Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
jiwa pernah kudengar
sudah kau memeluk tubuhmu?
kudengar orang mendengkur
saat kau mengusap keringatmu
24 jam buat berkelana
dan lampu tidur tak padam juga
katamu, lebih suka malam
merangkai bintang di luaran sana
Dik, kau saji kopi dan rokok
biarkan lelaki dengan bayangannya
tolong Nina Bobo anak kita
hantarkan mimpi indah padanya
20 April, 2025
Dua orang mempelai yang akan diakadkan
duduk menghadap leluhurnya
memasang kedua telinga, membuka kedua mata
Bapak dan Ibu tidak bertanya apa pekerjaanmu
Bapak dan Ibu tidak memastikan bagaimana pendidikanmu
Bapak dan Ibu tidak mau tahu berapa besar hartamu
Bapak dan Ibu tidak peduli siapa pangkatmu
Bapak dan Ibu boleh minta satu?
Bawa anakku ke surga bersamamu
20 April, 2025
Dengan ini saya menyatakan,
berapa tahun lalu saya belajar ilmu pengetahuan
yang belum tentu dipakai kerja
setidaknya bisa buat jaga-jaga
sewaktu-waktu terjadi bencana
saya membaca berbagai bencana
ada kobaran api ijazah palsu,
gelar palsu, dan foto palsu saya
ada yang tersirat
uang kuliah, tenaga, dan air mata
demi menjelma manusia terdidik
sekali lagi dengan ini saya menyatakan,
bukan tugas saya
membuka pintu hati mereka
20 April, 2025
ketika pulang ke tempat semula
daku tetap anak desa
yang pura-pura serupa anak kota
berapa lama pergi dari sini
beranjak mempercantik diri
tempat bermain raib diamuk raksasa
rumah-rumah sudah melambung ke awan
kawan-kawan antri berkawin
daun-daun muda menggugurkan yang tua
dikecup waktu yang tanggal dan tinggal
kemana saja telah membawaku
Ibu keindahan itu dimana-mana
selalu surga di telapak kakimu
20 April, 2025
Penulis: Muhammad Rafi’ Hanif
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...