Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
KOMUNITAS Kelas Reading Buya Syafii akan menggelar Haul 3 Buya Ahmad Syafii Maarif, Selasa 27 Mei 2025 di Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengangkat tema: “Refleksi Fungsi Kontrol Perkumpulan Agama di Indonesia”. Peneliti sosal sekaligus akademisi dari Universitas Mataram, Dr.Saipul Hamdi tampil sebagai pembicara mengupas topik itu nanti.
Selain diskusi publik, pada kegiatan ini digelar “parcakapan sastra” perihal sastra sebagai basis kesadaran kritik masyarakat. Para penyair muda Mataram menghangatkan malam sastra itu dengan membacakan karya terbaik mereka.
Menurut penyelenggara, kebijakan-kebijakan negara (tak kecuali bidang agama) perlu banyak bercermin pada sastra. Sebab sastra, berkat wataknya yang bebas, dan kemampuan untuk mentransendensi gejala-gejala, merupakan merupakan basis yang relevan bagi pengembangan daya kritik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Lebih jauh, panitia menerangkan topik “Refleksi Fungsi Kontrol Perkumpulan Agama” telah menjadi soal yang mendesak pada kala ini di tengah kontribusi dan hubungan timbal balik yang makin erat antara ormas agama dan negara. Apa yang perlu tetap dijaga adalah “fungsi kritik” dari perkumpulan agama selaku wakil masyarakat terhadap jalannya kebijakan negara menyangkut berbagai hal.
“Buya Ahmad Syafii Maarif (alm) sendiri, melalui ceramah dan opini-opininya yang dipublikasikan di media publik telah beberapa kali membahas topik ini. Oleh karena itu, kami selaku pembaca pikiran-pikirannya merasa perlu mendiskusikan dalam skala yang lebih intens dan luas. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga kesadaran bersama agar fungsi kritik ormas agama tidak hilang dalam komtribusi dan relasinya dengan negara,” demikin isi rilis yang diterima redaksi.
Komunitas Kelas Reading Buya Syafii merupakan kelompok anak muda pembaca pemikiran Buya Syafii Maarif yang tumbuh dan berkembang di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Mereka menfokuskan diri pada diskusi pemikiran Keislaman dan Sastra. [T]
Sumber: Rilis panitia
Editor: Rusdy Ulu
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...