Kelak Apakah Jokowi Tak Berkenan Dikenang Sebagai Penyair?
Fakta, tak berselang lama setelah Presiden Jokowi meluncurkan “kabinet kerja”nya pada akhir Oktober 2014 lalu, saya juga mengumumkan peluncuran buku puisi saya yang kedua, Mencari...
KOMUNITAS Kelas Reading Buya Syafii akan menggelar Haul 3 Buya Ahmad Syafii Maarif, Selasa 27 Mei 2025 di Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengangkat tema: “Refleksi Fungsi Kontrol Perkumpulan Agama di Indonesia”. Peneliti sosal sekaligus akademisi dari Universitas Mataram, Dr.Saipul Hamdi tampil sebagai pembicara mengupas topik itu nanti.
Selain diskusi publik, pada kegiatan ini digelar “parcakapan sastra” perihal sastra sebagai basis kesadaran kritik masyarakat. Para penyair muda Mataram menghangatkan malam sastra itu dengan membacakan karya terbaik mereka.
Menurut penyelenggara, kebijakan-kebijakan negara (tak kecuali bidang agama) perlu banyak bercermin pada sastra. Sebab sastra, berkat wataknya yang bebas, dan kemampuan untuk mentransendensi gejala-gejala, merupakan merupakan basis yang relevan bagi pengembangan daya kritik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Lebih jauh, panitia menerangkan topik “Refleksi Fungsi Kontrol Perkumpulan Agama” telah menjadi soal yang mendesak pada kala ini di tengah kontribusi dan hubungan timbal balik yang makin erat antara ormas agama dan negara. Apa yang perlu tetap dijaga adalah “fungsi kritik” dari perkumpulan agama selaku wakil masyarakat terhadap jalannya kebijakan negara menyangkut berbagai hal.
“Buya Ahmad Syafii Maarif (alm) sendiri, melalui ceramah dan opini-opininya yang dipublikasikan di media publik telah beberapa kali membahas topik ini. Oleh karena itu, kami selaku pembaca pikiran-pikirannya merasa perlu mendiskusikan dalam skala yang lebih intens dan luas. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga kesadaran bersama agar fungsi kritik ormas agama tidak hilang dalam komtribusi dan relasinya dengan negara,” demikin isi rilis yang diterima redaksi.
Komunitas Kelas Reading Buya Syafii merupakan kelompok anak muda pembaca pemikiran Buya Syafii Maarif yang tumbuh dan berkembang di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Mereka menfokuskan diri pada diskusi pemikiran Keislaman dan Sastra. [T]
Sumber: Rilis panitia
Editor: Rusdy Ulu
Fakta, tak berselang lama setelah Presiden Jokowi meluncurkan “kabinet kerja”nya pada akhir Oktober 2014 lalu, saya juga mengumumkan peluncuran buku puisi saya yang kedua, Mencari...
Ketika cara dominasi melalui ototarian telah usang, hegemoni menjadi cara yang paling ampuh untuk menguasai kaum marginal. Apa dominasi, apa hegemoni? Dominasi identik dengan keker...
Selain DKI Jakarta, sebenarnya banyak daerah bersiap menggelar Pilkada serentak, Februari 2017, termasuk Buleleng, Bali, daerah kelahiran saya. Namun perhatian orang di Indonesia i...