Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
letup ingatan di sebuah lini masa
selalu mengajak kita sowan pada waktu
yang mengarsip di kepala
yang mengarus di dada
tinta di atas lembar kitab yang terbuka
–masih basah
sebagaimana ingatan kita tentang puisi
yang pertama kali ditulis pada malam-malam itu
di bawah rambat pohon anggur
kita duduk sambil menyengget rembulan
lalu menyulapnya menjadi bayi-bayi diksi
yang gemas dan cengeng
letup ingatan di sebuah lini masa
adalah ruang pulang bagi puisi
yang sering kali sempug hatinya
sebab bertengkar dengan deras usia
2024
saat dua tangannya terjerat malam
ia melayang saja di pinggir pantai
melebur dengan angin yang diunjal batu karang
suara camar terkurung dalam sunyi pesisir
ketika mimpi-mimpinya perlahan hanyut
tergulung pasang laut
rambutnya merah berkibaran
menebar rahasia tentang hujan yang
diam-diam hendak berlayar di cekung pipinya
masa lalu telah menjadi perahu-perahu kecil
yang tekun mengarungi kedalaman hatinya
yang takluk
baginya,
seluruh ambisi harus surup di kota ini
meski jejak belum genap melingkar
meski atma tak mudah hangus terbakar
2025
tidak ada waktu untuk
tidak menulis puisi
kecuali
ketika kau dan aku
tengah mati di bawah rembulan
2024
barangkali kita perlu keliling kota bersama
memaknai ulang setiap sudutnya
menabur kembali kasih di setiap keloknya
barangkali juga kita perlu duduk berdua
mengurai kata pulang yang menyumbat telinga
membaca kedip lampu kota yang kerap gagal dicerna
banyak sepi yang mesti kita gusur
sebab kota ini gemar membujur dan enggan berkesiur
sementara hari-hari kita begitu terik. begitu pelik.
kota ini melahirkan kita,
tapi bebunga yang mekar dalam usia kita
adalah dari tanah yang jauh
2024
Penulis: S. Mandah Syakiroh
Editor: Adnyana Ole
[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...