Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
UNTUK merayakan bahasa lokal, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali akan kembali menggelar Bulan Bahasa Bali seulan penuh mulai 1 Feruari hingga 28 Februari 2025 di Taman Budaya Provinsi Bali.
Bulan Bahasa Bali (BBB) kini memasuki tahun ke 7. Di tahun ini, dengan tema “Jagat Kerthi – Hita Samasta”. Ada beberapa mata lomba yang akan digelar se-Bali dengan menggunakan bahasa Bali, dan tetunya serba-serbi budaya Bali.
Pertama ada lomba Nyurat Lontar (SMP), Ngwacen Lontar (SMA/SMK), Ngwacen Lontar (SMA/SMK), Nyurat Aksara Bali (SD), Masatua Krama Istri (Pakis Bali), dan Sambrama Wacana (Prajuru Adat).
Acara itu didesain untuk merayakan bahasa Bali sebagai bahasa lokal: yang ditipkan leluhur. Sehingga tujuan utamanya adalah perlindungan dan penggunaan bahasa aksara, dan sastra Bali secara nyata.
Perkembangan zaman yang semakin cepat, pertukaran budaya—tidak bisa dihindari terjaninya perubahan di berbagai hal, terutama tentang bahasa. Agar bahasa lokal tak punah dan terus lestari, terutama kepada anak-anak muda. BBB 2025 memasukkan konten lomba secara lebih kontemporer untuk menjangkau mereka lebih dekat.
“Kita sudah didasari beberapa evaluasi-evaluasi, yaitu tentang penyelenggaraannya akan lebih banyak melibatkan generasi muda, konten-konten yang digelar di Bulan Bahasa Bali itu, akan lebih banyak konten-konten yang bertautan dengan dunia media sosial dan dunia-dunia digital agar anak-anak kita menarik untuk mengikuti Bulan Bahasa Bali,” kata Kadis Kebudayaan Provinsi Bali Prof. Dr I Gede Arya Sugiartha saat rapat pleno penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali ke-7 di ruang rapat Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Kamis 23 Januari 2025.
Lomba itu antara lain lomba poster berbahasa Bali, ada juga lomba drama modern berbahasa Bali. Sehingga pada BBB 2025 di tahun ini akan lebih semarak meriah. Datanglah nanti.
Tak hanya bahasa Bali lebih banyak akan ditampilkan, tetapi juga budaya-budaya Bali itu sendiri. Di bawah Gedung Ksiranawa, Reka Aksara (pameran), meliputi pameran produk kreatif berbasis Bahasa, Aksara dan Sastra Bali, yang bernilai ekonomis akan diisi oleh lembaga pendidikan, komunitas, UMKM dan industri digital kreatif.
Buku-buku beberbahasa Bali, seperti sastra akan dipamerkan di sana oleh Majalah Suara Saking Bali dan Komunitas Mahima. Tak hanya itu, diskusi kecil di antara space mereka akan digelar terkait sastra dan pembacaan puisi berbahasa Bali.
Beberapa stand, atau space—ramah anak tersebut sengaja didesain sebagaimana akan menyasar generasi muda itu sendiri. Tampilan dan konsep yang sehat, BBB tahun ini akan lebih diperhatikan, tentu, sebelumnya juga demikian.
Perayaan ini dirancang secara akrab, sehingga bahasa Bali akan terasa sangat dekat sekali dengan diri kita, bahkan seharusnya memang berada dalam diri kita.
Apalagi para pengunjung bisa belajar musik tradisional, aksara Bali, permainan tradisional, membuat permen tradisional.
Mengenal bumbu dan loloh tradisional, dan masih banyak lagi. “Jadi selain datang terhibur, tetapi juga mendapatkan edukasi,” jelas Arya Sugiartha..
Sementara untuk memastikan Bali—tetap bersih, di sana, dipastikan tak ada sampah plastik yang menggumpluk atau tercecer secara tak sadar datang dari pengunjung. Para panitia akan menghimbau secara dekat untuk mereka memastikan dirinya tak membawa barang bawaan berbahan pelastik, apalagi membuangnya sembarang. Keindahan Bahasa, mencerminkan prilaku yang baik.
“Di dalam penyelenggarannya ini kan menghadirkan orang banyak, kemudian kita juga tetap mendukung upaya-upaya penimbunan pelastik. Nanti himbauan kita, segala bentuk konsumsi agar lebih menghindari sampah plastik. Sedikipun tidak akan boleh. Minuman atau makanan, atau jajan-jajan, tidak boleh menggunakan sampah plastik sekali pakai,” kata Arya Sugiartha.[T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...