyambut tamu, menyajikan makanan dan minuman, menjaga citra. Duka pun berubah jadi semacam hajatan. Tapi di sinilah perlu kebijaksanaan: untuk membedakan antara solidaritas dan formalitas, antara kehadiran yang tulus dan tuntutan yang tak perlu.
Pada akhirnya, budaya kolektif dalam duka adalah cermin dari nilai yang kita pegang tentang hidup bersama. Ia mengingatkan bahwa manusia, pada batas paling personalnya, membutuhkan yang lain. Bukan untuk diselamatkan, tapi untuk tidak merasa sendirian. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin memaksa orang untuk kuat dan mandiri, budaya ini adalah salah satu pengingat bahwa kadang kekuatan sejati justru lahir dari kesediaan untuk lemah bersama.
Mungkin itulah sebabnya, di kampung-kampung, suara tangis terdengar lebih jernih. Karena ia tak perlu ditahan. Karena ia tahu, ia tidak sendiri. [T]
Penulis: Kim Al Ghozali
Editor: Adnyana Ole
BACA ARTIKEL LAIN DARI KIM AL GHOZALI
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...