Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Judul: Saiban
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-06-8014-9
Cetakan Pertama: Oktober 2024
Tebal: 72 hlm.; 13.5 x 20 cm
"Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap" mungkin terasa asing bagi kita yang bukan umat Hindu atau tidak tinggal di Bali. Namun, bagi Oka Rusmini, saiban adalah denyut nadi tradisi yang mengalir dalam darahnya. Tradisi mebaten, memberikan sesaji, menjadi aktivitas sehari-hari masyarakat Bali. Persembahan ini dikenal sebagai banten saiban, sesaji kecil yang dipersembahkan setelah memasak.
Dalam pandangan Oka Rusmini, banten saiban lebih dari sekadar materi. Ia melambangkan rasa syukur karena hari ini ada sepiring nasi untuk melanjutkan hidup. Dengan pemaknaan ini, "Saiban" menjadi judul tepat bagi dua puluh sembilan puisi dalam kumpulan ini. Judul ini mengingatkannya pada ibunya, sosok yang selalu memasak untuk keluarga.
Bagi Oka Rusmini, "Saiban" menyimpan makna mendalam. Bukan hanya sekedar sesaji, tetapi memiliki filosofi yang luas. Ia tidak hanya mencerminkan rasa syukur karena telah mengandung anak-anaknya, tetapi juga melahirkan karya-karya dari rahim pikirannya. Karya-karya tersebut meliputi: “Monolog Pohon,” “Kenanga” (dulu bernama Gurat-Gurat), “Tarian Bumi,” “Sagra,” “Patiwangi” (kemudian berubah nama menjadi Warna Kita), “Pandora,” “Tempurung,” “Akar Pule,” dan “Saiban”. Kumpulan puisi "Saiban," yang meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, ditulis antara tahun 2008 hingga 2014. Buku ini dicetak kembali Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada bulan Oktober 2024.

Puisi-puisi dalam "Saiban" berbicara tentang cinta dan kehidupan yang berdenyut. Salah satu puisinya, puisi yang keenam membahas cinta dengan kedalaman emosional. Oka Rusmini menggunakan kafe sebagai latar untuk menceritakan peristiwa akrab di sekitar kita—kerinduan dan kenangan. Kenangan adalah memori yang mengingatkan kita pada peristiwa masa lalu dan dapat direkonstruksi kembali.
Melalui kafe dan elemen-elemen seperti segelas wine atau sepiring roti, ia merekonstruksi peristiwa dalam puisinya. Kerinduan menyimpan perasaan rindu serta latar belakangnya dalam rekaman kenangan. Kenangan sering kali disimpan, meski ada keinginan untuk mengungkapkannya kembali.
Keterungkapannya beragam; salah satu cara mengungkapkan adalah tanpa kata—cukup melalui perasaan. Puisi Oka Rusmini berhasil membangun narasi kerinduan tanpa perlu diucapkan. Perasaan memiliki daya ungkap lebih kuat daripada kata-kata. Misalnya, melalui citraan "matamu yang biru, laut, dan ombak," puisi ini menggambarkan kerinduan melalui pandangan seseorang.
Namun, kenangan kadang membuat perasaan hampa—"mungkin mendekati layu." Ketidakhadiran seseorang yang dirindukan menciptakan kekosongan. Suasana tak sepenuhnya dinikmati terlihat saat "aku tak ingin memakannya," meskipun telah "kupesan secangkir kopi." Peralatan makan hadir sebagai kamuflase kenikmatan, tetapi semua itu sia-sia tanpa kehadiran orang tercinta.
Di dalam kesunyian "hanya diam memandangmu," bayangan rindu tak berkesudahan terus diciptakan. Begitu detailnya perangkap rindu memerangkap perasaan. Larik "harum susu dan keju tubuhmu menyentuh kulitku" membangkitkan perasaan lekat.
Saat perasaan tak menentu muncul, gelombang rindu mengguncang—"kurasakan ombak menerpa tubuhku." Tanda-tanda mulai menyampaikan pesan—"kau mulai menatapku," "aku gemetar," dan "tak ada senyuman." Pertanyaan simbolik seperti "kau sulut rokok" dan "sore itu kau tak meneguk minumanmu" terus mencari jawaban.
Jika pertanyaan simbolik tak menemukan jawaban, pertanyaan reflektif bisa menjadi alternatif—tentang kehadiran atau ketidakhadiran seseorang. Seorang lelaki tanpa nama telah memasuki kebun hatinya; ia memetik jantung dan memanah hatinya—membuatnya jatuh cinta.
Mungkin ini adalah buah rindu yang telah diperam sebelumnya. Kadang segala usaha dilakukan untuk menolak kebenaran perasaan; dengan tidak memberikan ruang bagi pengakuan rindu atau cinta di hati. Ini adalah penolakan bersifat kamuflase.
Meskipun dengan kesadaran penuh—"aku telah melumuri tubuhku dengan pandan berduri," kerinduan tetap menemukan jalannya untuk terwujud. Cinta semakin nyata dalam bayangan rindu yang berusaha dilenyapkan.
Oka Rusmini piawai mendramatisir ungkapan cinta dan kerinduan. Larik "di kafe ini aku serasa menunggumu" dan "berharap cairan putih itu membunuhmu" menciptakan ambiguitas perasaan—rindu yang harus dipertahankan atau dilenyapkan. Sebuah reaksi perasaan yang paling esensial.
Jika rindu harus dilenyapkan, puncaknya adalah merelakannya—hilang bahkan dalam kenangan sekalipun. Namun kehilangan kadang juga menemukan kembali rekaman-rekaman perasaan yang tak sepenuhnya kita lenyapkan.
Dengan "kucoba mencari namamu" dan "meluncur di jalan Google," kerinduan berusaha dimunculkan kembali; berharap menemukan harapan yang mungkin tersangkut di sudut jalan atau kehilangan nama baru yang tak pernah dibisikkan.
Kehampaan mungkin mewakili perasaan tak kunjung menemukan harapan—"kurasakan hawa dingin menyergap tengkukku." “Kesepian terus mencongkel tubuhku;” harapan hanyalah ilusi membaringkan perasaan.
Ilusi bergerak eksploratif menstimulasi perasaan bawah sadar; “seorang pelayan tersenyum menatapku tajam,” “kulihat matamu menjelma di matanya.” Kehadiran semu tiba-tiba muncul—"tapi aku tak ingin menghindar."
Kerinduan menyesakkan; tidak ada penantian tanpa ujung—penantian adalah ruang tunggu kerinduan. Kerinduan tak terucap dan tak terungkap—"berharap kau mengirim sebaris huruf."
Kerinduan dalam puisi ini mewakili epilog Oka Rusmini dalam buku "Saiban." Seperti anak lahir dari rahim jasmani, anak-anak rohaninya terlahir dari rahim pikirannya dengan rasa sakit luar biasa. "Saiban" baginya adalah upacara persembahan bagi semua pembaca yang masih berada di ruang tunggu kerinduan. [T]
Penulis: Chris Triwarseno
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...