pada sebuah lingkaran duka kau menyalakan dendam dibikin dari api ketakutan
masa lalu kehilangan alamat rumah sakit jiwa bercak-bercak lukamu telanjur dikenali sementara kau tak mengenali siapapun
sunyi perjalananmu seperti tagihan obat-obat mahal tak sempat dilunasi
ibu berwarna biru. terjatuh berkali-kali saat menemanimu mencari ayah dalam kertas silsilah serupa menelusuri kota yang hilang
dalam peta dunia
ZAT ADIKTIF
alkohol membusuk pada lambung bapak keinginan balas dendam melarutkan diri sebagai intisari kehidupan
bapak merahasiakan cerita yang telah lama menyala seperti zat adiktif dibakar api ketidakpercayaan diri
memar kaki bapak berjalan di atas kesakitan yang tak memiliki penawar
berbotol musim telah tumpah pada rumah kecil keluarga yang tak siap menerima kabar besar
ROTASI
I waktu mengeras dalam kamar sunyi menyublim kala purnama menerangkan nama yang tersimpan dalam gelap lemari: mayat hidup berkalung azimat di depan ada cermin menyembunyikan bayangan tubuh, menyisakan rahasia tentang segala muasal yang ganjil berserakan bersama kehancuran yang telah terlalu lama menetap di ini kampung.
II suara kecil, pemandangan kecil, mimpi kecil, kampung kecil kapan akhir akan bermula! tubuh membatu di dalam waktu hidupkanlah kata-kata agar sepi yang bermuka-muka terlepas dari kewajiban—
PASIR CAHAYA
untuk Tara Febriani Khaerunnisa
pungut aku kala purnama mengancam dan pertarungan tak menghasilkan siapa yang menang, siapa yang kalah
setelah itu kau harus kembali meletakkanku agar aku bisa memberikan cahaya kepada segala yang ingin melihat
meski dari lubang kecil kerang
serupa kebahagiaan muka pelaut setelah lama tak pulang ke rumah yang dihimpit hotel
membuat tegak tubuhmu perlahan menghilang bintang-bintang kecil terjatuh meninggalkan cahaya susut
pohon waru, hampir patah silsilah keluarga
akan kau dengar sayup bekas pertengkaran yang memaksaku menyebar dengan sunyi ke garis pantai— mimpiku yang terjadi setiap hari
harus kau ceritakan pada anak-anakmu sebelum kau menjadi abu dan menyatu denganku menyusuri pulau-pulau baru
LUNARIAN
di palung desember “bulan akan tetap mengendalikanku,” katamu kau telah menyembunyikan keinginan-keinginanmu di antara hujan yang ragu-ragu dan terik matahari yang kaku kau tidak akan melihat ke belakang seperti rumah yang mengabaikan tanah sempit dan pohon yang merindukan lengang angin kau bergegas. komet malam menjemputmu batas tak lagi menjadi pertanyaanmu yang tak kunjung selesai berangkatlah, tidak ada masa depan di mataku. hanya kekosongan berdiam diri menelusuri napas terakhirmu sebagai satu-satunya alat balas dendam
Penulis: Gilang Sakti Ramadhan Editor: Adnyana Ole
BERDASARKAN data, selain kasus kekerasan seksual dan kasus HIV/Aids, kasus pernikahan anak juga termasuk paling tinggi di Buleleng. Sebagai ketua PKBI (Perkumpulan Keluarga Berenc...
DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus, adik ketiga kelas X, dan adik keempat kel...
sore di gerbang tim.
jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di bawah baliho usang iklan pertunjukan,membiarkan...
SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang: saat prasmanan dibuka. Entah mengapa,...
Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu, 6 Juni, diikuti oleh 11 peserta.
Secara...
Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang. Mengingat lomba dilakukan secara daring, para juri...
Yajña: Dari Ritual Persembahan Menuju Laku Kehidupan
Banyak orang memandang yajña sebagai ritual keagamaan yang diwujudkan melalui sesajen, canang, bunga, dupa, atau berbagai b...
KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia membawa rasa kehilangan yang mengambang. Galih melangkah...
DOA UNTUK TETANGGA
Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang banyak. Agar tidak ada lagi yangsuka ber...
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan bersama WWF-Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari, dan Coca-Cola Europacific P...