Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
letup ingatan di sebuah lini masa
selalu mengajak kita sowan pada waktu
yang mengarsip di kepala
yang mengarus di dada
tinta di atas lembar kitab yang terbuka
–masih basah
sebagaimana ingatan kita tentang puisi
yang pertama kali ditulis pada malam-malam itu
di bawah rambat pohon anggur
kita duduk sambil menyengget rembulan
lalu menyulapnya menjadi bayi-bayi diksi
yang gemas dan cengeng
letup ingatan di sebuah lini masa
adalah ruang pulang bagi puisi
yang sering kali sempug hatinya
sebab bertengkar dengan deras usia
2024
saat dua tangannya terjerat malam
ia melayang saja di pinggir pantai
melebur dengan angin yang diunjal batu karang
suara camar terkurung dalam sunyi pesisir
ketika mimpi-mimpinya perlahan hanyut
tergulung pasang laut
rambutnya merah berkibaran
menebar rahasia tentang hujan yang
diam-diam hendak berlayar di cekung pipinya
masa lalu telah menjadi perahu-perahu kecil
yang tekun mengarungi kedalaman hatinya
yang takluk
baginya,
seluruh ambisi harus surup di kota ini
meski jejak belum genap melingkar
meski atma tak mudah hangus terbakar
2025
tidak ada waktu untuk
tidak menulis puisi
kecuali
ketika kau dan aku
tengah mati di bawah rembulan
2024
barangkali kita perlu keliling kota bersama
memaknai ulang setiap sudutnya
menabur kembali kasih di setiap keloknya
barangkali juga kita perlu duduk berdua
mengurai kata pulang yang menyumbat telinga
membaca kedip lampu kota yang kerap gagal dicerna
banyak sepi yang mesti kita gusur
sebab kota ini gemar membujur dan enggan berkesiur
sementara hari-hari kita begitu terik. begitu pelik.
kota ini melahirkan kita,
tapi bebunga yang mekar dalam usia kita
adalah dari tanah yang jauh
2024
Penulis: S. Mandah Syakiroh
Editor: Adnyana Ole
[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...