Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
SETELAH persembahyangan di Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul, rombongan Toska melanjutkan perjalanan menuju Pura Geger Dalem Pemutih dan Pura Karang Boma di Wilayah Banjar Sawangan Desa Adat Peminge. Jarak tempuh dari Toska (SMA Negeri 2 Kuta Selatan) ke Pura Geger Dalem Pemutih sekitar 10 menit dengan berkendaraan jika tidak macet. Di Pura Geger Dalem Pemutih bertepatan dengan Hari Siwa Ratri, Soma Wage Dukut, 27 Januari 2025 adalah persis 42 hari setelah karya Ngenteg Linggih dilaksanakan. Saat rombongan Toska sampai di Madya Mandala yang asri Ratu Peranda sedang mapuja serangkaian upacara satu bulan pitung dina (42 hari) setelah ngenteg linggih. Kesempatan bagi rombongan Toska mategtegan mengatur napas sebagaimana layaknya pranayama untuk menenangkan diri, sambil menyiapkan sarana pamuspan.
Setelah berkoordinasi dengan Pemangku, persembahyangan Toska dimulai di Madya Mandala dengan pintu bebetelan tembus ke laut. Dalam benak saya terlintas bebetelan itu adalah pintu niskala yang menghubungkan sinyal laut lepas dan Pulau Nusa Penida. Sinyal laut lepas sebagai pertanda keterhubungan antara Dalem Segara (Hyang Baruna) dengan umat-Nya yang memuliakan laut ditandai dengan seringnya mulang pakelem di sekitar Pantai Geger demi hubungan harmonis sekala niskala. Sementara itu, Pulau Nusa Penida yang karakteristiknya mirip dengan wilayah geografi Gumi Delod Ceking seakan membangun komunikasi jarak jauh untuk saling menjaga dan saling terhubung antar penguasa di dua Kawasan itu.

Persembahyangan di Pura Geger Dalem Pemutih | Foto: Dok. Nyoman Tingkat
Di Madya Mandala Pura Geger Dalem Pemutih juga terdapat dua pohon, Pohon Sawa Kecik dan Pohon Kem. Oleh IB Agastya, dalam bukunya berjudul Segara Giri di bawah Pohon Sawa Kecik ini diperkirakan Dang Hyang Dwijendra menyurat karya sastra. Sementara itu, Pohon Kem sebagai pohon berduri yang langka dan biasanya berbuah pada musim hujan. Rasanya asam manis. Pohon Kem adalah tanaman khas di wilayah bukit yang dipercaya sebagai ramuan obat.
Jika di Madya Mandala terdapat Pohon Sawa Kecik dan Pohon Kem, di Utama Mandala Pura Geger Dalem Pemutih terdapat Pohon Juwet, tanaman khas Gumi Delod Ceking yang keberadaannya kian langka kini, seiring dengan beralih fungsinya lahan pertanian menjadi ladang pariwisata yang sangat rentan diserang isu dan membuat manusia peladangnya dagdigdug, tiadalah tenang kalau-kalau terjadi isu-isu miring pariwisata. Isu miring itu kini bisa datang dari sesama pengelola Kawasan dengan persaingan yang tidak sehat, yang seharusnya tidak perlu terjadi kalau Sapta Pesona diimani.
Terlepas dari risiko paceklik ladang pariwisata, secara ekolinguistik, Pohon Sawa Kecik, Kem, dan Juwet di area Pura Geger Dalem Pemutih dapat dibaca sebagai teks hidup yang berupaya melestarikan habitat tanaman yang kian langka dari hari ke hari. Oleh karena pohon itu berada di area Pura, pada akhirnya akan menjadi sakral sebagai mana Pohon Sawa Kecik yang dibusanai dengan kain poleng, identik dengan tugas Pecalang. Begitulah, Pura Geger Dalem Pemutih selain mengingatkan umat-Nya selalu terhubung ke atas dengan Sang Pencipta, juga mengingatkan untuk melestarikan tanaman sebagai kakek/nenek umat manusia sesuai dengan takdir penciptaan semesta. Mula-mula ada tumbuhan, lalu binatang, dan terakhir adalah manusia. Sangatlah rasional bila Tumpek Wariga tiba, mantra sesapa tetua Bali, “Kaki-kaki, dadong jumah, tiang mpanagarah buin selae dina Galungan, apang mabuah nged..nged…nged”. Sungguh pemuliaan buat Sang Tumbuh yang dijaga Dewa Sangkara.

Pura Dalem Karang Boma Sawangan Desa Adat Peminge | Foto: Dok. Nyoman Tingkat
Menarik pula di catat di Utama Mandala dengan Pelinggih Utama Gedong dan Meru Tumpang Tiga, Padmasana, Balai Sekaa Unen juga terdapat bak penampungan air hujan. Bak ini menjadi istimewa sekaligus penanda daerah yang berdanau di langit “madanu di langit” yang mengandalkan air hujan untuk memenuhi aneka kebutuhan. Seperti juga Pura Ratu Ayu Dalem Mumbul dengan Pura Taman sebagai taman bejinya, Pura Geger Dalem Pemutih juga memiliki Taman Beji sekitar 200 meter dari Kawasan Pura terletak di pantai yang kalau air laut pasang sumber kelebutan tidak tampak. Pemedek disarankan malukat pada saat Purnama atau Tilem sore hari ketika laut surut sehinga dapat Tirta dari air kelebutan yang segar dan sejuk membasuh jiwa raga. Sumber Air Kelebutan ini diperkirakan terhubung dengan Air Kelebutan di Pura Taman Mumbul, yang sama-sama disucikan sebagai tempat malukat.
Begitulah rombongan Toska mengakhiri persembahyangan di Pura Geger Dalem Pemutih setelah mendapatkan Tirta dan Bija dari Jro Mangku untuk selanjutnya menuju Pura Karang Boma yang jaraknya sekitar 1 km dengan waktu tempuh sekitar 5 menit. Sebelum meninggalkan Pura Geger Dalem Pemutih, tak lupa memainkan kamera mengambil gambar dari segala sisi dengan pemandangan yang indah, kombinasi laut dan gunung, penataan yang artistik dan dukungan kuliner yang menggoda untuk sekadar ngopi berteman ombak tenang menyaksikan peselancar bermain ombak, senang berayun. Sungguh paduan yang serasi antara segara-giri tak ubahnya cinta sejati ibu dan ayah. Penuh kasih sayang sebagaimana kamus Pendidikan dioperasionalkan.
Tiba di Pura Karang Boma sekitar pk 10.00 Wita, kami harus sabar menunggu Jro Mangku yang juga ikut prosesi di Pura Geger Dalem Pemutih serangkaian upacara 42 hari pasca Ngenteg Linggih. Di tengah gerimis tipis, kami menunggu kehadiran Jro Mangku. Tidak berselang lama, Jro Mangku Gunung dan Jro Mangku Kodir datang berdua berboncengan. Kami mengiringi dari belakang setelah pintu masuk candi bentar dibuka kuncinya. Mengiringi Jro Mangku memasuki Utama Mandala di kedalaman melewati Jaba Tengah dengan Balai Panjang tempat para pelawatan barong distanakan saat Pujawali yang jatuh setiap Tumpek Landep. Oleh karena itu, masyarakat setempat menyebut Pura Karang Boma adalah Pura Barong-Barong. Barong dari berbagai daerah di Denpasar ke Pura ini ngaturang ayah napak pertiwi selain juga barong dari Desa Adat Peminge yang dijaga dan dirawat taksu-nya oleh sekaa unen masing-masing.
Sebagai Pura yang bertetangga dengan Pura Geger Dalem Pemutih, Pura Karang Boma di Banjar Sawangan ini memiliki kesamaan. Adanya Sekaa Unen yang ngungsung dari segi seni budaya komunal. Selain itu, posisinya juga di tebing tepatnya di bangkiang ngampan pada posisi kedalaman. Lalu, di Utama Mandala terdapat tanaman langka yang tidak diketahui namanya oleh Jro Mangku Gunung. “Seorang pendeta dari Karangasem, menyebutnya Pohon Menanga”, kata Jro Mangku Gunung menjelaskan.
“Kok aneh, di tempat kering berbatu, Pohon Menanga tumbuh ? Biasanya tumbuh di daerah gunung dan banyak air”, kata Sang Pendeta sebagai mana ditirukan oleh Jro Mangku Gunung.

Pohon Menanga di depan Gedong Utama Pura Dalem Karang Boma | Foto: Dok. Nyoman Tingkat
Keajaiban Pura Karang Boma yang berada di posisi di kedalaman tak ubahnya masuk ke goa dalam diri menelusuri tubuh aksara sebagai sumber bacaan yang tak pernah habis-habisnya. Di bawah Pura Karang Boma juga ada tempat malukat yang biasa digunakan sebagai Taman Beji-nya. Mirip dengan Taman Beji di Pura Geger Dalem Pemutih. Jika pujawali di Pura Geger Dalem Pemutih berdasarkan perhitungan sasih, tepatnya Panglong apisan Purnama Kanem, maka pujawali di Pura Karang Boma berdasarkan perhitungan wuku, tepatnya pada Saniscara Kliwon Landep (Tumpek Landep).
Kini Pura Karang Boma diapit oleh villa milik investor di kanan kirinya. Jalan menuju Pura juga tampak hijau sebagai dampak pariwisata. Semoga tidak hanya sekadar menjadi taman mini dan tontonan gratis bagi wisatawan. Keberadaannya diharapkan saling mendukung dan hidup-menghidupi sebagaimana layaknya slogan SMA : Maju bersama hebat semua !
Begitulah perjalanan Toska di Pura Karang Boma diakhiri dengan nunas tirta dan bija sebagai lambang menerima waranugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kami berpamit sekaligus menyampaikan terima kasih kepada Jro Mangku Gunung dan Jro Mangku Kodir yang memberikan pelayanan kepada kami. Selanjutnya, Toska menuju Pura Gunung Payung sekitar 10 menit dari Pura Karang Boma Sawangan Desa Adat Peminge. Perjalanan ke Pura Gunung Payung disampaikan pada edisi selanjutnya. [T]
Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...